Bagaiman Memprediksi Bencana?: Gempa Vs Tsunami (1)

gempa bumi
Ilustrasi. Foto: Istimewa

Diperlukan peta jalan riset kegempaan yang bisa meminimalisir dampak bencana

Indonesiainside.id, Jakarta — Kawasan pesisir Banten dan Lampung Selatan porak poranda setelah tsunami dari Selat Sunda menerjang kawasan itu pada Sabtu (22/12) malam. Otoritas kebencanaan merilis kabar bahwa gelombang dipicu aktivits vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Sayangnya, sejauh saat ini, sistem peringatan dini tsunami akibat aktivitas vulkanik belum ada pendeteksinya. Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono kepada Indonesiainside.id mengatakan, peringatan dini gelombang tsunami bisa disuarakan kalau penyebabnya gempa tektonik.

Gempa tektonik adalah gempa yang umum terjadi. Gempa ini dipicu pematahan batuan akibat benturan dua lempeng secara perlahan-lahan dan terus menerus. Benturan itu mengakumulasi energi antar lempeng batuan dalam perut bumi.

“Tsunami bisa dikeluarkan peringatan dininya tapi masih penyebabnya gempa tektonik,” ujar Daryono saat dihubungi Indonesiainside.id, Rabu (26/12). Tapi, sayangnya lagi, kemunculan gempa itu sendiri juga belum bisa diprediksi secara akurat.

Hampir semua peneliti bersepakat bahwa waktu terjadinya gempa, titik pusat dan besaran kekuatannya tidak dapat diprediksi secara tepat, termasuk pakar-pakar gempa. Sifat alam ini tidak dapat dicegah, sangat mendadak dan mengejutkan.

Penelitian ke arah sana terus dilakukan. Bagaimana menghasilkan alat deteksi gempa mencapai tingkat akurat. Meskipun banyak riset selama ini belum mencapai hasil yang diharapkan.
Bahkan beberapa ilmuwan terkaitpun masih berdebat sengit mengenai apakah kejadian gempa bumi sebenarnya dapat diprediksi atau tidak (Geller dkk., 1997; Kagan, 1997)

Prof. Dr. Sri Widiyantoro, Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia dalam makalahnya berjudul “Tomografi Gempa Bumi dan Mitigasi Bencana”, November 2012 menuliskan, ke depan, diperlukan peta jalan riset kegempaan yang bisa meminimalisir dampak bencana.

Arief Mustofa Nur, “Gempa Bumi, Tsunami dan Mitigasinya” dalam Jurnal Geologi No.1, Volume 7, Januari 2010 menyebutkan, setiap tahun 500.000 gempa terdeteksi di dunia. Sebanyak 100.000 di antaranya dapat dirasakan, dan 100 di antaranya membuat kerusakan.

Dia menjelaskan, setidaknya ada dua teknik yang bisa digunakan dalam memperkirakan gempa bumi. Pertama, Short-range prediction (prediksi waktu pendek). Yakni dengan memprediksi jangka waktu antara fore shock dan main shock atau major shock atau major earthquake.

Dari pengalaman sejarah gempa bumi di Jepang, Amerika, China dan Rusia waktu ini bervariasi, ada yang 24 jam, ada yang lebih dari 1 bulan. Kenyataannya banyak yang tidak berhasil.

Kedua, yakni dengan metode Long-range prediction (prediksi waktu panjang) Prediksi ini membutuhkan waktu yang relatif lama dan meliputi; Mempelajari interval bencana gempa besar pada waktu yang lalu (siklus).

“Ternyata siklus ini tidak tepat sama seperti Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI atau ulang tahun seseorang yang sudah jelas saatnya,” tulisnya.

Senada dengan Arief, Prof Sri Widiyantoro menyatakan, pendekatan semacam itu meski diperlukan namun jelas tidak memadai untuk memprediksi fenomena gempa bumi yang kompleks.

“Pendekatan lain seperti studi struktur seismik (tomografi), GPS, dan SES (seismo-electric signal) akhir-akhir ini sudah mulai dikaji tetapi masih secara parsial,” kata Prof Sri.

(Suandri Ansah)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here