Tanggung Jawab Keumatan, Wapres: Jaga Umat dari Makanan Tidak Halal

KH Ma'ruf Amin
Pembukaan Mukernas 2 Rabithah Alawiyah oleh Wapres KH Ma'ruf Amin di Jakarta, Jumat (6/12). Foto: Antara/Anom Prihantoro

Indonesiainside.id, Jakarta – Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin mengingatkan dua amanat yang harus terus dijaga dan diemban, yaitu tanggung jawab keumatan dan kebangsaan. Salah satu tanggung jawab keumatan adalah menjaga umat dari makanan dan minuman yang tidak halal.

“Kita juga menjaga umat dari mengkonsumsi (atau) meminum yang tidak halal, karena itu kita kembangkan upaya-upaya untuk melakukan sertifikasi halal,” kata Ketua Umum nonaktif Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini di Jakarta, Jumat malam (6/12).

Hal itu disampaikan pada Musyawarah Kerja Nasional 2 Rabithah Alawiyah yang digelar di Jakarta pada 6-8 Desember 2019. “Paling tidak kita punya dua tanggung jawab besar yang harus kita lakukan, yakni tanggung jawab keumatan dan kebangsaan serta kenegaraan,” katanya.

Dia mengatakan, tanggung jawab keumatan dapat diperankan setiap pemangku kepentingan dengan tetap menjaga umat dari akidah-akidah yang menyimpang.

Ma’ruf mencontohkan akidah menyimpang itu seperti menganggap terdapat nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Selain itu, perbaikan mutu pendidikan dan peningkatan ekonomi umat.

“Kita juga melakukan perbaikan umat baik dalam segi pendidikan maupun ekonomi,” katanya.

Wapres juga mengingatkan pentingnya unsur ormas dan seluruh elemen umat Islam untuk memerankan tanggung jawab kebangsaan sebagaimana dicontohkan para pendahulu bangsa.

Ma’ruf menyebut para ulama dan santri berjasa untuk merebut dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Peran para pendiri bangsa yang di dalamnya terdapat umat Islam tidak bisa dilupakan begitu saja.

Maka, kata dia, setiap unsur umat Islam di masa kini harus turut menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdiri atas kesepakatan. Wapres juga menyampaikan persatuan umat Islam yang terdiri dari berbagai latar belakang.

Umat Islam dan seluruh unsur bangsa jangan sampai berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi. Alasannya, tidak akan mungkin tercapai tujuan tanpa adanya gerakan bersama.

“Maka umat perlu menyatukan perbedaan-perbedaan yang ada,” katanya. (Aza/Ant)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here