Riset MIT: Semburan Bersin Hingga 8 Meter, Memakai Masker Tetap Penting

Ilustrasi bersin. Foto: Getty Images

Indonesiainside.id, Jakarta – Para peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Cambridge, AS, mendeteksi seberapa kuat lontaran atau cipratan orang ketika batuk dan bersin. Tujuan penelitian ini untuk mengantisipasi penularan virus yang berasal dari droplet, termasuk corona, mengantisipasi virus dari semburan bersin dan batuk.

MIT menggunakan kamera berkecepatan tinggi dan berbagai alat sensor lain untuk mengetahui kecepatan percikan atau cipratan orang yang batuk dan bersin.

Hasilnya, mereka menemukan bahwa pernapasan menghasilkan awan gas yang bergerak cepat yang memuat cairan dalam berbagai ukuran. Awan ini bisa membawa cairan yang terkecil hingga jauh.

Penelitian yang dilakukan di laboratorium ini menemukan bahwa batuk bisa melontarkan awan cairan tersebut hingga enam meter jauhnya. Dan, bersin bisa mencapai delapan meter.

“Kami khawatir dengan konsep “jarak aman” yang saat ini diterapkan,” kata Ilmuwan yang memimpin penelitian ini, Profesor Lydia Bourouiba dari MIT, Jumat(3/4), mengutip BBC News.

“Yang kita semburkan ketika bernapas, batuk atau bersin adalah awan gas berkecepatan tinggi yang bisa bergerak jauh, dengan berbagai ukuran cairan di dalamnya dan bisa terbawa ke seluruh ruangan,” kata Bourouiba.

“Maka sesuai dengan apa yang telah kami hitung, ukur dan gambarkan secara langsung, anjuran bahwa kita aman ketika berdiri dalam jarak dua meter satu sama lain itu sebenarnya tidak benar,” katanya.

Dijelaskannya, melihat hasil penelitian itu maka dalam situasi tertentu, terutama dalam ruangan yang punya ventilasi buruk, menggunakan masker akan mengurangi risiko. Misalnya, saat bertemu dengan seseorang yang terinfeksi, masker bisa menolong mengalihkan aliran udara dan virus akan menjauh dari mulut.

“Masker dapat melindungi anda. Kecuali masker yang longgar, tentunya tidak akan melindungi kita dari kemungkinan menghirup partikel terkecil di udara karena masker seperti itu tidak menyediakan penyaringan,” kata Bourouiba.

“Namun masker begini berpeluang untuk mengalihkan arah awan gas yang terlontar dengan kecepatan tinggi ke samping, dan tidak ke depan.”

Menanggapi hasil riset MIT, perwakilan WHO Profesor Heymann, mengaku akan melakukan evaluasi lebih lanjut merujuk pada riset dari MIT dan lembaga lain sehubungan kemungkinan batuk dan bersin bisa melontarkan cairan lebih jauh daripada yang diduga sebelumnya.

“Jika bukti mendukung, maka mungkin saja memakai masker sama efektifnya dengan atau bahkan lebih efektif daripada menjaga jarak”, ujarnya.

Namun ia menambahkan bahwa masker harus dipakai dengan benar, yaitu menutupi seluruh hidung.

Jika berembun partikel bisa lewat. “Kita harus mencopotnya dengan hati-hati agar tangan tidak terkontaminasi,” katanya. (EP/BBC)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here