Aceh Tak Ingin Rusak Kearifan Lokal, di Solo Ada Pesta Tradisi Daerah

terompet tahun baru
Terompet tahun baru. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Meulaboh – Malam pergantian tahun disambut dengan cara berbeda di masing-masing daerah. Ada daerah yang melarang tahun baru dirayakan karena merusak kearifan lokal, tapi di tempat lain justru disambut dengan pesta tradisi lokal.

Dua cara berbeda ini ditunjukkan oleh Pemerintah Aceh Barat dan Pemerintah Kota Solo, Jawa Tengah. Di Aceh, warga dilarang membuat perayaan malam tahun baru secara berlebihan, tetapi di Solo justru akan digelar pesta besar-besaran.

Dua kebijakan bertolak belakang ini sejatinya menjadi potret kebhinekaan, di mana toleransi harus dijunjung tinggi. Artinya, toleransi tidak berarti harus sama, apalagi seragam.

Namun, jika salah satunya dikecam, di situlah letak kekeliruan dalam memaknai toleransi. Harmoni sebuah perbedaan bisa berubah jadi konflik, dan persamaan yang dipaksakan akan jadi malapetaka.

Aceh dengan syariat Islamnya harus jadi pembeda dan model penerapan ajaran Islam, sedangkan Solo tetap harus merawat kekhasannya.

Terkait perayaan tahun baru, Bupati Aceh Barat H Ramli meminta masyarakat nonmuslim agar tidak merayakannya secara berlebihan. Terompet, minuman keras, petasan, menjadi bagian yang terlarang di malam tahun baru nanti.

“Saya meminta masyarakat nonmuslim agar menghormati masyarakat Muslim di Aceh Barat dengan kegiatan yang sifatnya hura-hura dan bertentangan dengan syariat Islam,” kata Bupati Ramli, Kamis (26/12).

Masyarakat nonmuslim tetap bisa merayakan pergantian tahun asalkan kegiatan yang dilakukan tidak bertentangan dengan budaya dan kearifan lokal masyarakat Aceh.

Kapolres Aceh Barat AKBP Andrianto Argamuda menegaskan, pihaknya akan melakukan razia terhadap penjualan terompet, petasan, dan miras menjelang tahun baru masehi 2020 di daerah itu.

“Kami dari kepolisian akan mendukung penuh kebijakan tersebut, agar dapat terlaksana dengan baik. Kita juga akan razia jika ada pedagang yang menjual terompet atau pun petasan,” kata Kapolres Andrianto Argamuda di Meulaboh, Kamis (26/12).

Kepolisian juga mendukung kebijakan larangan perayaan tahun baru di Aceh Barat. Hal itu sejalan dengan visi misi daerah Islami dan sesuai dengan penerapan aturan syariat Islam yang berlaku di Aceh.

Beda di Aceh, lain pula di Solo. Pemerintah Kota Surakarta bahkan menggelar Car Free Night (CFN) dengan menonjolkan tradisi kearifan lokal menyambut Tahun Baru 2020. Acara ini akan digelar di sepanjang Jalan Slamet Riyadi hingga Jalan Sudirman Solo, Selasa (31/12) malam.

“Kami menyambut malam tahun baru telah menyidiakan sebanyak 1.000 mainan tradisional dari bahan bambu, yakni othok-othok yang bakan dibagikan masyarakat atau pengunjung di CFN,” kata Kepala Dinas Pariwisata Surakarta, Hasta Gunawan di Solo, Kamis.

Meski begitu, tidak ada pesta petasan dan kembang api. Sebagai gantinya, Pemkot Surakarta menyediakan lima panggung hiburan yang dipusatkan di Jalan Slamet Riyadi hingga Jalan Jenderal Sudirman.

Bukan Tradisi Islam

Perayaan malam tahun baru memang bukan tradisi di kalangan umat Islam. Tak hanya pada pergantian tahun Masehi, tetapi juga terkait malam tahun baru Hijriah. Tidak ada anjuran berpesta atau merayakannya.

Karena itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau agar umat Islam tak merayakan tahun baru secara berlebihan. Daripada menghabiskan waktu, energi, dan uang, lebih baik diisi refleksi dan renungan untuk resolusi 2020 yang lebih baik.

“Saya mengharapkan supaya tahun baru disambut dengan tidak berlebih-lebihan, tidak berhura-hura. Kalau bisa pergantian tahun baru diisi dengan sesuatu yang berarti dan bermakna,” kata Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas di kantor MUI, Jakarta, Kamis (26/12).

Daripada berpesta, acara dzikir nasional seperti di Masjid At-Tin, Jakarta Timur. Masjid ke-1.000 yang dibangun oleh keluarga Presiden kedua RI Soeharto ini, rutin menggelar acara dzikir akhir tahun.

Soal toleransi dan menghargai keberagaman, Anwar justeru bingung dengan diksi toleransi yang selama ini berkembang. Menurut dia, kata toleransi baru berarti dan bermakna jika ada perbedaan.

“Seperti dia beragama Kristen, lalu saya beragama Islam, lalu kami saling menghormati, itu toleransi,” ujarnya.

Akhir-akhir ini dia melihat ada upaya pihak tertentu untuk membuat penyeragaman. “Bukan pluralisme, tapi kepada bentuk tunggal,” lanjutnya.

Seperti salam lintas agama yang sempat ramai beberapa waktu lalu. Dia merasa janggal karena seperti ada penyeragaman ajaran.

“Masak saya harus mengucapkan salam dalam agama Hindu dan Budha? Saya kan muslim, masak orang Hindu harus mengucapkan salam versi orang Islam?” katanya. (Aza/Ant)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here