Jejak Islam di Era Kerajaan Mojopahit

Makam Syekh Jumadil Kubro di Trowulan, Mojokerto. Foto: Istimewa

Indonesiainside.id, Jakarta – Banyak teori tentang masuknya Islam ke Nusantara. Belum ada kata sepakat tentang kapan dan darimana Islam masuk ke Nusantara. Kontroversi tak bisa dihindari. Tetapi jejak Islam di era Kerajaan Mojopahit bisa dilacak dari temuan arkeologi sejak hampir seribu tahun yang lalu.

Temuan arkeologis tentang jejak Islam di Jawa bisa ditelusuri dari Desa Leran, Gresik, Jawa Timur. Di sana ada makam tua berangka tahun 1081 M/475 H. Itulah makam Siti Fathimah binti Maimun, putri Sulthan Mahmud Mahdad Alam dari negeri Keddah Malaka. Siti Fathimah binti Maimun, setelah tinggal di Leran, lebih dikenal dengan nama Putri Dewi Retno Suwari. Ia seorang pendakwah. Sayang, usianya tidak panjang. Belum genap setahun tinggal di Leran, ia sakit dan akhirnya meninggal dunia.

Di makam Siti Fathimah terdapat batu nisan dengan pahatan kaligrafi bergaya kufi, yang sejak 1997 dipindahkan ke Museum Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Inskripsi di batu nisan Leran itu terdiri dari tujuh baris, yang terjemahannya sebagai berikut:

Dengan nama Allah (Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang) Semua yang ada di bumi adalah fana. Dan yang kekal hanya dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Makam perempuan yang tak berdosa, yang lurus, binti Maimun, bin Hibatu’llah, yang meninggal hari Jumat delapan Rajab tahun 475 H, dengan rahmat Allah Yang Maha Mengetahui semua yang ghoib, Tuhan Yang Maha Agung dan Rasul-Nya yang mulia.

Makam Siti Fathimah binti Maimun diyakini sebagai makam Islam tertua di Nusantara. Tetapi, tentu saja, ini adalah makam yang secara arkeologis ada jejaknya. Boleh jadi, masih banyak makam-makam Islam sebelumnya yang tidak atau belum ditemukannya jejak arkeologisnya.

Syekh Jumadil Kubro

Jejak Islam di era Mojopahit bisa ditelusuri dengan keberadaan dan peran Syekh Jumadil Kubro. Ia ulama besar sekaligus pelopor penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Syekh Jumadil Kubro berasal dari Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah. Menurut satu riwayat, Jumadil Kubro adalah keturunan ke-10 dari Al-Husain, cucu Nabi Muhammad SAW.

Dakwah Syekh Jumadil Kubro terhenti di Trowulan, Mojokerto, ketika ia wafat tahun 1376 M atau 15 Muharram 797 H. Jumadil Kubro hidup di antara dua raja, pada awal Sri Ratu Rajapadmi dan pertengahan Prabu Hayam Wuruk.

Dakwah Jumadil Kubro dikenal sejuk, tapi tegas bila menyangkut akidah. Karena itu, dakwah pertama yang dia lakukan di masyarakat Majapahit adalah dakwah tauhid, yang disampaikan dengan cara-cara dialog dan logika. Tujuannya agar masyarakat bisa berpikir sendiri untuk mengukur baik-buruknya apa yang selama ini mereka yakini dan laksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dakwah bil lisan dan bil hal yang dilakukan oleh Jumadil Kubro membuat ia dikenal dekat dengan lingkungan Kerajaan Majapahit. Tutur katanya yang lembut dan mengena selalu membuat lawan bicaranya terkesan dan terkesima. Ia berdakwah di lingkungan kerajaan tanpa menimbulkan gejolak di dalam.

Ketika Mahapatih Gajahmada melakukan ekspedisi silaturahim ke wilayah Nusantara, atas perintah Sri Ratu Rajapadmi dan putrinya, Gusti Ayu Tribhuwana Wijaya Tunggadewi Wisnuwardhani, Jumadil Kubro diikutsertakan sebagai anggota delegasi.

