Prediksi Tsunami Selat Sunda dalam Berbagai Penelitian (2)

ANTARA FOTO/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat/pras.

Adanya kesenjangan gempa di sekitar Selat Sunda dapat mengakumulasikan tegasan yang menyimpan energy yang memicu tsunami

Indonesiainside.id, Jakarta — Kepala Pusat Penerangan BNPB Sutopo Purwo Nugroho, mengutip Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mengatakan bahwa tsunami terjadi akibat longsor bawah laut karena pengaruh dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menjelaskan, sebelum kejadian tsunami, erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi secara menerus sejak Juni 2018 dan berfluktuasi namun tidak ada peningkatan intensitas yang signifikan.

Tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 kemungkinan besar dipicu oleh longsoran atau jatuhnya sebagian tubuh dan material Gunung Anak Krakatau (flank collapse) khususnya di sektor selatan dan barat daya.

Jauh-jauh hari sebelum bencana ini terjadi, penelitian mengenai Selat Sunda sebagai kawasan tsunamigenik sudah banyak terpublikasi. Merujuk sejarah tsunami yang berkali-kali terjadi akibat erupsi Krakatau, tak sedikit peneliti yang memprediksi kejadian serupa terulang kembali.

Suryana Prawiradisastra, “Penyebab Timbulnya Gelombang Tsunami di Wilayah Selat Sunda dan Upaya Penanggulangan, dalam Jurnal Alami, No 2, Volume 10, tahun 2005 mengungkapkan, sejak aktif tahun 1929 sampai tahun penelitian ini ditulis, Krakatau sudah menimbun 2,35 kilometer material vulkanik.

Jika meletus, tsunami setinggi 3 meter akan melanda daerah selatan Lampung dan pantai barat Banten. “Jika volume material gunungapi yang menyusun Anak Krakatau membesar, maka tsunami yang akan ditimbulkannya akan tinggi pula.”

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here