Bu Tien, Wanita Tangguh di Samping Pak Harto hingga Maut Memisahkan

Ahad, 28 April 1996, istri Presiden kedua RI HM Soeharto, Raden Ayu Siti Hartinah, wafat.

Masyarakat Indonesia kembali mengenang kepergian ibu negara kedua yang akrab dengan sapaan Ibu Tien Soeharto itu. Sehari setelah berpulangnya ke Rahmatullah, jenazah almarhumah dimakamkan  pada 29 April 1996, pukul 14.30 WIB di Astana Giri Bangun, Jawa Tengah.

Dia adalah wanita tangguh di samping Jenderal Besar Purnawirawan Soeharto. Banyak kisah inspiratif bisa dipetik dari kisah perjalanan tokoh bangsa yang juga dikenal sebagai Bapak Pembangunan dan istri tercintanya itu.

Kesetiaan dan keharmonisan antara Pak Harto dan Ibu Tien patut menjadi teladan bagi kawula muda.

“Kami, istri saya dan saya, memang sama-sama setia, saling mencintai, penuh pengertian, dan saling mempercayai.” Demikian petuah Pak Harto dalam membina mahligai rumah tangga yang penuh kasih sayang, setia, dan saling pengertian.

Ada kisah asmara Pak Harto dan Ibu Tien yang jarang diketahui. Salah satunya, bisa ditemukan dalam artikel berjudul: Kisah Cinta Pak Harto dan Bu Tien, Semanis Tebu yang Menyentuh Kalbu, dilansir Intisari Online.

Pak Harto dan Bu Tien sudah saling kenal di usia muda mereka. Keduanya sama-sama bersekolah di satu SMP, di Wonogiri, Jawa Tengah. Di sana, Bu Tien merupakan adik kelas Soeharto. Bu Tien satu kelas dengan Sulardi, sepupu Pak Harto.

Soeharto muda diceritakan tak pernah menunjukkan tanda-tanda naksir kepada Bu Tien. Justru Bu Tien pernah berkelakar kepada Sulardi bahwa suatu saat nanti dirinya akan menjadi kakak ipar Sulardi.

Selepas sekolah, keduanya berpisah. Soeharto melanjutkan ke PETA dan terjun ke dunia ketentaraan. Sementara Bu Tien  aktif di Laskar Wanita (Laswi) dan PMI.

Yogyakarta, 1947. Suatu hari, Soeharto yang sudah menginjak 27 tahun, bertandang ke kediaman keluarga Prawirowiardjo yang lama mengasuhnya. Keluarga bibi dan pamannya itu belum lama pindah ke Yogyakarta dari Wuryantoro, Wonogiri.

“Harto,” kata Bu Prawiro, adik Pak Karto, ayahanda Soeharto.

“Sekarang umurmu sudah 27 tahun,” lanjutnya, “Sekali pun engkau bukan anakku sendiri, aku sudah mengasuhmu sejak ayahmu mempercayakan engkau pada kami.  Aku pikir, sebaiknya segera mencarikan istri untukmu.”

OG Roeder dalam “Soeharto: Dari Pradjurit Sampai Presiden”, buku  biografi pertama presiden kedua RI, mengisahkan, bahwa Soeharto sempat ngeles menyikapi tawaran bibinya.

Dia beralasan masih ingin berkonsentrasi di dunia militer. Tapi setelah dibujuk terus menerus, akhirnya Soeharto luruh juga.

Dia pun berkata, siapa kiranya yang akan dijodohkan dengan dirinya. Bu Prawiro tersenyum. Dia berkata pelan bahwa Soeharto sebenarnya sudah kenal dengan gadis tersebut.

“Masih ingatkah kamu dengan Sri Hartinah,” kata Bu Prawiro seperti dikisahkan dalam buku “Falsafah Cinta Sejati Ibu Tien dan Pak Harto”.

Mana mungkin Pak Harto lupa. Adik kelas manis yang suka mengolok-olok sepupunya sebagai adik ipar.

Mendadak nyali Soeharto menciut.  Bu Tien adalah keluarga ningrat. Putri RM Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmati Hatmohoedojo, wedana dari Kraton Mangkunegaran, Surakarta.

