Dulu dan Sekarang, Pergeseran Peran Pemandu Jemaah Calon Haji di Makkah (Bagian 1)

Indonesiainside.id, Makkah – Ketika musim haji dimulai, pemandu haji sementara biasanya meninggalkan pekerjaan reguler dan gelar profesional mereka untuk melayani jemaah dari berbagai negara. Ini adalah peran khusyuk dan diberkati yang banyak orang Makkah warisi dari orang tua dan kakek nenek mereka.

Pemandu haji pria dan wanita menemukan kenyamanan dan kesenangan dalam melayani jamaah, meskipun dengan imbalan tidak seberapa. Para pemandu menganggap pelayanan mereka adalah suatu kehormatan yang diberikan setiap tahunnya.

Talal Qutub, misalnya, yang sehari-harinya bekerja sebagai konsultan penyakit dalam. Dia mengatakan bahwa dirinya diberkati untuk melayani para jamaah sejak usia dini, mewarisi pekerjaan dari keluarganya. Orang tuanya menanamkan dalam dirinya rasa peduli kepada para jamaah, dan merawat mereka, sejak mereka tiba di Makkah sampai mereka pulang.

Dia mengatakan bahwa ada rasa saling kedekatan, penghargaan, dan rasa hormat antara jamaah dan pemandu, dan bagi pemandu, perasaan itu seperti oksigen yang mereka hirup.

Qutub awalnya beraktivitas sebagai pemandu independen sejak 1973, sebelum menjadi anggota Dewan Direksi Lembaga Panduan jamaah Iran, dan kemudian menjabat sebagai Presiden Direksi selama bertahun-tahun.

“Saya menjadi kepala badan koordinasi lembaga untuk para pemandu, di saat bersamaan saya juga bisa menyelesaikan studi saya di bidang kedokteran dan mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran dan Bedah di Pakistan tanpa gangguan ke layanan jamaah,” katanya. “Kemudian saya bergabung dengan Saudi Airlines sebagai dokter dalam layanan medis dan menjadi manajer umum layanan medis.”

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here