Belajar Sejarah Dari Museum

museum-indonesia
Museum Indonesia terletak di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Foto: Istimewa

Oleh: Herry M Joesoef

Indonesiainside.id, Jakarta – Masyarakat Indonesia punya hari Museum. Setiap tanggal 12 Oktober dirayakan sebagai Hari Museum Indonesia. Ditetapkannya tanggal tersebut berdasarkan penyelengaraan musyawarah museum se-Indonesia pertama yang digelar pada 12 hingga 14 Oktober 1962 di Yogyakarta. Pertemuan pertama tersebut menghasilkan sejumlah komitmen untuk memajukan permeseuman di Indonesia. Pada 26 Mei 2015, pada saat kegiatan tahunan Pertemuan Nasional Museum di Malang, Jawa Timur, tanggal 12 Oktober diteapkan sebagai Hari Museum Indonesia.

Menurut data dari Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, saat ini Indonesia memiliki 435 museum yang tersebar di berbagai daerah. Pada tahun 2019 ini, peringatan Hari Museum Indonesia mengambil tema “Museum Menyatukan Keberagaman”. Adapun puncak peringatan Hari Museum Indonesia digelar di Taman Fatahillah, Kota Tua, pada 7-13 Oktober 2019. Acara tersebut dimeriahkan dengan aneka aktifitas, seperti pameran, Festival Museum Enjoy Jakarta, aksi Mural Art, seminar, dan berbgai seni pertunjukan tradisional.

Banyak ragam museum di Indonesia. Semuanya punya nilai sejarah yang berkesinambungan sampai hari ini. Di Yogyakarta, misalnya, kita mengenal adanya Museum Benteng Vredeburg. Awalnya, ia merupakan benteng yang dibangun oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1765. Pembangunan benteng ini terkait dengan lahirnya Kasultanan Yogyakarta. Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 telah menyelesaikan perseteruan antara Susuhunan Pakubuwono III dengan Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I). Perjanjian ini sekaligus menunjukkan adanya campur tangan Belanda terhadap urusan dalam negeri raja-raja Jawa. Benteng Vredeburg dikelilingi dengan parit yang berfungsi sebagai tempat pertahanan Pemerintah Belanda dari serangan Kraton Yogyakarta. Narasi sejarah dikemas dalam bentuk diorama yang menggambarkan perjuangan rakyat Indonesia sebelum Proklamasi Kemerdekaan hingga masa Orde Baru.

Di Jakarta, kita bisa melongok sejarah penghianatan PKI dengan mendatangi Museum Pancasila Sakti di kawasan Lubang Buaya, Halim Perdakusuma. Di sini, berbagai alat dan senjata yang digunakan untuk menculik dan membunuh para jenderal Angkatan Darat, pada 30 September 1965 tersaji. Narasi-narasi pendek yang menyertainya menggambarkan suasana batin pada saat kejadian. Selain itu, rumah pribadi Jenderal Abdul Haris Nasution di jalan Teuku Umar no 40, Menteng, Jakarta Pusat, juga dijadikan Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution. Di museum ini, semua yang berkaitan dengan Pak Nas, bisa ditemui. Dari pakaian, buku, sampai jejak langkah para penculik yang gagal membawa Pak Nas untuk dieksekusi.

Di Batu, Jawa Timur, ada Museum Angkut yang mulai dibuka pada 9 Maret 2014. Di sini pengunjung bisa melihat dan membaca sejarah berbagai moda angkutan. Pengunjung bisa melihat Zona Edukasi yang memperlihatkan bagaimana sejarah perkembangan transportasi. Dari sepeda, kereta api, kendaraan bermotor, sampai di era kini dengan mobil listriknya. Kita juga bisa menikmati miniatur kota-kota penting di benua Eropa dan Amerika. Nuansanya dibuat sedemikian rupa, agar pengunjung merasa dekat dengan kota-kota tersebut.

Jika mau melihat Indonesia, datanglah ke Museum Indonesia di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Museum yang digagas oleh Ibu Tien Soeharto ini mulai dibangun sejak tahun 1976 dan diresmikan bersamaan dengan hari Ulang tahun TMII pada 20 April 1980

Museum berarsitektur Bali ini lengkap dengan lukisan dan patung-patung ala Bali. Tri Hita Kirana, yang merupakan tiga sumber kebahagiaa umat manusia, dijadikan sandaran. Tiga sumber kebahagiaan tersebut berupa hubungan sesama manusia, hubungan manusia dengan lingkungannya, serta hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta.

Bangunan museum terdiri dari 3 lantai, yang punya tema dan fungsi masing-masing. Lantai 1, bertema Bhinneka Tunggal Ika yang menampilkan keanekaragaman pakaian adat dan pakaian pengantin, dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote. Lantai 2, bertema manusia dan lingkungan. Di sini kita bisa melihat aneka bangunan atau rumah-rumah tradisional, aneka alat untuk berburu, bertani, dan memasak. Sedangkan di lantai 3, bertema seni dan kriya. Di lantai 3 ini kita bisa melihat hasil karya manusia, seperti seni ukir kayu, logam, dan aneka kain.

Jika mau melihat Indonesia, dengan aneka suku, adat dan budayanya, Museum Indonesia sangat direkomendasikan. Karena inilah satu-satunya museum antropologi dan etnologi yang terlengkap di Indonesia. Lokasinya yang dikawasan TMII, membuat museum ini selalu ramai dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Juga para tamu Negara.

Selama ini, kesan tentang museum itu selalu nampak sunyi, dan cenderung kurang terurus. Museum sesekali dikunjungi oleh para siswa yang mendapat tugas dari sekolah, untuk mencatat berbagai benda yang ada di dalamnya. Museum belum menjadi tujuan utama para wisatawan. Padahal, lewat museum, orang bisa belajar tentang kebudayaan, peradaban, dan sejarah sekaligus. Peradaban masa kini punya akar sejarah ke masa lalu. Dengan belajar sejarah melalui museum, kita akan memahami sekaligus menghargai nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Sudah saatnya wajah museum dipercantik, diperamah, agar dilirik oleh para wisatawan. Museum Angkut di Batu, misalnya, bisa ditengok. Museum ini selalau ramai dikunjungi oleh para wisatawan karena pengelolanya sangat kreatif dalam melayani para tamunya. Antara lain, berbagai atraksi dan pertunjukan selalu disugguhkan untuk para tamu.

Mengelola museum secara kreatif, baik obyek maupun atraksi penunjangnya, membuat wisatawan nyaman. Dengan cara seperti itu, museum tidak lagi hanya dikunjungi oleh para pelajar karena dapat tugas dari sekolah, tetapi ia sudah menjadi kebutuhan untuk mendapatkan nilai lebih dari obyek yang dilihat. Jika demikian, maka museum akan dikunjungi oleh para wisatawan, baik secara perorangan maupun keluarga. Mereka datang untuk melihat obyek, belajar sejarah dan peradaban suatu bangsa. Hanya mereka yang pembelajar yang mampu merawat kebhinekaan, merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia. (HMJ)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here