BMKG Perkirakan Musim Kemarau Berlangsung Tujuh Bulan di 2020

Perkirakan Musim Kemarau 2020 musim hujan periode 2019/2020 mengalami kemunduran, dan sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim hujan pada bulan November.
Sawah warga kering akibat musim kemarau yang panjang. Foto: Istimewa

Indonesiainside.id, Jakarta – Belakangan ini, ibu kota terasa panas menyengat oleh terik matahari. Masyarakat diimbau untuk mengoptimalkan menjaga cadangan air melalui optimalisasi manajemen operasional air waduk saat musim penghujan dan melalui gerakan memanen air hujan.

Tahun depan, musim kemarau dimulai pada bulan April hingga Oktober. Hal tersebut diperkirakan oleh Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG).

Berdasarkan hasil monitoring dan analisa dinamika atmosfer, BMKG memprediksi pada tahun 2020 tidak terindikasi akan terjadi El Nino kuat. Hal serupa juga diprediksi oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan National Aeronautics and Space Administration (NASA) dari Amerika beserta Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC) dari Jepang.

“Hal ini menandai tahun 2020 nanti diperkirakan tidak ada potensi anomali iklim yang berdampak pada curah hujan di wilayah Indonesia. Curah hujan akan cenderung sama dengan pola iklim normal (klimatologisnya),” ujar Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, melalui keterangan tertulisnya, Selasa (22/10).

Dwikorita mengungkapkan, tahun depan, musim kemarau umumnya akan dimulai pada bulan April sampai Mei hingga bulan Oktober. Sedangkan wilayah di dekat ekuator, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Riau, musim kemarau pertama akan dimulai pada bulan Februari hingga Maret.

Sehingga, tetap perlu diwaspadai untuk potensi kondisi kering, yang dapat berdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di awal tahun pada wilayah dekat ekuator tersebut. Untuk tahun ini, Dwikorita mengatakan bahwa El Nino lemah telah berakhir pada Juli lalu, dan kondisi netral ini masih berlanjut hingga akhir tahun.

“Teknologi modifikasi cuaca dapat diterapkan sebagai alternatif pada saat peralihan kedua musim tersebut, terutama bagi wilayah yang rawan kekeringan dan karhutla,” tuturnya. Fenomena yang saat ini sedang terjadi, adalah rendahnya suhu permukaan laut daripada suhu normalnya yang berkisar antara 26 sampai 27 derajat celcius di wilayah perairan Indonesia bagian selatan dan barat, sehingga berimplikasi pada kurangnya pembentukan awan di wilayah Indonesia.

“Dengan adanya fenomena tersebut, mengakibatkan awal musim hujan periode 2019/2020 mengalami kemunduran, dan sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim hujan pada bulan November. Kecuali untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan yang dimulai sejak pertengahan Oktober 2019,” paparnya. (PS)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here