Zaman Pak Harto Pabrik Gula Lancar, Petani Tebu pun Makmur

Foto: Presiden Soeharto ketika meresmikan pabrik gula Cot Girek di pedalaman Aceh Utara, Mei 1970. (historia.id)

Pabrik gula tidak pernah kesulitan bahan baku, sedangkan para petani tebu tidak bingung menjual hasil panennya.

Indonesiainside.id, Surabaya –– Indonesia memiliki banyak sekali pabrik gula (PG) yang tersebar di berbagai daerah. Mulai dibangun sejak tahun 1920-an, pabrik-pabrik itu pada suatu masa pernah menghasilkan total produksi gula 3 juta ton per tahun. Ketika itu sinergi antara PB dan petani tebu berjalan sangat bagus.

Sehingga, tidak ada cerita PG kekurangan bahan baku tebu, atau petani tebu yang kesulitan menjual hasil panennya. Kondisi sekarang berbalik seratus delapan puluh derajat. Produksi PG pelan-pelan anjlok sehingga tidak sedikit yang harus ditutup. Di sisi lain, petani tebu kesulitan menjual hasil panennya sehingga mulai beralih ke komoditas lain.

Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Sumitro Samadikun pernah mengatakan, di masa penjajahan Belanda setidaknya terdapat 179 PG yang banyak tersebar di Pulau Jawa. Namun seiring berjalannya waktu, PG-PG itu gulung tikar. Salah satunya karena petani yang menanam tebu semakin menurun.

Mantan anggota Komisi E DPRD Jatim Ali Saiboo mengungkapkan kebijakan pemerintah sangat mempengaruhi produksi PG. Menurutnya, di era kepemimpinan Soeharto, PG bisa terjamin produksinya karena stok tebu yang akan digiling aman. “Dulu petani tebu akan menjual hasil panennya ke PG terdekat, sehingga PG dapat terus produksi,” katanya, Senin (24/12).

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here