Pengasuh Ponpes: Waspada, Ada Pihak Ingin Kacaukan Keilmuan dalam Islam

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Bayt Quran Dr Syarullah Iskandar MA. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Bayt Quran Dr Syarullah Iskandar MA mengklaim saat ini perlu diwaspadai pihak-pihak yang memunculkan istilah kembali ke Al Qur’an dan Hadist. Akan tetapi, sesungguhnya kelompok tersebut sedang berupaya memutus sejarah atau silsilah keilmuan agama Islam yang sudah terbangun.

“Mereka mengatakan, oh tidak usah kita mengikuti mahzab ini, mahzab itu. Sebenarnya secara tidak langsung mereka justru sedang membangun mahzab baru, dan itu bahaya,” kata Syarullah Iskandar dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (8/8).

“Mereka berupaya dan memaksa diri untuk mandiri dalam memahami atau menggali teks-teks keagamaan, padahal pemahaman dan dasar keilmuannya tidak memadai,” ungkapnya.

Menurutnya, untuk memahami dan menggali teks-teks keagamaan perlu pendampingan orang yang berkompeten. Dia menuturkan, dalam agama sebenarnya adalah fas’alu ahla adz-dzikri (bergurulah kepada yang ahlinya). Pasalnya, memahami Al Qur’an, misalnya hanya satu (1) ayat saja yang dipahami dan tidak dikaitkan dengan ayat yang lain, tentunya pasti ada yang kurang mengena pemahamannya.

“Hadis pun demikian. Karena mereka itu parsial ketika membaca sesuatu, tidak universal. Istilahnya kacamata kuda. Karena sumber mereka terbatas sesuai doktrin dari para gurunya dan tidak mencoba menelaah dari sumber-sumber lain,” tutur pria yang juga Dosen Fakultas Sosiologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Syarullah mengungkapkan, selama menjadi narasumber dalam program deradikalisasi di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), mereka yang terpapar paham radikal terorisme karena dulunya dicekoki doktrin begitu saja tanpa melakukan tabayyun.

Peraih gelar doktoral dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menerangkan, menyadarkan orang karena pernah terlibat maupun terpapar paham radikal terorisme tidak harus diukur dengan cepat. Mengingat, prosesnya lama karena menyangkut ideologi.

Jika berbicara, kata dia, ibarat punya 1.000 nyawa jika mati satu masih ada 999 lagi. Syarullah juga menyarankan adanya upaya pencerahan kepada masyarakat untuk mencegah dan melindungi dari paham tersebut.

“Jadi seperti kanker. Itu memang agak memakan waktu (untuk mengatasinya). Harus berkelanjutan, terencana dengan baik, sistematis dan tepat sasaran. Saya kira itu yang harus dipadukan ketika menyusun program,” ungkapnya.

“Paham radikal terorisme di Indonesia bagaimanapun tetap ada karena paham ini memang karena jaringan, bukan berarti satu orang ditangkap lalu sudah selesai,” ucapnya.

Untuk itu, dia mengajak para penceramah untuk menggunakan metode yang lebih ramah (friendly). Dengan begitu, dakwah yang disampaikan lebih mudah ditangkap dan dicerna nalar masyarakat dan kaum milenial. (ASF/ANT)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here