PT PALYJA Pastikan Persediaan Air di Jakarta Aman

palyja
Logo PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja), Jakarta.

Oleh: M Aulia Rahman

Indonesiainside.id, Jakarta – Meski masuk musim kemarau, PT PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA) menyatakan bahwa sumber air yang dikelola masih dalam tataran aman dan belum menyentuh kekeringan. Hal tersebut dijelaskan oleh Corporate Communications and Social Responsibilities Division Head, Lydia Astriningworo

“Secara kuantitas, sumber air yang diolah PALYJA hingga saat ini masih aman,” tuturnya melalui keterangan tertulis yang diterima Indonesiainside.id, Jumat (23/8). Lydia membenarkan, bahwa saat ini terjadi penurunan kualitas sumber air baku dari Kali Krukut karena musim kemarau dan mengakibatkan penurunan debit produksi instalasi pengolahan air (IPA) Cilandak.

“Sebagai kompensasi, PALYJA membeli air bersih dari Aetra sebesar 100 lps,” tuturnya. Ia memaparkan sumber air baku yang diolah PALYJA berasal dari Kanal Tarum Barat dengan sumber air dari Waduk Jatiluhur yang dioperasikan oleh Perum Jasa Tirta (PJT) II sebesar 64,7 persen, Kali Krukut sebesar 4,1 persen, dan Cengkareng Drain sebesar 1,5 persen.

“Di samping itu ada pula air bersih yang langsung dibeli PALYJA dari PDAM Tangerang sebesar 29,7 persen,” ungkap dia. Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) lewat Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan, mengeluarkan peringatan dini ancaman kekeringan yang melanda sebagian besar wilayah DKI Jakarta dan Banten.

Wilayah tersebut mengalami deret hari tanpa hujan (HTH) atau hari kering lebih dari 20 hari hingga lebih dari 60 hari. Dampaknya, akan terjadi pengurangan ketersediaan air tanah, sehingga menyebabkan kelangkaan air bersih.

Hal tersebut juga diakui oleh Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, Juaini Yusuf, Kamis (22/8) lalu. Ia menyebut sejumlah waduk di Jakarta pun sudah terlihat mengering. Bahkan, sudah terlihat lumpurnya.

“Di Waduk Pluit, misalnya. Waduk ini hulunya di Katulampa, memang tinggal terlihat batu-batunya doang. Jadi diperhatikan memang aliran air mulai mengering karena curah hujan tidak ada,” kata Juaini saat ditemui di Gedung DPRD.

Meski belum memiliki data lengkap, Juaini memperkirakan kekeringan parah mendominasi di wilayah pesisir, seperti Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Ia menjelaskan ketika saat tidak musim kering saja warga perlu membeli air bersih dari PDAM, karena air tanahnya semakin menyusut.

“Ditambah sekarang kemarau, lebih susah airnya. Daerah (Jakarta) Timur dan Selatan belum terlalu merasakan. Dua wilayah yang paling merasakan kekeringan itu Barat dan Utara. Di sana memang ada penurunan tanah,” tutur Juaini. (AS)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here