Menag Fachrul Razi Belum Paham Makna Radikal

Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Rabu (6/11) kemarin, di kawasan Karawaci, Tangerang, Menteri Agama Fachrul Razi membuka acara “Kemah Pemuda Lintas Paham Keagamaan Islam”. Dalam kesempatan itu, dia mengajak pemuda untuk menyebarkan kepada masyarakat paham keberagamaan yang wasathan (pertengahan/moderat).

“Kita bicara (radikalisme) dari aspek agama, bahwa keyakinan bukan sebuah hal yang radikal. Kalau dia menjelek-jelekan agama lain, mengkafir-kafirkan nah baru itu disebut radikal,” kata Fachrul Razi.

Rupanya, Fachrul Razi tidak mengikuti perkembangan wacana yang telah dilontarkan oleh Presiden Jokowi. Ketika membuka rapat terbatas dengan topik Penyampaian Program dan Kegiatan di Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, di Kantor Presiden, Kamis (31/10), Presiden Jokowi melemparkan wacana baru, sebagai pengganti kata radikal. “Apakah ada istilah lain yang bisa kita gunakan, misalnya manipulator agama?,” kata Presiden Jokowi setengah bertanya.

Kata radikal yang disematkan kepada sekelompok umat Islam yang melakukan aksi-aksi bom bunuh diri, telah membuat protes berkepanjangan. Para aktivis berkeberatan jika kata radikal disematkan kepada mereka yang melakukan aksi-aksi teror tersebut. Bahkan, ketika kata radikal diturunkan menjadi de-radikalisasi, sebagian umat merasa ini adalah proyek pendangkalan akidah.

Mengapa? Mari kita ikuti makna radikal yang sebenarnya. Radikal berasal dari kata Latin, radix, yang punya arti “akar”. Radikal adalah memahami sesuatu sampai ke akar-akarnya, secara mendalam. Dalam hal pemahaman ajaran agama, radikal adalah memahami ajaran agama (apa pun agamanya) secara mendalam. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, salah satu arti kata radikal adalah “Secara mendasar(sampai pada hal-hal yang prinsip).”

Ketika kata radikal disematkan kepada sebuah komunitas atau pemeluk agama tertentu, persoalannya menjadi kabur. Islam radikal misalnya, bisa dimaknai bahwa sebuah komunitas atau seseorang menganut faham yang berlebihan dalam melaksanakan ajaran agamanya. Dan sebagai konsekuensinya, komunitas atau perseorangan tersebut melakukan aksi “kekerasan” dalam mengaplikasikan ajaran agama yang dianutnya. Misalnya, ingin mengubah sebuah idiologi negara dengan cara-cara kekerasan.

Andai pemahaman tersebut dinisbahkan kepada ormas, komunitas, atau perseorangan dalam Islam, tentu bias. Mengapa? Karena sebagian umat Islam memahami bahwa radikal dalam Islam itu diperlukan, sebagaimana fundamentalisme dalam Islam juga dibutuhkan. Seorang muslim bahkan dituntut untuk radikal, dalam arti, memahami ajaran agamanya secara sungguh-sungguh, sampai ke akar-akarnya.

Jika yang dimaksud dengan radikal adalah sebuah pemahaman atau perbuatan yang melampaui batas, dalam Islam punya istilah “Ghuluw” atau “Ekstrim”. Jika yang dimaksud adalah mereka yang suka mengkafir-kafirkan kelompok diluar kelompoknya, mereka dikenal dengan  “Tafiri”. Kelompok-kelompok yang suka mengkafir-kafirkan atau kelompok yang melampau batas, bisa disebut dengan istilah ini: Takfiri, Ghuluw, dan Ekstrim.

Pemahaman takfiri, perbuatan ghuluw dan ekstrem inilah yang perlu dicegah. Dalam sejara awal Islam, kelompok ini sudah ada, khususnya di jaman Khalifah Ali bin Abi Thalib. Mereka dikenal dengan nama Khawarij. Kelompok ini memberontak terhadap kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, karena dianggap tidak tegas dalam mensikapi pembunuhan atas Khalifah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu.

Adalah Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ketika melakukan dialog dengan Khawarij, perlu dijadikan pelajaran bersama. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, putra dari paman Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam, adalah generasi Rabbani yang paling faham terhadap kitabullah, dan yang paling mengetahui takwil serta tafsirnya. Ia lahir pada 3 tahun sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Walaupun demikian, karena sejak usia 3 tahun ia sudah hidup bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidaklah heran jika ia menghafal 1660 hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dalam kitab shahihnya.

Ketika kaum Khawarij memisahkan diri dari barisan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma meminta izin kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu untuk menemui dan berdialog dengan mereka. Sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Abdurrahman Ra’fat al-Basya, dalam “Shuwar min Hayati ash-Shahabah”, Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma mendatangi mereka. Melihat kedatangan Ibnu Abbas, sebagian melarang untuk menemui, sebagian lainnya menerimanya. Lalu terjadilah dialog antara Ibnu Abbas dengan kaum Khawarij yang menyebabkan mayoritas dari mereka akhirnya kembali bergabung dengan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu.

Apa kesan pertama yang dilihat oleh Ibnu Abbas tentang kaum Khawarij? “Saya tidak pernah menjumpai satu kaum yang paling bersungguh-sungguh dalam beribadah melebihi ibadah mereka.” Tetapi, dibalik ibadah yang begitu taat dan tertib itu, mereka keras kepala, tidak mau menerima hujah diluar kelompoknya, ringan memvonis kafir kepada mereka yang berbeda dengannya, dan mudah menghalalkan darah orang lain. Mereka ini adalah kelompok yang melampaui batas-batas syariat.

Di era modern ini, para ulama dunia menyematkan sifat takfiri, ghuluw, dan ekstrim ini kepada kelompok Islamic State in Iraq and Suriah (ISIS) yang ada di Irak (dan sebagian di Suriah). Sejak Juni 2014, ketika Abu Bakar Al-Baghdadi (kini sudah tewas) menjadi khalifah, ISIS berubah nama menjadi Islamic State/Daulah Islamiyah. IS yang sekarang ini, menurut kesepakatan ulama, adalah Khawarij modern. Bahkan, sebagian besar ulama Timur Tengah telah mengeluarkan fatwa bahwa ISIS adalah kelompok sesat dan jauh dari ajaran Islam yang cinta damai.

Di Indonesia, jaringan ISIS juga eksis di Indonesia, Namanya bisa bermacam-macam, salah satunya adalah kelompok Jamaah Ansharu Daulah yang melakukan aksi-aksi penyerangan bersenjata maupun bom bunuh diri. Sejauh ini, mayoritas komunitas umat Islam tidak menyebut mereka radikal. Tetapi mereka menyebutnya sebagai kelompok ekstrim atau ghuluw atau takfiri. Tiga istilah ini paling tepat disematkan untuk mereka yang berbuat diluar batas-batas syariat.

Manipulator agama yang diusulkan oleh Presiden Jokowi  mestinya bisa dijadikan pertimbangan. Fachrul Razi, sebagai pembantu presiden, semestinya juga mendengar dan mengikuti “petunjuk” presiden tersebut. Bukan malah terus menerus melontarkan kata radikal yang sudah over-dosis tersebut. (HMJ)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here