JAKARTA – Indonesia menjadi sebuah bangsa yang beragama Islam dengan proses damai. Tidak ada peperangan. Islam masuk pada abad ke-13 atau ke-14 dengan membawa konten syariah. Pada era ini, umat Islam mulai menjalankan perintah agama yang terkandung dalam rukun Islam.
“Abad ke-15 sampai ke-19, para ulama banyak belajar ke Masjidil Haram. di situ mereka belajar tasawuf, ilmu kalam, ilmu filsafat. Berarti ketika Islam datang ke negara-negara ketika sudah beragama lain, Islam sudah punya terminology yang universal,” ujar Direktur Utama Insists Prof Hamid Fahmy Zarkasyi pada pidato Agenda Akhir Tahun INSISTS 2022 dengan tema Worldview Islam and Weltanschauung Bangsa: Intrusi, Komplementasi, dan Kolaborasi, Ahad (25/12/2022).
Menurut Rektor Universitas Darussalam (Unida) Gontor ini, konsep Islam itulah yang dibawa para ulama ke tengah-tengah masyarakat Nusantara seperti Hindu dan Budha. Dari situ muncul kata-kata yang tidak pernah terbayangkan oleh Bangsa Melayu, yakni konsep Tuhan dengan menggunakan istilah wujud.
Kata wujud merupakan cara seseorang menggambarkan bahwa Tuhan itu ada, tapi dia tidak bisa disaksikan secara empiris. Konsep ini tidak ada di dalam agama lain pada waktu itu. Tuhan ada tapi tidak bisa dipersepsi oleh pancaindera.
“Kata wujud itu menjelma menjadi sebuah konsep baru, yang orang kemudian mulai memahami. Abad ke-15 sampai abad ke-18, bangsa ini sedang dirasuki oleh worldview Islam, dengan berbagai macam konsep,” ujar Prof Hamid.
Dia mencontohkan konsep yang sudah berkembang sebelum Islam datang ke Nusantara. Orang Jawa dulu cuma mengenal hari ada dua yaitu siang dan malam. Islam datang mengubah konsep itu. Awal dan mulai bekerja adalah subuh, istirahat dari kerja adalah zhuhur, berhenti dari bekerja adalah ashar, pulang dari bekerja adalah maghrib, dan istirahat adalah isya.
“Jadi, shalat lima waktu itu adalah ritme kehidupan. Itu salah satu cara Islam mengislam kehidupan bangsa Melayu,” ungkap Prof Hamid.
Islam datang dengan membawa ilmu, iman, dan amal (kalam, filsafat, dan tasawuf) merevolusi pandangan hidup bangsa Melayu. Orang Melayu yang dulu percaya animism berubah menjadi rasional dengan menyembah Tuhan yang Mahaesa.
“Konsep ini yang diterapkan pada bangsa Melayu, sehingga bangsa Melayu merevolusi cara pandangnya,” kata Prof Hamid.
Bukti nyata dari revolusi cara pandang itu adalah penggunaan istilah-istilah baru dalam bahasa Melayu. Sebuah istilah yang dulu dalam bahasa Melayu tidak konseptual menjadi bahasa Arab yang konseptual. Seperti kata wujud adil, adab, majelis, rakyat, musyawarah, dan lain sebagainya.
Ada ribuan kosakata bahasa Arab diserap ke dalam bahasa Melayu. Setiap kata mewakili satu konsep yang berasal dari worldview Islam. Ini proses islamisasi bangsa Melayu. Sekian banyak konsep inilah yang masuk ke dalam khazanah bahasa Melayu.
“Jadi, ketika bumi Indonesia digali, muncullah Pancasila yang dilahirkan Pantia Sembilan yang mayoritas beragama Islam. Soekarno adalah penemu nama Pancasila, tapi panitia Sembilan yang diisi mayoritas umat Islam adalah perumus Pancasila,” ujar Prof Hamid.
Itu pula yang mengilhami sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sila pokok dalam Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa dalam sila pertama adalah sila yang mewarnai seluruh sila-sila yang lain.
“Sehingga itu menjadi konseptual network, sehingga ketika bicara persatuan dia harus mengkaitkan dengan ketuhanan, ketika berbicara dengan adil dan beradab harus dikaitkan dengan konsep ketuhanan. Kata musyawarah pun harus dikaitkan dengan ketuhanan,” ujar Prof Hamid.
Dia kemudian memaparkan tentang Pancasila. Menurut dia, Pancasila jika dilihat dalam perspektif worldview Islam (ilmu, iman dan amal), mempunyai dua aspek saja yakni iman dan amal. Ketuhanan Yang Maha Esa bagian dari amanah yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Kemanusiaa, persatuan, musyawarah, keadilan sosial itu adalah amal-amal shaleh yang harus dikerjakan oleh orang beriman.
“Makanya, ilmunya di mana? Ini masalahnya. Iman terus beramal. Tidak ada masalah sebenarnya. Orang beriman asal konsisten dengan keimanannya dia akan beramal dengan baik. jadi, orang beriman itu pasti beramal,” katanya.
Dia mengatakan, kandungan Pancasila sangat kental dengan pandangan dan konsep Islam. Pancasila merupakan istilah yang dicetuskan oleh Ir Soekarno, tapi dirumuskan oleh panitia sembilan yang mayoritas umat Islam.
“Pancasila itu juga berevolusi. Dia sebuah ide yang berkembang. Nama itu ditemukan oleh Seokarno, tapi konten dari Pancasila bukan Soekarno yang menemukan,” kata Prof Hamid.
Tokoh-tokoh bangsa seperti Bung Karno dan Moh. Yamin memiliki sila yang diusulkan untuk menjadi dasar negara. Namun, lima sila Pancasila yang dikenal hari ini hasil dari musyawarah dan disepakati para pendiri bangsa.
“Bung Karno juga mencetuskan Pancasila. Apa yang diklaim oleh Soekarno, aku menggali dalam ingatanku, menggali dalam ciptaku, menggali dalam hayalku, apa yang terpendam di dalam bumi Indonesia,” ucap Prof Hamid.
Menggali artinya Bung Karno mencari apa-apa yang menjadi khazanah pemikiran bangsa Indonesia. Bumi Indonesia itu berisi pandangan Islam. Meski dalam perjalanan sejarah, bumi Indonesia ada bekas animisme, Hindu-Budha, dan penjajah. “Tetapi, mayoritas bangsa Indonesia sudah Islam. jadi, kalau kita apa digali oleh Soekarno?” kata Prof Hamid. (Aza)