Puasa Intermitent Berpotensi Memanjangkan Umur Pasien Kateterisasi Jantung

Puasa intermittent mampu memperpanjang umur pasien kateterisasi jantung. Foto: the sun

Indonesiainside.id, Jakarta – Tren puasa intermitent atau puasa setengah hari mungkin terdengar seperti ragam diet lainnya. Namun, dalam praktiknya puasa intermitent terbukti memberikan faktor kesehatan yang lebih baik.

Hal itu dibuktikan dalam sebuah studi baru oleh para peneliti di Intermountain Healthcare Heart Institute di Salt Lake City Amerika Serikat. Para peneliti telah menemukan bahwa pasien kateterisasi jantung yang melakukan puasa intermitent secara teratur, memiliki potensi hidup lebih lama daripada pasien yang tidak.

“Ini adalah contoh lain dari bagaimana kami menemukan bahwa puasa secara teratur dapat mengarah pada hasil kesehatan yang lebih baik dan umur yang lebih panjang,” kata Benjamin Horne, PhD, Peneliti Utama dan Direktur Epidemiologi Kardiovaskular dan Genetika di Intermountain Healthcare Heart Institute.

Temuan dari penelitian ini akan dipresentasikan di Sesi Ilmiah Asosiasi Jantung Amerika 2019 di Philadelphia pada Sabtu, (16/11), seperti dilansir news-medical.net, Senin (18/11).

Dalam studi tersebut, para peneliti mengumpulkan 2.001 pasien yang menjalani kateterisasi jantung dari 2013 hingga 2015 . Para pasien didata serangkaian pertanyaan gaya hidup, termasuk apakah mereka melakukan puasa intermitent secara rutin atau tidak. Para peneliti kemudian menindaklanjuti dengan pasien tersebut 4,5 tahun kemudian dan menemukan bahwa puasa rutin memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih besar daripada mereka yang tidak.

Karena orang yang berpuasa secara rutin juga diketahui terlibat dalam perilaku sehat lainnya, penelitian ini juga mengevaluasi parameter lain termasuk demografi, faktor sosial ekonomi, faktor risiko jantung, diagnosis komorbiditas, obat-obatan dan perawatan, dan perilaku gaya hidup lainnya seperti merokok dan konsumsi alkohol.

Benjamin Horne, peneliti utama penelitian ini sebelumnya telah melakukan penelitian tentang risiko diabetes dan penyakit arteri koroner pada pasien dan menemukan bahwa angka ini lebih rendah pada pasien yang melakukan puasa intermitent rutin.

Studi-studi tersebut diterbitkan pada tahun 2008 dan 2012 dan menyarankan bahwa perkembangan penyakit kronis yang telah berlangsung selama beberapa dekade dapat diperbaiki dengan puasa rutin jangka panjang.

Puasa memengaruhi kadar hemoglobin seseorang, jumlah sel darah merah, hormon pertumbuhan manusia, dan menurunkan kadar natrium dan bikarbonat, sementara juga mengaktifkan ketosis dan autofag, semua faktor yang mengarah pada kesehatan jantung yang lebih baik dan secara spesifik mengurangi risiko gagal jantung dan penyakit jantung koroner .

“Dengan risiko gagal jantung yang lebih rendah yang kami temukan, yang konsisten dengan studi mekanistik sebelumnya, studi ini menunjukkan bahwa puasa rutin pada frekuensi rendah lebih dari dua pertiga masa hidup mengaktifkan mekanisme biologis yang sama dengan yang diusulkan untuk mengaktifkan diet puasa dengan cepat, jelasnya. (PS)

 

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here