Kegaduhan Politik

Foto : Info Buruh

Sebuah negeri yang selalu mengalami gonjang-ganjing politik sejatinya adalah akibat dari sebuah kepemimpinan yang dipegang oleh orang-orang yang tidak cukup kompeten.

Indonesiainside.id, Jakarta — Kegaduhan politik itu beragam bentuknya, mulai dari protes “Emak-emak” karena harga-harga sembago yang terus meninggi, para buruh yang selalu demo menuntut kenaikan UMR-nya, berita-berita hoax yang terus berseliweran, dan janji-janji pemimpin yang tak pernah ditepati.

Adalah Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menarasikan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ» ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ»

Akan datang pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan, saat itu pendusta dibenarkan, orang yang benar justru didustakan, pengkhianat diberikan amanah, orang yang dipercaya justru dikhianati, dan Ar-Ruwaibidhah berbicara. “Apakah Ar-Ruwaibidhah?” Beliau bersabda: Seorang laki-laki yang bodoh (Ar Rajul at-Taafih) yang mengurusi urusan orang banyak/publik. (HR. Imam Ibnu Majah dan Imam Ahmad)

Pernyataan dari Sang Nabi tersebut adalah futuristik tentang masa depan umat manusia. Kebodohan, kebohongan, keculasan, pemutarbalikan fakta dan data begitu masif. Seorang bodoh ditampilkan menjadi pemimpin, lalu di remote oleh para pengusungnya. Jati-diri kepemimpinannya lenyap, yang ada hanyalah sosok manusia yang diombang-ambingkan oleh situasi. Satu sisi ia harus melayani kehendak rakyat, sisi lainnya dia tidak bisa lepas dari kendali para “sponsor” yang mengatrol dan mengontrolnya.

Lalu, untuk menutupi kebodohannya itu, ia dicitrakan sebagai seorang yang sederhana, pro-rakyat, dan karena itu harus keluar masuk gang kancil, gang tikus, ke gorong-gorong, bagi-bagi duit kepada masyarakat yang menyapanya di pinggir jalan, dan seterusnya. Pencitraan dinomorsatukan untuk menutupi prestasi yang tak kunjung mendapat apresiasi.

Masyarakat dibuat terpesona, sekaligus terkagum-kagum. Yang bodoh dibuat seakan-akan pintar, yang pintar dibuat bodoh, yang benar dibuat salah, yang salah dibenarkan.
Kapankah jaman itu terjadi? Tanda-tanda itu sudah mulai nampak. Betapa banyak orang yang menyewa konsultan politik demi pencitraan dirinya untuk maju sebagai pemimpin, baik sebagai walikota, bupati, gubernur, bahkan presiden. Juga para calon anggota dewan dan dewan perwakilan daerah.

Apa yang dilakukan oleh para konsultan politik tersebut? Yang bodoh dibuat seakan-akan pintar, yang busuk diharum-harumkan, yang korup dicitrakan sukses membangun, yang perilakunya preman dibuat seakan-akan wakil wong cilik dan memperjuangkan nasib rakyat.

Para konsultan politik yang melakukan survey elektablitas atas seseorang (atau sekelompok orang) yang membayarnya dengan lihainnya memain-mainkan angka. Yang kecil dibesarkan yang besar diminimalkan. Publik pun disuguhi hasil “survey” yang penuh rekayasa itu dengan tujuan untuk menggiring opini dan menyenangkan yang bayar.

Dalam suatu tatanan masyarakat yang mulai tercerahkan, perilaku ketidakjujuran tersebut akan mudah terdeteksi dan menjadi kontra-produktif bagi para pelakunya.

Faktor kejujuran ini menjadi penting karena ia adalah parameter kebaikan. Dan jika kebaikan itu bergerak di semua level kepemimpinan dan masyarakat ia membawa perbaikan di semua lini kehidupan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:

Wajib atas kalian untuk bersikap jujur, karena kejujuran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menuntun ke surga. Apabila seseorang terus menerus bersikap jujur dan berjuang keras untuk senantiasa jujur maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai orang yang shiddiq. Dan jauhilah kedustaan, karena kedustaan itu akan menyeret kepada kefajiran, dan kefajiran akan menjerumuskan ke dalam neraka. Apabila seseorang terus menerus berdusta dan mempertahankan kedustaannya maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai seorang pendusta.” (HR. Imam Muslim dinarasikan oleh Sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ’anhu).

Jadi, untuk menilai baik-tidaknya seorang pemimpin, bisa melalui pintu kejujuran ini. Seorang Ruwaibidhah akan selalu membuat ketidak-jujuran demi menutupi kebohongan-kebohongan untuk menutupi ketidakmampuannya.

Karena itu, di era kepemimpinan dipegang oleh kaum Ruwaibidhah maka berita-berita hoax akan bermunculan silih-berganti. Wallahu A’lam.

(Kang Hemad)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here