FFD Berakhir Tanpa Pemenang Untuk Kategori Film Dokumenter Pendek

Perhelatan tahunan Festival Film Dokumenter (FFD) tahun 2018 resmi berakhir 12 Desember 2018 kemarin.  Malam penganugerahan dan penutupan menjadi rangkaian akhir gelaran FFD, di Gedung Societet Taman Budaya Yogykarta..

Indonesiainside.id, Yogyakarta — Selama delapan hari perhelatan FFD, 94 film telah diputar dalam 19 program. Selain itu juga digelar diskusi, peluncuran  program baru, lokakarya kritik film hingga pameran dan ekshibisi di dua lokasi, yaitu Taman Budaya Yogyakarta dan IFI – LIP Yogyakarta.

“Keberadaan festival sebagai ruang dialog dan titik temu berbagai wacana dan perspektif tidak akan jadi tanpa antusiasme banyak pihak,” kata Ukky Satya Nugrahaini, Direktur FFD 2018.  Pihaknya akan terus melakukan evaluasi baik secara penyelenggaraan maupun organisasional dan setiap program yang diadakan tahun ini maupun selanjutnya.

“Selama 16 tahun ini, acara FFD tidak hentinya menawarkan program bermutu untuk umum,  dengan cara yang tematik dan beragam,  sehingga memberikan kesempatan yang lebih luas dalam penciptaan dokumentasi”, ujarnya.

Pada kesempatan ini, AsiaDoc juga turut memberikan penghargaan Akatara Award. AsiaDoc sendiri merupakan kegiatan dari Forum Film Dokumenter, sebagai media pengembangan naskah dokumenter bagi filmmaker Asia. Dari 12 peserta, penghargaan diberikan kepada naskah film The Ant vs. the Elephant, karya Linda Nursanti, peserta asal Indonesia.

Tahun ini FFD menerima 118 film kategori panjang internasional, 100 film kategori pendek, dan 23 film kategori pelajar. Pemenang Kategori Pelajar diraih oleh film berjudul Tarian Kehidupan (2018) karya Naira Capah dan Fauzan Syam Adiya. FIlm ini  dipilih karena berhasil merespon isu yang dekat dengan pelajar itu sendiri dengan pengemasan yang eksploratif dan menarik.

Tahun ini, tidak ada pemenang dalam kategori Dokumenter Pendek. Namun juri memberikan penghargaan lainnya berupa Special Mention Jury Awards kepada film The Nameless Boy (2017) karya Diego Batara.

Sementara kategori film panjang internasional terbaik diraih oleh film asal Filipina In The Claws Of Century Wanting (2017) karya Jewel Maranan. Film ini menangkap realitas dari masyarakat yang hidup dalam keberanian walau hidup terasing dari akses mata pencaharian mereka.

(INI-Network)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here