Orang Dewasa yang Obesitas Rawan Terserang Flu Babi, Ini Penjelasannya

ilustrasi obesitas. foto: pixabay

Indonesiainside.id, Jakarta–Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal Clinical Infectious Diseases menjelaskan jika orang dewasa yang mengalami obesitas lebih rentan terserang influenza A/H1N1pdm atau virus flu babi.

Studi yang diunggah situs web Universitas Michigan (UM) tersebut menjelaskan para peneliti mempelajari data dari 1.500 lebih individu dalam 330 rumah tangga yang mendaftar untuk Studi Penularan Rumah Tangga Nikaragua, studi berbasis komunitas yang menelusuri kondisi kesehatan suatu kelompok masyarakat yang sedang berlangsung di Managua, Nikaragua. Para partisipan diikuti selama 10-15 hari, kemudian menjalani tes usap (swab) dan tes darah guna mengonfirmasi infeksi.

Mereka menemukan bahwa orang dewasa dengan obesitas memiliki kemungkinan yang dua kali lebih besar untuk mengalami infeksi H1N1 dengan gejala dibanding mereka yang tidak mengidap obesitas. Kaitan tersebut tidak ditemukan dalam kasus galur influenza musiman H3N2.

Mekanisme yang mengaitkan obesitas dengan peningkatan level keparahan penyakit belum diketahui, tetapi peradangan kronis meningkat seiring usia dan dapat dikaitkan dengan penyakit kronis. Sejumlah studi terpisah menunjukkan bahwa obesitas meningkatkan level sitokin proinflamasi dan menurunkan level sitokin antiinflamasi, papar para peneliti. Obesitas juga dapat mengganggu pemulihan luka dan memicu kesulitan mekanis saat bernapas serta meningkatkan kebutuhan oksigen.

“Penelitian ini penting karena kasus obesitas di seluruh dunia meningkat dengan cepat. Jumlahnya diperkirakan naik tiga kali lipat sejak era 1970-an,” kata Hannah Maier, penulis utama sekaligus peneliti pascadoktoral di Fakultas Kesehatan Masyarakat UM. “Jika obesitas berkaitan dengan meningkatnya risiko dan jumlah kasus obesitas bertambah banyak, itu bisa berarti jumlah kasus infeksi juga semakin banyak.”

Baru-baru ini, sebuah studi baru menyatakan bahwa galur baru H1N1 pada babi di China berpotensi menjadi pandemi, seraya menyoroti pentingnya melanjutkan tipe penelitian ini bahkan saat masih menghadapi pandemi Covid-19.

“(Studi) ini menggarisbawahi bahwa meski kita berada di tengah sebuah pandemi, kita tidak boleh berhenti mewaspadai kemunculan virus-virus lainnya, terutama influenza,” katanya.

Selain itu, (studi) ini menyoroti bahwa Amerika Serikat perlu berpartisipasi di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). “Program influenza WHO menyediakan layanan yang krusial bagi dunia dalam memantau sirkulasi influenza guna menghasilkan rekomendasi galur vaksin dan mengawasi potensi kemunculan berbagai virus inluenza baru, ” ujar Aubree Gordon, penulis senior sekaligus ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UM. (SD/ xinhua)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here