‘Sisi Islami’ Pak Harto Menjelang Lengser

Oleh: AZ Makarim

HM. Soeharto, Presiden RI ke-2, lahir di Yogyakarta pada 8 Juni 1921, wafat 27 Januari 2008 di Jakarta. Memimpin Indonesia selama 32 tahun, 9 tahun terakhir kebijakan politiknya condong ke umat Islam. Banyak pihak yang tidak setuju atas pemihakan tersebut. Itulah pilihannya sebagai bekal menuju husnul khotimah.

Indonesuainside.id, Jakarta – Malam Idul Fitri tahun 1997. Gema takbir bertalu-talu. “Allaahu akbar… Allaahu akbar… Allaahu akbar….. Laa – ilaaha – illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahil – hamd.” Puja-puji kebesaran Allah ini bukan terdengar di masjid atau musholla, tetapi di kawasan Monumen Nasional (Monas).

Untuk pertama kalinya, acara takbiran nasional diperdengarkan secara resmi, dipimpin Presiden Soeharto yang langsung memimpin gema takbir. Bukan hanya ikut memimpin takbir, tetapi juga saat ia ikut menabuh beduk.

Dengan mengenakan baju koko putih, kopiah putih dan sarung. Jenderal bintang lima itu melantunkan takbir seperti umumnya masyarakat, didampingi Wakil Presiden Jenderal (Purn) Try Sutrisno, Rektor UIN Jakarta Prof Dr Muhammad Quraish Shihab, sejumlah anggota kabinet, perwakilan negara-negara sahabat, para tokoh nasional. Tidak ketinggalan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Dr KH Hasan Basri.

Suasana takbir makin syahdu dengan kehadiran H Rhoma Irama, Emha Ainun Nadjib, KH Zainuddin MZ, Qori senior Muammar Zainal Asykin, dan KH Hasan Basri kala itu.

Kehadiran Rhoma, Emha, Zainuddin, dan Muammar turut menjadi daya tarik masyarakat yang hadir.

“Semua khidmat selama mengikuti acara. Pak Harto pun terharu,” demikian kesan Dubes Saudi Arabia dikutip KH Hasan Basri mengungkapkan acara Gema Takbir di Monas. (Selamat Ginting, Soeharto, Tabir dan Takbir 1997, Republika Online, Rabu 20 Jun 2018).

***

Tahun 1997, setahun sebelum Pak Harto lengser keprabon, adalah puncak mantan orang nomor satu di Indonesia ini nampak begitu dekat dengan Islam dan lebih banyak mendahulukan urusan ibadah. Usianya kala itu memasuki 75 tahun.

Perubahan sikap presiden kedua Indonesia ini dimulai sejak akhir tahun 80 atau awal tahun 90-an. Soeharto mulai mendekatkan diri pada kelompok Islam yang menurut para pengamat disebut sebagai langkah mengevaluasi strateginya menghadapi kelompok Islam.

Langkah ini cukup mengagetkan banyak pihak, mengingat sebelumnya, arah bandul politik tidak begitu memihak mayoritas pemeluk negeri ini, bahkan sempat dianggap alergi Islam.

Lihat saja, di awal kekuasaan, “Islam politik” yang ditandai dengan hadirnya Partai Masyumi, ditekan Soekarno. Di era berikutnya, meski Soeharto membebaskan pemimpin politik Islam dari kalangan Masyumi yang ditahan Soekarno –di ataranya ada M Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Mohammad Roem, dan Hamka– Harapan agar nama Masyumi direhabilitasi dari statusnya sebagai partai terlarang tak dikabulkan. Bahkan awal 1967, Soeharto menyatakan “militer tak menyetujui” nama Masyumi direhabilitasi.

Sebagian kalangan mengatakan, semua kebijakan masa lalu Soeharto yang kurang manis dengan Islam tak luput dari masukan sekelilingnya, yang dikomandoi oleh Ali Moertopo, oknum pengusaha etnik Cina, Kelompok Serikat Jesuit, dan sebuah lembaga think tank bernama Centre for Strategic and International Studies (CSIS) bermarkas di Tanah Abang III, Jakarta Pusat. (Mengenal Sosok Intelijen Anti-Islam, Salam-Online, 8 Desember 2012).

Sikap Islamophohia semakin parah, ketika Ali Moertopo memasukkan Leonarddus Benny (LB) Moerdani untuk menggantikannya dalam menjalankan tugas mengawasi bahaya “ekstrem kanan”, yang tak lain adalah gerakan Islam. (Mengenal Sosok Intelijen Anti-Islam (3), Salam-Online, 8 Desember 2012).

Bandul yang Berbalik
Tepat 17 Juni tahun 1991, Presiden Soeharto memutuskan berangkat haji. Didampingi isterinya, Ibu Tien, putra-putrinya, menantu, serta dokter pribadi, pengawal, fotografer pribadi, dan pembimbing haji K.H. Qosim Nurzeha berangkat ke Tanah Suci Makkah Al Mukarramah.

Kepergiannya ke Tanah Suci ini sesuai rencanany sepulang umroh pada 1978. “Tapi, saya pikir waktu itu keadaan negara kita masih perlu pemikiran dan tenaga untuk melaksanakan pembangunan, maka terpaksa saya tunda,” ujar Soeharto seperti dikutip Berita Buana, 28 Juni 1991.

Di Jedah, putra kelahiran Kemusuk, Jawa Tengah ini disambut Gubernur Mekah, Pangeran Majid bin Abdul Azis, yang mewakili Raja Fahd. Kerajaan Arab Saudi bahkan menyediakan penginapan di Royal Guest House, juga perkemahan khusus di Arafah.

