Anies Baswedan: Saya Sadar Waktu Itu Banyak Diserang, Dibantah, tapi…

Anies Baswedan
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pada "Diskusi Publik" di Paloma Bistro, Menteng, Jakarta, Rabu (16/10). Foto: Muhammad Zubeir/Indonesiainside.id

“Saya sadar. Waktu itu saya banyak diserang, dibantah. Tapi, saya tidak takut atas apa yang ditulis di medsos (media sosial). Saya lebih memikirkan apa yang akan ditulis sejarawan besok. Mereka semua nanti akan melihat ini pakai data, lengkap, apa yang kita kerjakan, benar atau tidak.”

Demikian dikatakan Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, saat membeberkan alasan yang membuatnya proaktif mencegah penyebaran Covid-19, khususnya di Ibu Kota. Sejak Januari 2020 lalu, Anies sudah melakukan pemantauan atau pergerakan senyap.

Mantan menteri pendidikan dan kebidayaaan (mendikbud) itu berani berseberangan dengan para pejabat negara yang terus memberikan ketenangan kepada warga, bahwa virus corona tidak berbahaya. Masih ingat? Ada beberapa menteri beranggapan, “lebih banyak orang meninggal dunia akibat flu dibandingkan dengan virus corona.”

Bagi Anies, anggapan itu keliru. Ancaman virus corona jenis baru atau dikenal dengan Covid-19, sudah serius sejak Januari 2020 lalu. Bahkan sangat nyata karena sudah ada negara yang ketar-ketir menghadapi virus itu, setidaknya Pemerintah Cina.

Menurut Anies, Jakarta merupakan gerbang Indonesia untuk dunia Internasional. Artinya, jika Jakarta darurat Covid-19, maka sama saja seluruh wilayah di NKRI merasakan hal itu. Sejak Januari 2020 lalu, dia sudah aktif berkoordinasi dengan pihak Imigrasi untuk mendata warga negara yang pernah melakukan perjalanan ke Cina.

Hal itu dilakukan untuk melakukan persiapan jika kasus serupa ditemukan di Indonesia. Hal terpenting bagi Anies, Covid-19 tidak boleh dianggap sebelah mata, apalagi meremehkan dan menganggapnya hal yang biasa.

“Ini sangat serius. Ada yang pernah bilang ‘Pak Anies, kan tingkat kematiannya cuma 3 persen. Lebih rendah daripada kanker’. Ada bahkan yang bilang begini ‘kecelakaan lalu lintas itu tingkat kematiannya lebih tinggi’. Saya jawab ‘ini bukan soal penyakitnya, ini soal penyebarannya’. Banyak orang terlalu lama membicarakan soal penyakitnya,” kata Anies dalam Podcast Deddy Corbuzier di Jakarta, Sabtu (28/3).

Anies menjeskan, masalah utama dari virus itu adalah penyebarannya yang sangat cepat. Hal itu diperparah dengan sistem kesehatan yang tidak didesign untuk menangani epidemic apalagi pandemic global seperti Covid-19.

“Problem dari sini adalah penyebarannya, ketika terjadi bersamaan, asalnya ratusan jadi ribuan, jadi belasan ribu, jadi puluhan ribu, maka sistem pelayanan kesehatan kita tidak sanggup untuk melayani. Jumlah tempat tidur terbatas, jumlah kamar terbatas, jumlah rumah sakit terbatas, jumlah dokter terbatas, jumlah perawat terbatas. Jadi bukan soal 3 persen, tapi kejadiannya bersamaan dalam jumlah yang sangat banyak. Artinya, tidak jadi 3 persen lagi karena tidak tertangani,” tutur dia.

Menurut Anies, sistem kesehatan memiliki ambang batas pelayanan kesehatan. Misalnya, semua rumah sakit hanya mampu menangani 1.000 pasien, maka ketika ada 50-100 kasus masih bisa ditangani. Ketika angkanya mencapai 500, maka tenaga medis masih mampu melakukan pelayanan dengan baik. Jika angkanya mencapai 1.000 kasus, maka tenaga kesehatan mulai kewalahan. Masalah akan timbul saat jumlah melonjat tinggi dibandingkan dengan kapasitas kesehatan.

“Ketika naik 2.000-3.000, ya sudah, sistem yang kita miliki akan kewalahan, ini tidak hanya di Indonesia, di seluruh dunia. Di seluruh dunia itu, sistem kesehatan tidak di-design untuk melayani epidemik apalagi pandemik. Tidak siap,” ucap dia.

Kecuali Singapura sebagai salah negara yang telah mempersiapkan kondisi darurat seperti saat ini. Karena itu, Anies menegaskan, ketika virus itu muncul pertama kali di Wuhan dan penyebarannya sangat masif, DKI Jakarta sudah melakukan operasi senyap.

“Maka itu, ketika mengetahui ini, apa yang harus kita kerjakan, menahan penyebaran jangan sampai terlalu menginkat terlalu banyak kasus sehingga melampuai kapastitas. Ini artinya, kalau ada kasus ungkapkan secara transparan, dari awal transparan,” ucap dia.

Dia mengatakan, salah satu yang harus dikerjakan adalah mengarantina atau memerintahkan semua orang yang pernah kontak dengan pasien positif Covid-19. Karantina itu berguna untuk memberi kesempatan kepada para tenaga medis melakukan pelayanan bagi pasien yang parah.

“Ketika pemerintah masih mengatakan Indonesia masih negatif, pada 1 Maret DKI sudah mengatakan sudah ada, kenapa? Sudah tidak bisa ditahan, angkanya sudah sangat mengkhawatirkan. Saya memonitor informasi tentang Covid-19 ini terus menerus dari mulai Januari-Februari, angkanya terus meningkat, bahkan jumlah orang yang sakit karena pnemounia bulan Februari meningkat tinggi sekali. Ini kan masih pnemounia, kita kan belum tahu positif atau tidak, karena tidak ada kewenangan memeriksa. Jadi kita tidak tahu persisnya,” ucap dia.

Pada saat memasuki bulan Maret, Anies memaksakan diri untuk mengumumkan kepada masyarakat Jakarta untuk berhati-hati dengan penyebaran virus tersebut. Meski, kala itu pemerintah membantah Anies dengan mengatakan Indonesia masih negative Covid-19, tapi ia merasa berkewajiban menyampaikan agar masyarakat mawas diri. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here