Gelar Shalat Id, Khatib Cerita Seorang Saleh yang Menderita Penyakit Menular

Warga Petogogan melaksanakan shlat ied di masjid. Foto: Suandri Ansah/Indonesiainside.id

Indonesiainside.id, Jakarta – Sejumlah masjid di Jakarta menggelar shalat ied Idul Fitri 1441 Hijriah. Sejak pukul 06.00 warga berbondong-bondong mendatang masjid untuk menunaikan ibadah raya selepas Ramadhan ini.

Beberapa masjid di Jakarta Selatan, misalnya Masjid At-Taqwa, Pela Mampang dan Nurul Huda, Petogogan. Dua masjid ini melaksanakan shalat id dengan menerapkan protokol kesehatan. Jamaah yang datang ke masjid wajib cuci tangan dengan hand sanitizer, membawa sajadah sendiri, dan mengenakan masker.

Pantauan Indonesiainside.id di Masjid Nurul Huda, Petogogan, Kebayoran Baru, DKM Masjid menyediakan sebuah meja  yang terdapat cairan sanitizer dan meminta jamaah membasuh tangan mereka. Jamaah yang hadir juga mengenakan masker dan dipakai sepanjang perjalanan ke masjid.

DKM mempercepat pelaksanaan shalat menjadi pukul 06.30 dari biasanya pukul 07.00 WIB. Termasuk khutbah yang biasanya agak lama, kini berlangsung sekitar 10 menit.

Saat naik mimbar, khatib melantunkan syukur masih bisa beribadah jamaah meski di tengah wabah. Khatib juga mengajak jamaah meningkatkan ketaqwaan selepas Ramadhan.

“Kita jadikan momentum Idul Fitri berbakti kepada orang tua, kembali meramaikan rumah allah, jaga shalat lima waktu,” pesannya.

Selepas itu, khatib menceritakan sebuah kisah tentang seorang saleh yang terkena wabah kusta. Akibat penyakit yang diderita, saleh paruh baya itu dijauhi warga sekitar karena takut tertular, warga juga mengisalolasinya di sebuah wilayah.

Selama masa isolasi itu, dia mendirikan sebuah surau agar bisa bermunajat. Saat surau telah berdiri, dia mengajak warga sekitar untuk beribadah, kebetulan wilayah tersebut belum memiliki masjid besar.

“Hari demi hari jadilah surau itu. Orang paruh baya itu melaksanakan shalat pada umumnya dan mengajak warga,  tapi tak ada yang mau hadir lantaran takut tertular,” papar sang khatib.

Karena penyakitnya tak kunjung sembuh, orang tersebut berinisiatif berobat mandiri ke sebuah daerah. Ia pergi diam-diam ke luar kota tanpa diketahui satu pun warga.

Malangnya, tak berapa lama setelah kepergiannya, wilayah tersebut tertimpa penyaikt baru. Ulat bulu muncul di rumah-rumah warga dan menyebarkan penyakit gatal-gatal.

“Masyarakat ketakutan, satu-satunya yang aman dari wabah adalah surau itu. Akhirnya warga berbondong-bondong mengungsi ke sana meski mereka juga ketakutan dengan orang paruh baya itu. Namun, warga tak mendapati warga paruh baya itu di kediamaannya,” tutur khatib.

Beberapa bulan berikutnya, wabah mulai mereda dan warga bisa kembali ke rumah mereka masing-masing. Meski demikian, warga terus bertanya-tanya kemanakah orang tua yang sakit kusta itu pergi.

Sebagai ungkapan syukur, warga bernisiatif memperindah surau tersebut. Akhirnya dibangunlah sebuah masjid yang layak dan bagus, warga pun beribadah di situ setiap harinya.

“Yang punya pulang setelah sembuh dan menjalani pengobatan. Dia bingung, kok suraunya jadi masjid bagus. Warga menjelaskan dan akhirnya meminta maaf kepada orang saleh itu,” katanya.

Dari cerita ini, khatib berpesan bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir dari Allah. Manusia boleh berupaya semkasimal mungin, tapi tuhan jualah yang berkehendak.

“Kita berusaha, tapi kalau Allah takdirkan kena pasti kena. Tanpa corona kalau meninggal pasti meninggal,” katanya. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here