Panggilan Sahur dan Peringatan Covid-19, Ritme Baru Ramadhan di Baghdad

Penabuh drum Ramadan berjalan melalui jalanan di ibu kota Irak, Baghdad. (Foto AFP / AHMAD AL-RUBAYE)

Indonesiainside.id, Baghdad – Sebuah kota berpenduduk hampir sepuluh juta penduduk di Irak ini, menjalankan ritme Ramadhan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kota Baghdad tetap mempertahankan tradisi, meskipun pemerintah Irak memberlakukan jam malam untuk mencegah penyebaran virus corona di negara itu.

Beberapa jam sebelum fajar, lantunan suara Sayyed Mozahem, diperkuat oleh mikrofon portabelnya, menggema di sebuah lingkungan kecil di Baghdad lama. Mozahem adalah seorang musaharati, yang bertanggung jawab selama bulan Ramadhan untuk mengingatkan umat Muslim agar tidak terlewat untuk makan sahur dan shalat subuh.

“Cepat, bangun,” teriak Mozahem dengan berirama, sambil berbaris di jalan dengan irama drum tradisionalnya seperti yang dilakukan bersama kakak dan ayahnya. “Semoga Ramadhan menjauhkan virus corona, dan Tuhan lepaskan Irak dari Covid-19,” lanjutnya, dengan irama yang berbeda.

Rakyat Irak mengadaptasi rutinitas Ramadhan mereka agar sesuai dengan jam malam mulai jam 5 sore hingga jam 5 pagi. Biasanya, malam-malam di Baghdad diisi dengan pesta-pesta berbuka puasa bersama, dan kunjungan ke masjid tengah malam.

Namun saat ini berbeda, rakyat Irak bergegas melewati pos-pos pemeriksaan sebelum jam malam dimulai, shalat sendirian di rumah dan membuat kue-kue tradisional yang biasanya dibeli di toko-toko, kutip laman news.yahoo.com. Suasana muram karena isolasi, menjadi pemandangan baru di ibukota, di mana respon terhadap virus corona meninggalkan jejaknya dari fajar hingga senja.

Menjelang siang, panas mulai turun di jalan-jalan, mengirimkan polisi lalu lintas untuk mencari potongan teduh. Panggilan untuk shalat berkumandang dari ratusan masjid, mendesak umat Islam untuk beribadah dari rumah.

Segera setelah itu, giliran Moussa Al-Bedeiri. Dua kali sehari, petugas pemadam kebakaran itu menggunakan megaphone pada mobil pemadamnya untuk mendesak warga agar tetap di rumah, menghindari berkumpul dan mencuci tangan secara teratur.

Tenggorokan dan bibirnya pecah-pecah tetapi sebagai Muslim, Bedeiri tetap menahan diri untuk minum selama hari-hari yang terik. “Ketika virus corona menyebar, pekerjaan kami menjadi dua kali lipat. Kami memiliki lebih banyak kampanye sanitasi dan siaran pedoman resmi melalui pengeras suara pada kendaraan pertahanan sipil dan di pusat kami,” katanya kepada AFP. (CK)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here