Ini Makna dan Simbol ‘Bleketepe’ dalam Tradisi Pernikahan Adat Jawa

Foto: Ahmad ZR/Indonesiainside.id

Indonesiainside.id, Jakarta – Rangkaian acara pernikahan putra Siti Hadijanti Rukmana atau Tutut Soeharto; Danny Bimo Hendro Utomo dengan gadis Makassar; Raiyah Chitra Caesaria diawali dengan pemasangan bleketepe atau anyaman daun kelapa. Simbol ini sebagai tanda dimulainya prosesi pernikahan.

Setelah pemasangan bleketepe, kemudian dilanjutkan dengan upacara pemasangan tuwuh atau tuwuhan. Tuwuh dalam bahasa Jawa berarti tumbuhan, atau tumbuh, dengan harapan pasangan calon pengantin akan tumbuh beranak pinak, atau tumbuh berkembang menuju kebahagiaan rumah tangga pada khususnya.

Pemasangan bleketepe dan tuwuh dilakukan langsung oleh Mbak Tutut bersama suaminya, Indra Rukmana. Tuwuhan sendiri ada beberapa jenis tumbuhan dan buah yang dipasang di depan rumah, antara lain tebu wulung, padi, daun beringin, cengkir, ubi, terong, bengkoang, dan pisang raja. Semuanya tumbuhan itu memiliki makna dalam adat pernikahan Jawa.

Menurut penanggungjawab kegiatan pernikahan, Dewi Meitasari, bleketepe ini sebagai penanda dimulainya suatu hajatan yang dilaksanakan. Pemasangan bleketepe dan tuwuhan sendiri merupakan penanda dalam adat Jawa bahwa pemilik rumah memiliki niatan hajat.

“Ini sebenarnya bukan doa hanya sebagai penanda, dalam adat Jawa,” kata Dewi di kediaman calon pengantin pria, Jalan Yusuf Adiwinata, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (13/2).

Di antara filosofi tersebut, seperti pisang raja yang berbuah matang, dengan harapan calon mempelai yang akan menikah sudah cukup matang dalam berumah tangga. Pisang raja dipilih agar nantinya calon pengantin memiliki kemuliaan seperti raja.

Sedangkan kelapa cengkir gading sebagai perlambang dari rahim seorang ibu atau lambang keturunan. Cengkir merupakan singkatan dari kencengin pikir (persetujuan), yang melambangkan bahwa kedua orang tua telah kenceng ing pikir (menyetujui) atas keduanya.

Sementara, bambu wulung, bentuknya yang lurus,  hitam dan kuat  digunakan sebagai penyangga gapura tarub. Hal ini melambangkan pesan dan harapan akan kekuatan, kesentosaan dan kelestarian dalam membangun keluarga.

Adapun tebu wulung, tampak manis karena warnanya yang merah.  Melambangkan kehidupan serba menyenangkan setelah berumah tangga, sedangkan wulung berarti sepuh, sehingga diharapkan setelah menikah kedua mempelai memiliki jiwa yang sepuh atau bijaksana.

Dewi mengatakan, kegiatan ini biasa dilakukan sehari sebelum acara adat siraman dilaksanakan. “Kebiasaan dalam keluarga Cendana, pasang tarup blaketepe satu hari sebelum acara. Jadi besok tinggal acara adat siraman,” katanya.

Setelah siraman, dilanjut dengan midodarini. Midodareni berasal dari bahasa Jawa ‘widodari’ alias bidadari dalam bahasa Indonesia.

Masyarakat Jawa tradisional percaya bahwa pada malam tersebut para bidadari dari kayangan akan turun ke bumi dan menyambangi kediaman calon pengantin perempuan. Konon, para bidadari ini akan memberi wahyu yang dapat menyempurnakan dan mempercantik pengantin perempuan.

Midodareni dilangsungkan pada malam hari, di mana calon pengantin laki-laki datang dan menghantarkan seserahan kepada calon pengantin perempuan. Pada malam midodareni ini, keluarga besar calon pengantin laki-laki berkunjung ke rumah calon pengantin perempuan untuk mempererat tali silaturahmi.

“Dalam midodarini ada juga namanya angsul. Angsul itu seperangkat baju yang akan di pakai calon pengantin yang akan dipakai Sabtu (15/2) besok pada acara akad nikah,” katanya.

Adapun makna bahan bleketepe seperti daun alang-alang, yaitu agar dapat tumbuh dimana-mana serta tahan panas dan hujan. Ini merupakan harapan agar kedua pengantin dapat hidup tahan banting, memiliki semangat juang yang tinggi serta dapat bertahan mengatasi segala halangan dan rintangan hidup.

Sedangkan ‘daun opo-opo’ melambangkan agar tidak akan terjadi apa-apa selama perhelatan berlangsung. Adapun daun beringin melambangkan bahwa kedua mempelai dapat kokoh sehingga menjadi pengayoman dan perlindungan bagi keluarganya.

Terakhir padi melambangkan kemakmuran. Dalam tradisi pernikahan bisa dimaknai sebagai harapan agar kedua mempelai hidup cukup sandang dan pangan. Namun padi juga melambangkan kerendahan hati, seperti sifat padi yang semakin berisi semakin merunduk. (SD)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here