Berkat dakwahnya yang sejuk dan jauh dari gejolak, pelan-pelan tapi pasti, anggota kerajaan memeluk Islam. Kehidupan keagamaan serta kemasyarakatan berjalan mulus, tak ada gejolak, tak ada debat terbuka, dan tak ada perseteruan antar-agama. Inilah warisan terbesar Jumadil Kubro, dan itulah yang hendaknya kita teladani tanpa kenal waktu dan tempat.

Cara-cara Jumadil Kubro berdakwah menjadikannya amat disegani. Karena itu, pemakamannya berada di antara para pejabat kerajaan Majapahit, antara lain makam Tumenggung Satim Singgo Moyo, Ratu Kenconowungu, Anjasmoro, Sunan Ngudung (ayah Sunan Kudus), dan beberapa patih serta senopati yang dimakamkan di kompleks permakaman Tralaya.

Sebagai apresiasi atas peran Jumadil Kubro di masanya, sampai saat ini, setiap hari makamnya diziarahi ratusan bahkan ribuan muslim. Jika Anda berziarah ke makam Syekh Jumadil Kubro pada malam Jumat Legi, Anda akan mendapati suasana seperti pasar malam. Masyarakat berjubel, dengan segala kepentingannya.

Makam Tralaya

Makam Syekh Jumadil Kubro terletak di kompleks pemakaman Tralaya. Pada nisan kepala dan kaki bagian atas berbentuk kurung kurawal, sisi-sisinya lurus mengecil ke bawah. Nisan kepala sisi dalam, bagian tengah terdapat inskripsi huruf Arab dalam enam baris ke bawah:

Qallahu Subhanahu wa Ta’ala (Firman Allah Yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia) Kullu Nafsin Zaiqatul Mawti (Setiap yang bernyawa akan mengalami mati) Kullu Man Alayha Fanin (Segala yang ada d iatas bumi akan binasa) Kullu Syay’in Halikun illa Wajhahu (Segala sesuatu di bumi dan di langit akan rusak kecuali Tuhanmu) Kullu Say’in Sayamutu (setiap manusia akan mati) Huwa Hayyun La Yamutu (Allah itu hidup dan tidak mati)

Permakaman Tralaya adalah bukti adanya komunitas muslim di dalam Kerajaan Majapahit. Makam Tralaya berjangka tahun 1368 M hingga tahun 1611 M. Kompleks Makam Tralaya dibagi dalam beberapa bagian.

Petilasan Wali Songo. Kompleks ini berada paling depan, berukuran 10 x 8 meter persegi, berpagar tembok tanpa hiasan. Di dalamnya terdapat sembilan wali, yaitu Said Abdurrahman bin Maghribi, Said Ibrahim Asmoro, Said Abdul Qadir Jaelani, Said Maulana Ishak, Sunan Bayat, Sunan Demak, Sunan Kalijaga, Sunan Bejagung, dan Sunan Geseng.

Ada juga dua makam yang letaknya ditinggikan oleh warga. Dua makam tersebut adalah makam Ratu Kencanawungu dan Dewi Anjasmara.

Jika berjalan agak ke barat, kita akan menemukan kompleks makam yang dikelilingi pagar tembok. Di dalamnya ada tujuh makam. Kompleks makam ini masih asli. Empat di antara makam-makam itu batu nisannya memakai pahatan lukisan surya dan di bawahnya dituliskan angka tahun Jawa Kuno. Sedangkan di sebaliknya bertuliskan huruf-huruf Arab. Keempat angka tahun itu adalah tahun 1340 Saka, tahun 1377 Saka, tahun 1379 Saka, dan tahun 1387 Saka. Kompleks makam ini adalah makam para keluarga raja Kerajaan Majapahit yang memeluk agama Islam. (HMJ)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here