Pegiat Batik Difabel Tuna Rungu Bikin Masker Berbahan Batik

Novita, penyandang disabilitas tuna rungu memperlihatkan masker batik yang diproduksinya di Rumah Batik Palbatu, Jakarta Selatan, Ahad (4/10/2020). (ANTARA/Laily Rahmawaty)

Indonesiainside.id, Jakarta–Sejumlah pegiat batik dari kalangan difabel tuna rungu binaan Rumah Batik Palbatu, Jakarta Selatan, kini memproduksi masker khusus terbuat dari kain batik.

Budi Dwi Hariyanto, salah satu pendiri Rumah Batik Palbatu, mengatakan para penggiat batik difabel ingin berkontribusi dalam penanganan Covid-19 dengan memproduksi masker berbahan batik.

“Sejak PSBB diberlakukan lagi di Jakarta, berarti kita juga harus punya sumber ‘income’ (pemasukan) yang lain, salah satunya memproduksi masker kain batik,” kata Budi Dwi Hariyanto yang akrab disapa Harry, Minggu (4/11).

Harry menyebutkan produksi masker kain rata-rata per pekan antara 50 hingga 100 buah.

Masker batik yang diproduksi berasal dari kain-kain batik yang belum dimanfaatkan. Lalu dijahit dan dibuat masker dua tipe, yakni untuk jilbab dan untuk yang tidak pakai jilbab. “Satu masker kami jual seharga Rp15.000,” katanya.

Untuk tingkat keamanan masker, kata Harry, masker batik yang mereka produksi dibuat sesuai standar pemerintah yakni terdiri atas tiga lapis kain dengan bahan yang nyaman.

Kain batik berada di permukaan terluar dengan di bagian dalam dan belakang masker dibuat dari kain pohon berbahan katun.

“Kain batik sudah diproses sedemikian rupa sehingga ketika dipakai aman dan nyaman, termasuk aroma dari lilin atau pewarnaan sudah disterilkan,” ujar Harry.

Penjualan masker batik karya difabel dari Rumah Batik Palbatu masih diedarkan secara daring (online) lewat media sosial serta aplikasi pesan pemilik Rumah Batik Palbatu.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here