Krakatau, Pesona Yang Penuh Risiko

Foto udara letusan gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Minggu (23/12). Foto: Antara

Banyak turis asing tertarik dengan cerita Krakatau. Kisah pun dimulai dari Tanjung Lesung sebagai The Gate of Krakatau

Indonesiainside.id, Jakarta — Ketua Tidar Heritage Foundation (THF) Komarudin Hidayat mengatakan, negara yang hidup di kawasan cincin api memang penuh risiko Namun demikian, gunung-gung berapi juga bisa jadi daya tarik tersendiri, khususnya bagi wisatawan mancangera.

“Ini sebuah risiko kita hidup di ring of fire, sekaligus menjadi daya tarik. Salah satuny jadi daya tarik turis asing,” katanya di Menara Batavia, Jakarta Pusat, Senin (24/12).

Menurut dia, bencana tsunami yang terjadi saat ini merupakan watak alam yang normal. “Kalau gunung berapi mengeluarkan api, lautan bergelombang memang wataknya. Hanya saja mungkin kita belum familiar atau berada tempat yang salah,” tuturnya.

Indonesia, kata Komarudin, bisa berkaca dari Jepang bagaimana menghadapi bencana. Sama seperti Indonesia, negara Matahari Terbit itu juga berada di kawasan cincin api Pasifik. Tetapi, dengan memanfaatkan teknologi, Jepang bisa bersahabat dengan alamnya.

“Bagaimana kita bisa berdialog dengan alam. Berbagai tempat di Tanjung Lesung bjsa dikembangkan dengan tindakan preventif pakai teknologi,” tuturnya. Tanjung Lesung merupakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata pertama yang diresmikan pada Februari 2015.

“Banyak turis asing tertarik dengan cerita Krakatau. Tanjung Lesung sering disebut sebagai The Gate of Krakatau. Makanya banyak orang ke sana. Tapi risikonya ya itu, Krakatau batuk,” imbuh Komarudin.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here