Kisah Soeharto dan Gelar Adatnya di Tanah Torajaso

Dalam kujungannya ke Tanah Toraja (Tator) Presiden Soeharto menerima gelar: “Kambulu Katayungana Matariallo Taddunga Malelena Sang Torayah”. Suatu gelar adat tertinggi di Tana Toraja yang berarti pemimpin, pembimbingan, dan pelindung rakyat bumi dan adat Tana Toraja.

Indonesiainside.id, Makassar – Pada tahun 1977 Presiden Soeharto mendapatkan gelar adat di Tana Toraja pada saat pertama kalinya Presiden RI ke-2 tersebut menginjakkan kakinya di Tana Toraja Sulawesi Selatan. Gelar adat tersebut didapatkan Presiden RI kedua dari hasil keputusan DPRD Dati II Tana Toraja, dan di serahkan dalam suatu upacara adat yang meriah di hadapan para pemangku adat dan tokoh masyarakat.

Dikutip dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 599-600, pada saat itu Presiden dan rombongan melakukan perjalanan ke Tana Toraja.

Pesawat helicopter yang membawa Presiden dan rombongan mendarat di Enrekang, Kabupaten Tetangga dan dari sana Presiden dan rombongan dengan mobil menuju Makale, Ibukota Kabupaten Tana Toraja yang jaraknya 74 Km.

Di Makale Kamis malam Presiden menerima gelar: “Kambulu Katayungana Matariallo Taddunga Malelena Sang Torayah”.

Suatu gelar adat tertinggi di Tana Toraja yang berarti pemimpin, pembimbingan, dan pelindung rakyat bumi dan adat Tana Toraja.

Pemberian gelar itu berdasarkan keputusan DPRD Dati II Tana Toraja, dan diserahkan dalam suatu upacara adat yang meriah dihadapan para pemangku adat, pemuka2 masyarakat dan rakyat yang memenuhi halaman kantor Pemda Kabupaten Tana Toraja.

Ketua pemangku2 adat didampingi kepala2 adat mengikatkan pedang perang di pinggang pak Harto dalam upacara yang disebut “Patacini” yang dilanjutkan dengan taburan kembang yang disebut “Dipasakei”.

Malam upacara itu diramaikan dengan pertunjukan kesenian Tana Toraja. Dalam kunjungan ke Tana Toraja ini, Presiden beserta Ny. Tien dan rombongan akan menyaksikan pusat pariwisata dan obyek, seperti perkampungan tua tradisionil, kuburan di gua gua dan sebagainya.

Sebelumnya, Presiden Soeharto ke Toraja. Presiden meyempatkan diri mengunjung daerah transmigrasi di Sukamaju.

Sukamaju, Kabupaten Luwu (Sulsel), Presiden Soeharto mengatakan jika kita terlambat melaksanakan transmigrasi berarti bencana bagi rakyat Indonesia, terutama yang berada di Pulau Jawa.

Presiden mengatakan, pulau Jawa yang paling kecil diantara lima pulau besar di Indonesia berjubel oleh penduduk yang meliputi 65 persen dari rakyat Indonesia yang berjumlah 135 juta. Ini sudah sangat padat.

Presiden mengemukakan hal itu ketika berada di tengah tengah rakyat di desa transmigrasi Sukamaju, dalam rangkaian acara kunjungan kerja di daerah Sulsel.

Presiden mengatakan, di pulau-pulau besar lainnya yaitu Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya penduduknya masih jarang. Ini berarti kita tidak berterima kasih akan rakhmat Tuhan yang disebarkannya merata di seluruh Indonesia.

Kekayaan alam itu harus diolah untuk meningkatkan kemakmuran bangsa, tapi karena di pulau2 lainnya itu kekurangan tenaga kerja, maka kekayaan alam itu tak dapat kita olah dan kita manfaatkan.

Oleh karena itu perlu diadakan transmigrasi supaya kekayaan alam itu bermanfaat bagi bangsa Indonesia seluruhnya, baik yang datang maupun yang menetap di sana.

Presiden mengemukakan bahwa biaya transmigrasi bukan kecil. Rata2 biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk setiap KK. berkisar Rp. 800.000 dan jika dihitung biaya lainnya seperti sarana2 dan sebagainya mencapai satu juta  rupiah. Kepada para transmigran Presiden berseru agar bekerja sebaik2nya supaya biaya yang dikeluarkan itu memberikan hasil yang sepadan bagi kepentingan mereka juga.

Presiden beserta nyonya Tien Soeharto dan rombongan tiba di desa transmigrasi Sukamaju di kecamatan Bone-Bone itu dengan dua helikopter dari Soroako setelah meresmikan pabrik pengolahan nikel Inco.

Ketika turun dari helikopter, Presiden dikalungi bunga oleh Leila Aziza (14 tahun) dan Nyonya Tien Soeharto menerima karangan bunga dari Amran (12 tahun), masing2 puteri dan putera Bupati KDH Kabupaten Luwu Drs. Samad Suhaib.

Di desa transmigrasi Sukamaju Presiden dan rombongan telah mengadakan peninjauan keliling diperkebunan cengkeh yang diusahakan oleh transmigran.

Presiden berdialog dengan para petani, dengan cara khas Pak Harto, santai, humor dan ramah.

(Risman/INI-Network)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here