Stem Cell Adalah Obat Terapi, Bukan Suplemen

Ilustrasi.

Indonesiainside.id, Jakarta – Masyarakat tengah dihebohkan dengan pemberitaan mengenai penggerebekan klinik yang melakukan terapi dengan menggunakan stem cell di Jakarta. Sontak, pemberitaan ini menghebohkan dunia kesehatan di Indonesia terutama Jakarta.

Dr. Cynthia R. Sartika, MSi, Direktur PT. Prodia StemCell Indonesia memberikan keterangan terkait permasalahan ini.
“Yang menjadi persoalan adalah pemberian stem cell untuk masyarakat umum yang berfungsi sebagai obat terapi menggunakan stem cell yang belum memiliki ijin edar ke Indonesia,” jelasnya dalam siaran tertulis yang diterima redaksi Indonesiainside.id pada Minggu (12/1).

Menurut Cynthia, sesuai PERMENKES no 32 tahun 2018, stem cell yg digunakan untuk masyarakat umum haruslah sudah memiliki izin edar dari BPOM sebagai obat. Bukan terdaftar sebagai suplemen makanan seperti yg banyak beredar di masyarakat saat ini.

“Sementara stem cell yang berasal dari diri sendiri atau siblings (saudaranya) maupun dari donor yang sudah diskrining (dipilih dengan kriteria yg ketat) digunakan secara personal dapat diperoleh dari Laboratorium yg telah memiliki izin dari kementrian kesehatan, yaitu Izin PERMENKES No 50 tahun 2013. Sekarang ini baru ada 5 laboratorium yg telah memiliki izin tersebut, salah satu nya adalah ProSTEM (laboratorium pengolahan sel punca untuk aplikasi klinis PT Prodia StemCell Indonedia),” jelasnya.

Metode stem cell tersebut dapat digunakan untuk layanan secara khusus dan untuk penelitian berbasis layanan. “Mengapa penelitian berbasis layanan? Karena klinisi memerlukan data dasar ilmiah untuk menerapkan terapi stem cell sebagai layanan umum (terstandar),” ujarnya.

Dalam metode stem cell, data dasar tersebut diperoleh dari penelitian berbasis layanan yang dilakukan di fasilitas kesehatan yang telah diberikan izin oleh Kementrian Kesehatan. Data-data tersebut dikumpulkan dan selanjutnya dijadikan landasan dalam pelayanan terapi sel punca. Untuk selanjutnya, data tersebut bisa diolah di fasilitas kesehatan seperti klinik utama atau RS pendidikan atau umum yg telah memiliki ijin pelayanan terapi stem cell atau yang berkolaborasi dengan RS pendidikan yang ditunjuk.

Cynthia menambahkan, dalam hal ini, pemerintah perlu mengawasi peredaran obat yang berlabel mengandung stem cell. “Karena pengambilan sumber, pengolahan, penyimpanan, pengiriman dan penggunaan stem cell untuk terapi bukan hal yang sangat mudah dan murah, sebaliknya sangat kompleks,” imbuh Cynthia.

Perlu diketahui, jika produk stem cell haruslah teruji. “Pastikan bahwa produk tersebut adalah stem cell hidup, potensinya baik dan pastinya harus aman dan steril, serta penggunaan perlu kehati-hatian sehingga perlu sumberdaya berkompetensi, fasilitas lengkap dan aman, pengalaman dan pengetahuan yg memadai untuk membuat produk stem cell yang aman dan berkualitas,” terangnya.

Semua terapi stem cell terutama yg diberikan secara sistemik perlu dilakukan oleh dokter yang kompeten di bidang penyakit yg ditanganinya. Kolegium yang sudah mendaftar ke kementrian kesehatan utk penggunaan stem cell untuk terapi adalah kolegium ortopedi dan bedah plastik.

“Barangkali akan masuk dari kolegium2 lainnya, karena klnisi yg sudah melakukan uji klinis ( clinical trial ) mengetahui potensi stem cell yaitu untuk mengatasi penyakit2 yg sulit disembuhkan” paparnya.

Saat ini, masih banyak uji klinik yang masih berlangsung untuk membuktikan safety dan efikasi (kemanjuran) pemberian stem cell.

“Bagi klinisi yang telah menggunakan layanan ProSTEM yaitu mengolah stem cell di laboratorium kami, tidak perlu khawatir akan legitimasinya, karena kami telah memperoleh ijin resmi dari Kementrian Kesehatan RI No. 50 th 2012 sejak tahun 2016 yg lalu,” tegasnya.

Dengan kasus ini, Cynthia berharap, masyarakat dan klinisi dapat mendukung terapi menggunakan stem cell, dengan cara memilih klinik/RS yang sudah memiliki ijin, stem cell di olah di laboratorium berijin dari kemenkes RI, dilakukan oleh dokter yg memiliki kompetensi dan knowledge yg baik tentang stemcell, terlebih yg telah memiliki pengalaman terapi stem cell.

“Sehingga stem cell bukanlah obat yg ditakuti atau dihindari tetapi menjadi terapi yg dapat mendukung kelangsungan hidup pasien ( Delivering life-saving regenerative medicine ),” ujar Cynthia. (*/Dry)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here