Hujan Tak Kunjung Datang, BPBD DKI Imbau Masyarakat Hemat Air

Seorang warga membawa galon air yang kosong di Muara Kamal, Jakarta untuk membeli air akibat kekeringan. Foto: ant

Indonesiainside.id, Jakarta – Cuaca panas terik matahari tanpa diselimuti awan menghiasi langit ibu kota. Pasalnya, hal itu disebabkan gerak semu matahari yang tepat berada di garis khatulistiwa.

Masyarakat ibu kota diminta untuk selalu waspada terhadap dampak dari musim kemarau, yakni penggunaan air. Hal itu diutarakan oleh Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Data dan Informasi Kebencanaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Muhammad Ridwan.

“Imbauan kami, pertama hemat air menggunakan air untuk kebutuhan penting seperti minum dan Mandi Cuci Kakus (MCK),” ujarnya, Selasa (22/10). Selain itu, lanjut Ridwan, potensi kebakaran juga akan cepat merambat, karena kondisi kering sehingga api dapat dengan cepat membesar.

“Nah terutama waspada ketika membakar sampah, kondisinya saat ini sedang kering khawatir akan menyambar,” tuturnya. Untuk mengantisipasi bahaya penyakit pernapasan yang ditimbulkan akibat musim kemarau saat ini, BPBD DKI menyarankan agar masyarakat menyiapkan masker.

“Waspada dengan menggunakan masker karena rentan terkena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut),” paparnya. BPBD DKI juga terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat dalam rangka menghadapi bencana hidrometeorologi.

Bencana hidrometeorologi adalah bencana alam yang terjadi sebagai dampak dari fenomena meteorologi seperti angin kencang hujan lebat, dan gelombang tinggi. Maka dari itu, BPBD DKI memberikan edukasi kepada masyarakat guna menyelamatkan diri saat bencana itu terjadi.

“Kalau bencana hidrometeorologi seperti itu kita memberikan edukasi kepada masyarakat terkait persiapan. Kalau ada bencana apa saja yang harus dilakukan. Misalnya tidak panik, diberikan pengetahuan, apa yang harus dilakukan ketika ada bencana,” urai Ridwan.

Ridwan menuturkan, bencana gempa bumi misalnya, masyarakat harus diberitahukan di mana titik evakuasinya. Karena, kata dia, hal itu penting untuk diketahui masyarakat.

“Jadi BPBD DKI hanya memberikan edukasinya terkait apa yang harus dilakukan kepada masyarakat,” kata Ridwan. Menurut dia, pemberian edukasi ke masyarakat cukup penting.

Pasalnya, banyak warga menjadi korban jiwa saat bencana karena tidak memiliki pengetahuan saat terjadi bencana.

“Sebenarnya bencana itu bukan yang membunuh manusia. Tapi lebih kepada bagaimana manusia itu sendiri saat bencana terjadi. Kalau dia panik itu biasanya akan lebih fatal. Yang penting edukasi, persiapan dan knowledge,” ujar Ridwan. (PS)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here