Jelang Lebaran Warga Sesaki Pasar-Pasar di Wilayah Asia, Menentang Aturan Pembatasan

Kesibukan Muslim India selama Ramadhan

Indonesiainside.id, Jakarta – Muslim di seluruh Asia memenuhi sejumlah pasar saat mereka bersiap untuk merayakan Idul Fitri. Sayangnya, mereka mengabaikan pedoman pencegahan penyebaran virus corona, bahkan ketika tingkat infeksi meningkat.

Perayaan hari raya Idul Fitri ditandai dengan antusiasme warga untuk membeli pakaian baru, makanan lebaran, hadiah, dan camilan manis untuk orang yang dicintai, keluarga, dan para kerabat. Meskipun ada risiko mematikan yang ditimbulkan oleh virus corona, namun pembeli di Indonesia, Pakistan, Malaysia, dan Afghanistan terus maju, hanya demi sehelai dua helai pakaian baru dan makanan untuk dihidangkan.

Indonesia, negara mayoritas Muslim terbesar di dunia itu, menjelang lebaran tahun ini, aktivitas masyarakat di Pasar Tanah Abang, Jakarta, penuh-sesak. Salah satu pasar yang terletak di jantung ibu kota itu tampak dijejali oleh pengunjung.

Padahal, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran virus corona dari Kota Wuhan, Cina, itu tengah diterapkan. Namun, tampaknya kebijakan itu dianggap angin lalu bagi para pengunjung dan pedagang di sana.

“Bagaimana lagi mas, kita kalau di rumah terus tidak ada uang, tidak bisa makan. Sebenarnya kami juga takut sama virus itu (Covid-19), tapi mau bagaimana lagi? Pemerintah tidak mempunyai solusi yang jelas untuk kami (para pedagang), makanya kami buka,” ujar Solihin (52 tahun), salah satu pedagang kurma di sana.

Sementara itu, ramainya pengunjung di Pasar Tanah Abang ini juga bertambah parah dengan tidak diterapkannya protokol kesehatan dengan baik dan benar. Memang, sebagian besar dari mereka mengenakan alat pelindung diri yang wajib digunakan, yakni masker, baik itu masker medis ataupun masker kain berlapis. Tapi, physical-social distancing (menjaga jarak) tidak diterapkan. Alhasil, tak jarang kontak fisik pun terjadi lantaran saling berdekatan.
Shutdown secara bertahap telah berkurang menjelang Idul Fitri di Pakistan, bahkan ketika kasus terus meningkat, dengan perjalanan domestik dimulai kembali dan beberapa bisnis diizinkan untuk membuka kembali.

Sebagian besar toko-toko kelas atas dan mal-mal di kota tersebut menegakkan aturan kebersihan dan menjaga jarak sosial. Namun hal itu tidak mungkin diterapkan bagi pasar-pasar tradisional yang digunakan oleh sebagian besar warga Pakistan.

“Karena kuncian, barang-barang untuk dibeli telah menumpuk. Toko-toko akan ditutup lagi selama hari raya, jadi aku harus menyelesaikan belanja ini. Kita tidak bisa tetap terkunci di rumah selamanya, hidup harus terus berjalan,” kata Sana Ahmed kepada AFP di sebuah pasar di kota Lahore timur.

Sementara itu, pasar di Peshawar dan Quetta, kota-kota yang dekat dengan perbatasan dengan Afghanistan, tampak penuh, meskipun para pedagang di kota metropolitan selatan Karachi mengeluh kurangnya pelanggan. Di ibu kota Afghanistan, Kabul, pembeli terlihat hanya beberapa yang mengenakan masker dan sarung tangan pelindung. Mereka memenuhi pasar yang sibuk, yang dipenuhi rempah-rempah, dalam rangka membeli jilbab warna-warni baru untuk perayaan hari raya.

“Virus ini sangat berbahaya tetapi orang tidak menganggap karantina dengan sangat serius. Menjelang Idul Fitri, banyak orang keluar rumah,” kata seorang pembelanja.

Suasana berbeda di Malaysia, pembeli tetap berhati-hati, meskipun ketika bisnis telah diizinkan untuk dibuka kembali. “Tahun ini tidak ada suasana sama sekali. Orang-orang takut untuk keluar,” kata Zawiyah Othman, yang menjual jilbab di ibu kota Kuala Lumpur. “Orang-orang menabung. Sangat berbeda.”

Negara-negara Muslim utama seperti Turki, Arab Saudi dan Suriah telah melarang pertemuan massal untuk sholat Ied. (CK)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here