Masyarakat Tetap Laksankan Malam Nisfu Sya’ban dengan Khidmat

Masjid Jami Pangkal Pinang di pusat kota Pangkal Pinang, Bangka Belitung. Foto: Ahmad ZR/Indonesiainside.id

Indonesiainside.id, Jakarta – Pengajian malam Nisfu Sya’ban yang biasa digelar untuk menyambut Ramadhan tetap digelar sejumlah masjid dan mushalla di kawasan Kebayoran Baru Jakarta, Selatan. Termasuk majelis taklim yang diinisiasi sendiri oleh warga setempat, Rabu (8/4).

Setelah Mahgrib, warga setempat langsung menggelar pembacaan Yaasin dan ditutup dengan tahlil. Tak lupa, banyak di antara mereka membawa air minum dari rumah untuk didoakan selama acara berlangsung, ada yang menggunakan botol minum bahkan galon.

Sya’ban adalah salah satu bulan istimewa, bulan yang dihormati dalam agama Islam, selain Muharram, Dzulhijjah dan Rajab. Keistimewaan bulan ini dimulai semenjak dari awal bulan hingga akhir bulan.

Akan tetapi keistimewaan yang lebih terdapat pada malam Nisfu Sya’ban. Yaitu malam ke lima belas pertengahan bulan Sya’ban. Pada malam inilah sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih dari Mu‘az bin Jabal Radhiallahu ‘anhu, “Allah mendatangi semua makhlukNya dan memberikan ampunan kepada mereka atas segala dosa kecuali orang yang menyekutukan Allah dan orang yang saling bermusuhan” (HR. Ibnu Majah, at-Thabrani dan Ibnu Hibban).

Dalam agenda ini, jamaah membaca surat Yaasin bersama-sama sebanyak tiga kali yang dipimpin oleh seorang pemuka agama. Masing-masing pembacaan diniatkan untuk hal-hal baik, biasanya untuk umur yang panjang, perlindungan dari bencana dan keluasanrizki, serta untuk kekayaan hati dan mati diberikan akhir hidup yang husnul khatimah.

Pantauan Indonesiainside.id di salah satu mushalla, acara berlangsung normal seperti tahun-tahun sebelumya. Orang tua, remaja, anak-anak duduk satu majelis dan melantunkan doa-doa. Tak ada mekanisme “physical distancing”, shaf saat shalat Maghrib dan Isya berlangsung sebagaimana mestinya.

Meski demikian, ada juga sejumlah jamaah yang membawa sajadah sendiri dan mengenakan masker. Di kawasan itu, ketua RT setempat telah memasang imbauan Gubernur DKI Jakarta Nomor 3 tahun 2020 tentang Penggunaan Masker untuk Mencegah penularan virus corona Covid-19 yang diteken pada Jumat, 3 April 2020. Termasuk menyediakan hand sanitizer di jalan perkampungan.

Usai tahlil, jamaah melaksanakan santap malam bersama dengan hidangan nasi kebuli. Nasi biasanya dimasak swadaya atau disediakan oleh keluarga pengurus masjid atau mushalla. Satu nampan untuk 4 sampai 5 jamaah. Buah-buahan dan air mineral tak lupa disiapkan sebagai penutup kebersamaan.

Sebelumnya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah menyampaikan, dalam suasana pandemi Covid-19 kegiatan peribadatan seharusnya makin ditingkatkan, baik ibadah wajib maupun sunnah.

“Ibadah di rumah tidak boleh menjadi alasan menurunkan kualitas maupun kuantitas peribadatan,” kata Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Robikin Emhas kepada Indonesiainside.id, saat dihubungi, Rabu (8/4).

Menurut dia, wabah corona yang kini sedang melanda masyarakat Indonesia bukan menjadi halangan untuk terus meningkatkan amaliyah dan kegiatan keagamaan seperti biasanya. Melalui kemudahan teknologi, ada berbagai cara agar kegiatan Nisyfu Sya’ban tetap dilaksanakan.

“Demikaian juga syiar keagamaan. Teknologi yang ada memungkinkan untuk itu, berbagai jenis amaliyah tetap bisa dilakukan bersama-sama secara online. Misalnya istighotshah, Nisyfu Sya’ban, dan lain-lain,” tuturnya. (CK)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here