Terlalu Sensual, Penari Perut di Mesir Didakwa Tiga Tahun Penjara

Sama el-Masry

Indonesiainside.id, Kairo – Seorang penari perut terkenal di Mesir dijatuhi hukuman tiga tahun penjara dan didenda 300.000 pound Mesir atau sekitar Rp262 juta, Sabtu (27/6). Sama el-Masry, dianggap menghasut kebejatan dan pelanggaran susila, lewat postingan di media sosial.

El-Masry ditangkap pada April lalu terkait dengan investigasi terhadap sejumlah video dan fotonya di media sosial, termasuk di platform berbagi video popular, TikTok, yang oleh penuntut umum digambarkan sebagai sugestif secara seksual. Namun, Penari 42 tahun itu membantah tuduhan tersebut, dan mengatakan konten itu dicuri dan dibagikan dari teleponnya oleh orang lain, tanpa persetujuan.

El-Masry mengatakan bahwa dia akan mengajukan banding. Pengadilan Kairo pada Sabtu (27/6), mengatakan bahwa el-Masry melanggar prinsip dan nilai-nilai keluarga di Mesir serta membangun, mengelola, serta menggunakan situs dan akun di media sosial dengan tujuan melakukan imoralitas.

“Ada perbedaan besar antara kebebasan dan kebejatan,” kata John Talaat, anggota parlemen yang meminta tindakan hukum terhadap el-Masry dan peserta TikTok perempuan lainnya.

Talaat mengatakan bahwa el-Masry dan para influencer media sosial perempuan lainnya sedang menghancurkan nilai-nilai dan tradisi keluarga, kegiatan-kegiatan yang dilarang oleh hukum dan konstitusi. Beberapa perempuan di Mesir sebelumnya dituduh menghasut kebejatan, dengan menantang norma sosial konservatif negara itu, termasuk aktris Rania Youssef, dimana para kritikus mengecam pilihan pakaiannya untuk festival film Kairo pada 2018.

Pada 2018, Mesir mengadopsi undang-undang kejahatan dunia maya yang memberikan pemerintah wewenang penuh untuk menyensor internet dan melakukan pengawasan komunikasi. Bagi pelanggar bisa mendapatkan hukuman penjara setidaknya dua tahun dan denda hingga 300.000 pound Mesir atau sekitar Rp262 juta.

Sekelompok perempuan berpengaruh di TikTok, Instagram, dan YouTuber ditangkap oleh otoritas Mesir dalam beberapa bulan terakhir dengan tuduhan mempromosikan kebejatan dan pelanggaran susila di media sosial. Dilansir dari The Guardian, Talaat mengatakan bahwa para influencer lainnya diharapkan akan menghadapi hukuman penjara yang sama seperti el-Masry karena mereka melakukan kejahatan yang sama.

Sementara itu, Entessar el-Saeed, seorang pengacara hak-hak perempuan dan Kepala Pusat Pengembangan dan Hukum Kairo, mengatakan bahwa perempuan adalah satu-satunya kategori yang ditargetkan oleh pihak berwenang menurut hukum ini. “Masyarakat konservatif kita sedang berjuang dengan perubahan teknologi, yang menciptakan lingkungan dan pola pikir yang sangat berbeda,” katanya. (NE)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here