Tarawih saat Pandemi, Stafsus Wapres: Semangat Keislaman Harus Dibarengi Ilmu

Jamaah salat zuhur Masjid Istiqlal sedang mengamini do'a qunut nazilah yang dipanjatkan oleh imam pada rakaat terakhir. Foto: Muhammad Zubeir/Indonesiainside.id

Indonesiainside.id, Jakarta – Dalam berislam, tidak cukup hanya dengan semangat yang tinggi, tetapi juga harus dibarengi dengan keilmuan yang mumpuni. Dengan begitu, ketika ada perbedaan pendapat, terutama terkait ibadah di tengah pandemi Covid-19, tidak akan terjadi pertentangan.

“Tetapi kalau tidak dilandasi pengetahuan yang cukup, hanya bermodalkan semangat keislaman saja, itu justru berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, perbedaan pendapat, bahkan terjadi konflik kecil, dan silaturahmi terputus. Padahal, memutus silaturahim adalah sesuatu yang dilarang dalam Islam,” kata Staf Khusus Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, Masduki Baidlowi kepada Indonesiainside.id, saat dihubungi, Rabu (22/4).

Kedua, dia menyatakan bahwa Nabi SAW tidak pernah melaksanakan shalat tarawih berjamaah. Nabi hanya melaksanakan shalat Tarawih berjamaah di hari pertama hingga ketiga Ramadhan, Tarawih berjamaah dilaksanakan pada zaman khalifah Umar Bin Khattab Radiallahu anhu.

“Dan setelah itu khalifah Umar mengatakan inilah bid’ah yang paling bagus. Kenapa dibilang bid’ah paling bagus? Karena Rasulullah tidak pernah mengerjakan secara berjamaah di masjid karena khawatir Allah mewajibkan (Tarawih) untuk ummatnya,” ucapnya.

Jika demikian, kata dia, apabila saat ini ada ada wabah dan sangat berbahaya secara saintifik, maka harus dipertimbangkan dengan baik. Menurutnya, ilmu tidak akan bertentangan dengan agama.

“Sains yang paling kompatibel dengan agama itu adalah Islam, di dalam Alquran ada berbagai ilmu tentang perbintangan, luar angkasa, biologi, medis, dan sebagainya, banyak sekali. Artinya ketakutan kita kepada Allah jangan dipertentangkan dengan keilmuan,” ujarnya.

Selain itu, Rasulullah juga memerankan kepada umatnya apabila ada wabah yang mematikan maka harus lari seperti lari dari menghindari singa. Artinya, Rasulullah memberikan sinyal bahwa ketaatan kepada agama tidak dipertentangkan dengan sains.

“Makna yang tersirat ini bahwa dalam maqasidh syariah ada hifzu nafs (menjaga jiwa). Makanya di dalam kaidah ushul fiqih juga disebutkan, dar’ul mafasid muqaddam ala’ jalbil mashalih, mengindari bahaya lebih diutamakan daripada mengerjakan amal-amal salih,” tuturnya.

Dia menjelaskan, kaidah fiqih tersebut berlaku di tengah pandemi Covid-19 yang tengah melanda berbagai daerah Indonesia. Termasuk Nabi juga mengingatkan la darara wa la dirar (janganlah mencelakakan diri sendiri dan jangan mencelakakan orang lain).

“Dengan demikian, kalau kita tidak Tarawih bukan tidak takut kepada Allah. Tetapi menyelamatkan diri lebih utama dalam beribadah dan bisa beribadah di tempat lain,” tuturnya.

Dia menambahkan, Kemenag daerah dapat berkoordinasi dengan Ormas besar setempat jika ada perselisihan di tengah masyarakat. Kedua, berkoordinasi dengan aparat keamanan.

“Saya kira kalau itu dilaksanakan, maka tidak akan ada potensi perseteruan di daerah ya,” ujarnya. (ASF)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here