Semua Setuju Shalat Id di Rumah, yang Shalat di Masjid Jangan Dikasari

Ilustrasi Puluhan ribu jamaah memadati Masjid Al Akbar Surabaya saat shalat Idul Fitri 1440 Hijriah. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Agama adalah keyakinan. Dalam menjalankannya, umat Islam punya pandangan dan keyakinan yang tidak semuanya sama.

Karena itu, perbedaan dalam agama harus disikapi secara baik, memahami pandangan penganutnya, dan mencari persamaan di antara perbedaan yang ada.

Terlebih dalam masalah fikih, ada empat pendapat imam mazhab yang menjadi rujukan dan tidak semuanya sama. Ada perbedaan-perbedaan pandangan ulama, tanpa harus diperselisihkan.

Begitu juga dalam pelaksanaan shalat Idul Fitri yang saat ini dianjurkan dilaksanakan di rumah akibat pandemi Covid-19. Dalam pelaksanaannya pun, ada beragama pendapat.

Misalnya soal khotbah, ada yang mewajibkan atau memandang sunah pelaksanaannya saat shalat Id dilakukan berjamaah di rumah. Namun, yang rawan menjadi pertentangan yaitu pelaksanannya di rumah atau di masjid dan di lapangan.

Meski ulama luar dan dalam negeri serta ulama antar-Ormas Islam, sudah sepakat bahwa shalat Id bisa dilaksanakan di rumah, tak sedikit kelompok umat yang memaksakan di masjid atau lapangan.

Bagaimana jika dilaksanakan di lapangan atau masjid di wilayah yang telah ditetapkan sebagai zona merah? Khususnya kepada aparat, ditekankan agar tidak disikapi dengan cara-cara kasar.

Misalnya, dengan cara pembubaran paksa, represif, intimidatif, atau dengan cara kekerasan. Ini yang tidak boleh karena rentan menimbulkan persinggungan fisik.

Sementara Islam mengajarkan akhlak dan cara-cara yang makruf (kebaikan). Menegakkan dan menyerukan kebaikan, harus dengan cara makruf pula. Cara yang dapat diterima dengan baik, solutif, tidak saling menyalahkan, dan tidak bersitegang.

Terkait masalah ini, Ketua Komisi VIII Yandri Susanto, sepakat agar tidak terjadi tindakan kasar atau kekerasan terhadap mereka yang shalat di masjid atau lapangan. Dia setuju shalat Id di rumah, namun yang shalat di masjid jangan dibubarkan. Ini yang bahaya.

“Jika nanti ada umat Islam menyelenggarakan shalat Id di lapangan atau masjid, mohon jangan ada tindakan represif, karena nanti bisa menimbulkan masalah baru,” kata Yandri di kantor Kemenag, Jumat (22/5).

Masjid bukan seperti mal yang bisa disegel atau ditutup paksa. Shalat di lapangan juga tak sama dengan pasar kaget yang bisa digulung kapan saja oleh aparat.

Jika di malmal ada kerumunan, bolah saja dibubarkan paksa. Tapi di masjid, jangan sampai itu dilakukan karena mudaratnya lebih besar.

“Oleh karena itu kalau ada yang menyelenggarakan, jangan sampai dibubarkan,” kata Yandri.

Dia bersyukur penetapan 1 Syawal 1441 H tidak ada perbedaan. Hal ini harus disyukuri karena kebersamaan dapat melahirkan kekuatan bangsa, terutama dalam menghadapi pandemi Covid-19.

“Maka, DPR juga meminta agar ke depan Idul Fitri disamakan, karena bagaimana pun jika bersama, umat akan menyambut dengan gegap gempita,” katanya. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here