Masjid Awal Simalungun Hasil Karya Seorang Mualaf

Masjid Awal di Nagori Dame Raya, Simalungun, Sumut yang berada di atas bukit kecil.

Oleh: Arif S

Indonensiainside.id, Simalungun – Bangunan masjid ini tak tampak istimewa. Bangunan itu kalah megah dengan masjid lain pada umumnya. Namun, ada cerita unik di balik berdirinya Masjid Awal di Nagori Dame Raya, Kecamatan Raya, Simalungun, Sumatra Utara.

Masjid ini berukuran kecil, hanya mampung menampung sekitar 60 jamaah. Warga di lingkungan di masjid itu pun hanya sekitar 50 kepala keluarga (KK). Masyarakat di kawasan sekitar masjid umumnya justru beragama Kristen.

Jarak  lokasi masjid itu dengan Pematang Siantar kira-kira mencapai 35 km. Berdasarkan penuturan pengurus Masjid Awal, Uliaman Saragih, masjid didirikan di masa penjajahan Belanda pada tahun 1927.

Sesuai namanya, konon ini merupakan masjid tertua di sekitar Pematang Siantar. Masjid ini pun pernah dibakar oleh pasukan kompeni atau tentara Belanda.

Berdiri di atas lahan sekitar 150 m, masjid ini dibangun oleh Wilson Saragih. Wilson semula beragama Kristen, namun kemudian masuk Islam (mualaf) tatkala menikah dengan Saimah boru Purba.

Setelah pembakaran oleh Belanda, warga ikut bergotong royong membangun masjid tersebut. Tak terkecuali warga nonmuslim, mereka juga ikut berpartisipasi membantu tenaga maupun material. Walau tetap terlihat kecil, masjid ini tampak kokoh berada di atas bukit kecil.

Perbaikan total masjid ini dilakukan pada 2018 lalu. Meski demikian, kondisi perbaikan belum mencapai 100 persen. Masih ada beberapa bagian lain yang dalam proses pembangunan. “Kondisinya sudah jauh lebih nyaman untuk menjalankan shalat di dalam masjid,” kata Saragih.

Dia dan masyarakat sekitar berharap, keberadaan masjid ini bias terus terjaga. Ia juga meminta perhatian perhatian pemerintah dan Kementerian Agama.

Staf Binmas Islam Kementerian Agama Simalungun, Sajali, menuturkan  sedikitnya ada 938 masjid dan 296 mushala yang tersebar di 30 dari 32 kecamatan di wilayah Kabupaten Simalungun. Dari 1.234 rumah ibadah umat Islam itu, Sajali mengaku tidak tahu masjid yang tertua, karena belum pernah ada pendataan.

“Memang kami belum pernah mendata sejarah masjid-masjid di sini. Ke depan ini menjadi perhatian kami,” kata Sajali. (AS)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here