Tsunami Banten 1883, Amuk Krakatau di Selat Sunda

Llitografi letusan Krakatau 1883. Foto: Wikipedia

Segala tertutup dalam kegelapan yang menakutkan. Selagi kita bingung dan tidak tahu mesti pergi ke mana, mendadak kedengaran suara gemuruhnya ombak.

Indonesiainside.id, Jakarta — Tsunami menggulung kawasan Selat Sunda pada Sabtu (22/12) malam. Sedikitnya, 200-an jiwa meninggal menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai Ahad (23/12) malam.

Kepala Pusat Penerangan BNPB Sutopo Purwo Nugroho, mengutip Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mengungkapkan kemungkinan tsunami terjadi akibat longsor bawah laut karena pengaruh dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

Selat Sunda memang punya sejarah bencana yang amat menakutkan. Pada Agustus 1883, Gunung Krakatau yang terletak di selat itu mengamuk maha dahsyat, menciptakan gelombang tsunami setinggi 30 meter.

Tsunami yang kelak menggulung kehidupan dan harta benda sepanjang pantai Lampung Selatan dan Jawa Barat. Menelan 36 ribu korban jiwa. Erupsi Krakatau dimulai pada 26 Agustus dan mulai klimaks di hariberikutnya.

Romi Zarman, “Letusan Krakatau 1883 dan Korban-korbannya di Desa Nelayan Karangantu Banten: Kesaksian Ong Leng Yauw” dalam jurnal Wacana Etnik No. 1, vol. 4, April 2013 menuliskan, salah seorang yang selamat dari letusan Krakatau 1883 menceritakan, gelagat aneh gunung itu mulai terlihat sekitar tiga bulan sebelumnya.

Adalah seorang Tionghoa bernama Ong Leng Yauw, yang lahir dan besar di Desa Nelayan Karangantu Banten mengatakan, “Suara glederan dari Krakatau sudah terdengar kira-kira tiga bulan lamanya, tapi itu ketika tidak ada yang tahu darimana datangnya itu suara.”

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here