Jauh Sebelum Diumumkan, Arab Saudi Berlakukan Semua Protokol Ketat untuk Jaga Keamanan Haji

Kelompok jamaah haji pertama yang tiba di Mekkah untuk prosesi ibadah haji dalam masa pandemi. Foto: SPA

Indonesiainside.id, London – Sejak awal wabah global virus corona, Arab Saudi bertindak cepat dan tegas untuk membatasi dampak penyakit, membatasi perjalanan udara, memaksakan jam malam, dan menguji serta mengkarantina ribuan orang.
Pihak berwenang tidak melupakan pelajaran keras yang dipetik setelah merebaknya sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) pada 2012.

Ada lebih dari 16 juta kasus virus corona yang tercatat di seluruh dunia, dan lebih dari 645.000 nyawa melayang. Sejak mencatat kasus pertamanya pada awal Maret lalu, kerajaan mengonfirmasi 264.973 kasus dan 2.703 kematian.  Namun demikian, Arab Saudi mengalami tingkat kasus kematian hanya 1 persen, jauh lebih baik daripada banyak negara, termasuk Inggris (15,3 persen), Italia (14,3 persen) dan Prancis (14,1 persen).

Kerajaan itu juga menderita lebih sedikit kematian per 100.000 penduduk dibandingkan banyak negara, sebanyak 7.49 kematian dibandingkan dengan 68 dan 43 kematian per 100.000 orang di Inggris dan AS. Pada 27 Februari, sebelum satu kasus pun ditemukan di Arab Saudi, Kerajaan mulai menangguhkan visa untuk Umrah. Pada 2019, ibadah umrah menarik 19 juta jamaah, yang 7,5 juta diantaranya datang dari luar negeri.

Sementara untuk haji, 2,5 juta jamaah datang ke Makkah, dan 1,85 juta diantara mereka berasal dari luar negeri.  Meskipun menunda keputusan final atas haji selama mungkin, pada awal April Menteri Haji Dr Mohammed Salih Benten menyarankan umat Islam di seluruh dunia untuk menunda pemesanan perjalanan mereka.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here