Soeharto mengawali ibadah dengan perjalanan ke Madinah, berziarah ke makam Rasulullah Muhammad, Sahabat Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Setelah itu, dia menjalankan rangkaian haji pada umumnya. Dia mendapat pengawalan dari tentara Kerajaan Arab Saudi, sebagai fasilitas yang disediakan kerajaan bagi kepala negara selama menunaikan ibadah haji.

Berbeda dengan pemimpin negara lain, perjalanan ibadah itu bersifat pribadi tanpa biaya negara. Sebagai pemimpin dari negara berpenduduk muslim terbesar.pihak Arab Saudi memberikan pelayanan khusus.

Saudi memberikan keistimewaan untuknya agar bisa memasuki Ka’bah, yang tidak semua tamu diberikan kemudahan ini. Rupanya, Soeharto menolak, sebab istrinya, Hartinah (Ibu Tien) tidak termasuk yang diperbolehkan memasuki Ka’bah. Sebagai rasa cinta dan penghormatan pada sang istri, Soeharto mengabaikan undangan raja tersebut.

Rupanya, takdir berkehendak lain. Untuk menghormati Soeharto dan Bangsa Indonesia, raja Saudi akhirnya mempersilahkan Soeharto ditemani Ibu Tien memasuki Rumah Allah, Ka’bah.

“Mungkin, itu untuk pertama kali perempuan di dunia yang diperbolehkan memasuki Ka’bah,” ujar Siti Hutami Endang Adiningsih atau akrab dipanggil Mamiek Soeharto, Putri Bungsu Soeharto kepada Indonesiainside.id.

Usai ibadah Haji, tepatnya 22 Juni 1991, Raja Fahd melalui sebuah surat memberikan pilihan nama yakni Mohammad atau Ahmad bagi Soeharto dan Siti Fatimah atau Siti Maryam bagi isterinya.

Rupanya, Soeharto lebih suka menggunakan nama Haji Mohammad Soeharto, sementara istrinya Hajjah Siti Fatimah Hartinah Soeharto. Sejak itulah ia akrab dipanggil HM. Soeharto.

Seiring usia dan perjalanan rohani, dan sepulang dari ibadah Haji, sikap Presiden Soeharto terhadap Islam berubah.

Ia mulai merangkul orang-orang Islam. Sebelumnya, bahkan sudah menyetujui didirikannya Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) pada Desember 1990. Setahun setelah merestui ICMI, Soeharto mulai memperbolehkan jilbab dipakai. Ia kembali mendekat pada ormas dimana dia pernah dididik.

“Saya ini bibit Muhammadiyah yang ditanam di bumi Indonesia; dan alhamdulillah memperoleh kepercayaan masyarakat Indonesia untuk memimpin pembangunan nasional. Semoga apa yang saya lakukan ini tidak mengecewakan warga Muhammadiyah,” kata Soeharto dalam pembukaan Muktamar Muhamadiyah di Banda Aceh pada 1995, seperti dikutip Media Indonesia (09/07/1995).

Soeharto menyetujui pendirian perbankan Syariah, Bank Muamalat Indonesia, bahkan turut menggalang dana untuk modal awal.

Pada 1 November 1991, Bank Muamalat Indonesia (BMI) diresmikan dan menjadi bank syariah pertama di Indonesia. Hasan Basri ditunjuk menjabat sebagai Presiden Direktur BMI (Darul Aqsha, dkk., Islam in Indonesia: A Survey of Events and Developments from 1988 to March 1993, 1995: 187).

Indonesianis asal AS, Robert F Hefner dalam bukunya Civil Islam: Muslim and Democratization in Indonesia, mengatakan bahwa perubahan Soeharto memang dipengaruhi oleh analisis tentang situasi dan kebutuhan politik. “Soeharto dari semula sudah bermaksud memanfaatkan ICMI untuk tujuan politiknya sendiri,” tulis Hefner.

Masih banyak pakar dan pengamat yang berpikir sama, meragukan niat dan tujuan Pak Harto haji hingga membuat kepergiannya melaksanakan Rukun Islam Kelima ini mengantarkannya lebih condong ke Islam. Termasuk pengamat politik Islam, Dr Syafii Anwar.

Menurutnya, “Dukungan Pak Harto terhadap ICMI itu luar biasa sekali. Politik yang mula-mula menjauhkan Islam dari negara, menjadi melekat dengan negara,” katanya.

Terlepas dari berbagai jurus politik yang diperagakan, menurut Syafii Anwar, Pak Harto terbukti seorang “ahli strategi yang hebat”, Meski akhirnya lengser tahun 1998. (Kebijakan Suharto atas kelompok Islam, BBC, 27 Januari, 2008).

Tapi benarkah apa yang dilakukan Pak Harto itu hanya merupakan pamrih politik yang tidak tulus? Pandangan lain, datang dari Arnaz Ferial Firman, wartawan Antara yang selama belasan tahun meliput di Istana.

Arnaz, antara lain menyebut ada banyak perubahan pada diri Soeharto yang dia perhatikan. Selain menyokong pembentukan Bank Muamalat, yang menerapkan sistem syariah, juga membangun ratusan masjid di semua provinsi melalui Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila, juga melakukan amalan-amalan baik yang jarang diketahui publik.

“Pak Harto juga menghajikan para karyawan di lingkungan kepresidenan hingga tukang bakso atau tukang ketoprak yang mencari nafkah di sekitar Jalan Cendana,” ujar Arnaz. (Detik.com, Jumat 01 September 2017, Cerita Berhaji Para Tokoh, Ketika Soeharto Kian Mesra dengan Islam Setelah Naik Haji)

Amalan nyata Pak Harto adalah fakta bahwa di akhir pemerintahannya ia memang berpihak pada umat Islam, umat terbesar yang menghuni negeri ini. (HMJ)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here