“Benarkah Perawatan Sel Punca Bisa Sembuhkan HIV-AIDS?”

Pakar sel punca atau stemcell, Dr. M. Syaifuddin, MARS.(Foto: Anissa Tri K/indonesiainside.id)

Oleh: Anisa Tri K

Indonesiainside.id, Jakarta – Para penelti di Inggris berhasil menyembuhkan seorang pasien HIV setelah menjalani transplantasi stem cell (sel punca). Penelitian itu dikembangkan para peneliti dari Universitas College London (UCL), Imperial College London, Cambridge dan Oxford.

Pasien lelaki itu didiagnosa menderita HIV pada 2003 dan mengalami limfoma hodgkin atau kanker yang menyerang bagian sistem kekebalan tubuh pada 2012. Dia menjalani kemoterapi untuk menyembuhkan penyakit kankernya. Di saat bersamaan, sel punca pun dipasang ke pasien dari donor yang resisten dari HIV untuk bisa menyembuhkan penyakit kanker dan HIV-nya. Pasien itu menjalani perawatan untuk terapi kanker dan kini dinyatakan telah sembuh dari HIV selama 18 bulan dan tidak lagi mengonsumsi obat HIV.

Menanggapi penemuan ini, pakar sel punca, Dr. M. Syaifuddin, MARS memberikan pernyataannya.
“Saat seseorang terkena HIV AIDS, imunitas tubuhnya hilang. Memang betul, dengan terapi sel punca , pasien bisa sembuh. Itu karena sel punca bisa mengganti sistem yang rusak, dan mampu melawan virus tersebut,”

Lebih jauh, Syaifuddin mengatakan, jika terapi pengobatan HIV-AIDS di dunia saat ini masih dalam proses tahap uji klinik.

“Sekarang ini, sel punca belum bisa masuk standar terapi. Yang ada adalah uji klinik, yakni pelayanan berbasis penelitian,”

Untuk menjadikan stemcell sebagai terapi pengobatan pasien HIV AIDS, masih membutuhkan waktu yang cukup panjang. Menurutnya, jika dalam satu kasus pasien yang disembuhkan baru satu orang, itu tahap satu. 100 pasien, itu tahap dua. 500 pasien tahap tiga, Lebih dari 500, itu tahap terakhir yakni post market. Kalau sudah mencapai tahap terakhir, baru bisa dilakukan standar terapi penyembuhan yang bisa dilakukan di seluruh rumah sakit.

Jika saat ini ada pderita HIV AIDS dan diberikan terapi stemcell, hal tersebut belum bisa dijadikan patokan. Karena, tidak semua pasien mendapatkan kesembuhan yang sesuai dengan harapan.

Dewasa ini terapi tersebut belum pernah dilakukan karena mahal, berisiko, dan tidak praktis, padahal ada obat ARV yang murah dan efek sampingnya minimal. Mungkin dengan kemajuan penelitian di bidang sel punca suatu waktu kelemahan-kelemahan tersebut dapat diatasi dan terapi sel punca dapat dilakukan.

Di Indonesia, terapi sel punca masih dilaksanakan dalam rangka penelitian. Ini berarti, terapi ini mendapat pengawasan ketat untuk menguji manfaat dan efek sampingnya. Setiap penelitian perlu disetujui komite etik, dan karena sifatnya penelitian, maka subyek penelitian dibebaskan dari biaya yang berkaitan dengan sel punca.

Meski di negara berkembang termasuk di Indonesia banyak tawaran layanan terapi sel punca yang tidak bersifat penelitian, kita perlu berhati-hati karena layanan tersebut belum diakui manfaat dan keamanannya. Terapi itu langsung dipasarkan ke masyarakat.

Penelitian terapi sel punca di negeri kita menunjukkan kemajuan yang menggembirakan. Terapi ini diteliti untuk pengobatan jantung, sendi, dan diabetes. Seiring perkembangan teknologi, diharapkan para peneliti bisa berhasil menyediakan terapi untuk penyakit-penyakit yang saat ini belum dapat disembuhkan. (PS)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here