Mana mungkin pria dari kelas bawah macam dirinya, bisa bersanding dengan putri ningrat? Begitu pikir Soeharto. “Tapi Bu, apakah orang tuanya akan setuju? Saya orang kampung biasa. Dia orang ningrat…”

Bu Prawiro meyakinkan bahwa dirinya cukup dekat dengan keluarga Soemoharjomo. Selain itu, “Keadaan sudah berubah,” terang Bu Prawiro.

Bu Tien sendiri dikabarkan sempat membuat pusing keluarganya. Sebab berkali-kali dia menolak lamaran banyak pria yang meminangnya.

Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Tak lama setelah pertemuan itu, Soeharto dan keluarga bibinya berkunjung ke rumah Soemoharjomo di Solo, dipertemukan untuk pertama kalinya dengan Hartinh, calon istrinya.

Dalam pertemuan yang dalam adat Jawa disebut “nontoni” itu pun Soeharto masih belum percaya diri, “apakah dia akan benar-benar suka kepada saya?” Soeharto membatin.

Kenyataannya, keluarga Soemoharjomo menerima pinangan Soeharto. Pernikahan dilakukan pada 26 Desember 1947.  Resepsinya sangat sederhana. Pada malam hari hanya bercahayakan temaram lilin. Tak dihadiri banyak tamu. Saat itu Soeharto berumur 26 dan Hartinah 24.

Menurut RE Elson dalam “Suharto: Sebuah Biografi Politik”, hubungan cinta dua sejoli yang berbeda latar belakang status sosial itu diuntungkan oleh situasi zaman revolusi.

Era revolusi memungkinkan seorang pemuda desa seperti Pak Harto memiliki “pamor” karena berkecimpung sebagai perwira militer yang memiliki tempat terhormat pada masa itu.

Itulah yang membuat gambaran Soeharto berbeda di depan mata calon mertuanya. Selain tentu saja karena hubungan dekat keluarga pamannya dengan orangtua Hartinah.

“Perkawinan kami tidak didahului dengan cinta-cintaan seperti yang dialami oleh anak muda di tahun delapan puluhan sekarang ini. Kami berpegang pada pepatah, ‘witing tresna jalaran saka kulina,” kata Soeharto kepada Ramadhan KH, dalam “Ucapan, Pikiran dan Tindakan Saya”.

Wanita Tangguh di Belakang Pria Hebat

Tak ada bulan madu bagi mereka karena tiga hari setelah pernikahan, Soeharto harus kembali ke Yogyakarta untuk berdinas. Mereka pun tinggal di Jalan Merbabu Nomor 2.

Seminggu setelah itu, Soeharto harus meninggalkan sang istri karena ditugaskan ke Ambarawa untuk menghadapi serangan Belanda dari Semarang.

Menjadi istri tentara di zaman Perang kemerdekaan memang berat. Bahkan, saat harus melahirkan anak pertamanya, Hartinah terpaksa tak bisa ditemani Soeharto yang sedang bertempur. Meski begitu, dia tetap tegar dan setia.

Pernah suatu hari, Soeharto terlihat penat karena tugas militer dan hampir menyerah. Hartinah dengan lembut berkata, “Aku dulu menikah dengan tentara, bukan dengan sopir. Jadilah tentara yang bermartabat.”

Pepatah bahwa di belakang pria hebat pasti ada wanita yang tangguh sepertinya memang benar adanya. Dalam otobiografinya, Soeharto menulis ia dan sang istri selalu menjaga ketentraman rumah tangga dengan cinta dan pengertian.

Tak bisa dipungkiri, cinta kasih dan dukungan yang diberikan Hartinah menjadi pendorong karir Soeharto sebagai presiden.

Laiknya pasangan lain, cemburu dan cekcok suami istri juga dialami Soeharto. Namun baik Soeharto maupun Hartinah bisa menempatkan kecemburuan secara bijak.

“Hanya ada satu Nyonya Soeharto dan tidak ada lagi yang lainnya. Jika ada, akan timbul pemberontakan yang terbuka di dalam rumah tangga Soeharto,” demikian tulis kata Pak Harto.

Selama 49 tahun mereka hidup berdampingan. Sampai Bu Tien berpulang pada 1996. Dan, 12 tahun kemudian, Soeharto menyusul wanita terkasihnya. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here