KH Ma’ruf Amin: Pemahaman Islam Wasathiyah Tidak Tekstual dan Tidak Liberal

Wakil Presiden, Ma'ruf Amin

Indonesiainside.id, Jakarta – Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin mengatakan bahwa  pemahaman terhadap Al-Quran dan ajaran agama Islam seharusnya dapat mengambil posisi jalan tengah. Misanya, di antara teks dan konteks, idealisme dan kenyataan, orientasi keagamaan dan kebangsaan, serta kepentingan individual dan kemaslahatan umat.

“Pemahaman Islam wasathiyah adalah yang tidak tekstual dan tidak pula liberal, tidak berlebihan tetapi juga tidak gegabah, dan tidak pula memperberat tetapi juga tidak mempermudah,” kata Ma’ruf Amin saat menutup MTQ Nasional XXVIII secara virtual dari Jakarta, Jumat malam (20/11).

Menurut dia, pemahaman Al-Quran secara tekstual, yang hanya memahami teks-teks Al-Quran dan Hadits tanpa penafsiran, akan menghasilkan pemahaman statis karena pemahaman tersebut tanpa disertai maksud utama dalam teks itu.

“Bahkan pemahaman pada teks-teks tertentu, secara literal, itu bisa menyesatkan, seperti ayat-ayat terkait dengan jihad,” ujarnya.

Dia mengatakan, kitab suci Al-Quran tidak cukup hanya dipahami secara harfiah atau tekstual, melainkan harus ditafsirkan bersama dengan ilmu-ilmu lain untuk dapat diamalkan bagi keberlangsungan kerukunan hidup masyarakat.

Beberapa ilmu yang dapat digunakan untuk memahami Al Quran antara lain Bahasa Arab, termasuk nahwu dan sharaf, ilmu tafsir, ilmu qiraat, ilmu rasmil Quran, ilmu ijazul Quran, ilmu asbabun nuzul. “Bahkan, pada saat ini kita perlu juga menjadikan ilmu sosial, ilmu alam dan humaniora sebagai ilmu bantu dalam memahami ayat-ayat Al Quran. Dengan demikian, kita memahami Al Quran tidak hanya secara harfiah tanpa mengerti konteks ayat dan konteks sosial yang menjadi latar belakang turunnya ayat,” katanya.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here