Kecanduan Sosial Media Mirip Gejala Adiksi Narkoba dan Pornografi

dr. Agung Frijanto
Sekertaris PP PDSKJI dr. Agung Frijanto SpKJ. Foto: Anisa Tri K/Indonesiainside.id

Oleh: Anisa Tri K

Indonesiainside.id, Jakarta – Fenomena depresi dan sosial media berpotensi menimbulkan adiksi atau ketergantungan. Sekretaris PP PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) dr. Agung Frijanto SpKJ menjelaskan, seseorang yang kecanduan sosial media, mirip seperti gejala adiksi narkoba juga pornografi. Ada sebuah sistem di dalam otak, yang mendorong penderitanya untuk terus mengakses agar ia terus merasa senang.

“Pada remaja, gejala gangguan ini menjadikan dia sudah tidak lagi mempunyai kualitas hidup yang baik. Seperti sudah mulai bolos sekolah, perilaku menentang guru/orang tua. Yang perlu diwaspadai, jika adiksi ini mulai menghambat aktifitas sehari-harinya yang diisi dengan hanya untuk memenuhi candunya,” papar Agung, saat ditemui di Jakarta, Senin (7/10).

Jika perilaku ini diberhentikan secara paksa, maka penderita akan memberikan reaksi agresif, seperti marah, membentak, hingga merusak barang.

“Penting bagi orang tua dan guru untuk mengetahui deteksi dini jika anaknya sedang menderita depresi atau kecanduan. Orang tua harus hadir dan berperan sebagai sahabat anak. Jika anak terlihat murung, kurang aktifitas sosial, terlalu sering menghabiskan waktu dengan gawainya, orang tua patut waspada,” papar Agung.

Menurutnya, jika sudah mengalami gejala seperti ini, sebaiknya pasien segera berobat ke polijiwa di rumah sakit umum atau psikiater jiwa khusus anak dan remaja. Kehadiran keluarga juga penting sebagai supporting system pada pemulihan pasien.

Fenomena sosial media ibarat dua sisi mata pedang bagi penggunanya. Di satu sisi, sosial media bisa membantu penggunanya untuk terkoneksi dengan sesamanya, di sisi lain, sosial media juga bisa membuat penggunanya rentan mengalami depresi.

Ilmuwan menemukan fakta bahwa terdapat hubungan antara penggunaan media sosial dan gejala depresi pada remaja, dan hubungan itu jauh lebih kuat terjadi pada anak perempuan daripada anak laki-laki.

Hal itu terangkum dalam penelitian yang berjudul “The effects of active social media engagement with peers on body image in young women“. Studi ini dilakukan oleh Jennifer Mills, Profesor di Departemen Psikologi dan Jacqueline Hogue, seorang mahasiswa PhD di Departemen Program Klinis. Penelitian ini berfokus pada wanita muda berusia 18 sampai 27 tahun, yang menyukai atau mengomentari foto orang yang mereka anggap lebih menarik daripada diri mereka sendiri.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita dewasa muda ini merasa tidak puas dengan tubuh mereka,” kata Mills. “Mereka merasa lebih buruk tentang penampilan mereka sendiri setelah melihat halaman media sosial seseorang yang mereka anggap lebih menarik daripada mereka. Bahkan jika mereka merasa buruk tentang diri mereka sendiri sebelum mereka datang ke dalam studi,  mereka masih merasa lebih buruk setelah menyelesaikan tugas,” ungkap Mills.

Fakta tentang hubungan media sosial dan depresi juga diungkap oleh Centre for Longitudinal Studies yang berjudul Heavy social media use linked to depression in young teens. Dalam situs cls.ucl.ac.uk tertulis jika sebanyak 10.904 anak berusia 14 tahun yang lahir antara tahun 2000 dan 2002 di Inggris yang berjenis kelamin perempuan rata-rata memiliki skor gejala depresi yang tinggi. (PS)

 

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here