Siapa Sudi Menyimak Sukmawati

Sukmawati Soekarno PutriSoekarno Putri
Sukmawati Soekarno Putri. Foto: Antara

Oleh: Reza Indragiri Amriel

 

Indonesiainside.id-Pidato plus tanya jawab Sukmawati di acara diskusi itu merupakan contoh gamblang tentang pola pikir splitting. Sukmawati mengonstruksi dua objek ke posisi berhadapan-hadapan, bertentangan satu sama lain: kalau tidak hitam, pasti putih; kiri versus kanan; Ir. Sukarno atau Nabi Muhammad ﷺ.

Pembandingan yang Sukmawati lakukan juga niscaya memosisikan Nabi Muhammad ﷺ pada posisi bawah karena Sukmawati secara dangkal membatasi “keberadaan” sebagai semata-mata “hadir secara lahiriah (fisik)” pada suatu masa di mana Nabi Muhammad ﷺ tidak lagi hidup secara fisik di situ.

Pembingkaian sedemikian rupa, jika dikaitkan dengan backdrop acara diskusi bertajuk “Bangkitkan Nasionalisme – Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme“, akan bisa menggelincirkan khalayak ke sebuah simpulan ngawur bahwa Bung Karno adalah nasionalisme, sedangkan Nabi Muhammad ﷺ adalah radikalisme.

Sinisme Sukmawati itu nampak ajeg jika dihubungkan dengan perkataannya sebelumnya, juga disampaikan di atas panggung, saat membaca puisi Kidung Ibu Pertiwi.

Konsep mental yang senada juga mewarnai isi kidung itu: membanding-bandingkan dan menempatkan satu objek lebih superior di atas objek lainnya.

Dalam psikologi, pola berpikir sedemikian rupa disebut sebagai splitting thought. Splitting merupakan cara sederhana yang individu gunakan untuk memperteguh pikiran maupun perasaan negatifnya. Dengan melakukan splitting, individu bersangkutan berusaha meyakinkan bahwa objek yang ia pikirkan itu terdengar rasional dan akurat, walau sesungguhnya justru merefleksikan ketidakmatangan dalam berperilaku (dalam hal ini, berpikir).

Dengan kata lain, pola pikir splitting yang serba biner adalah pertanda keterbelakangan si empunya otak. Ia seperti tidak tahu bahwa pertautan antara dua objek tidak mutlak harus selalu dibangun secara ekstrim antagonistik. Mengompartemen sejumlah objek secara kaku semacam itu bisa karena tingkat kecerdasan si individu yang memang pada dasarnya rendah. Itu berakibat pada terbentuknya cacat pikiran yang ditandai oleh oversimplification di sana-sini.

Di samping terjelaskan lewat dimensi kecerdasan sebagaimana tertulis di atas, bisa pula pemikiran splitting berurat akar pada kepribadian individu. Kalau kemungkinan kedua ini yang berlaku, maka narsistik menjadi salah satu sebutan yang relevan untuk menggambarkan tabiat si individu yang berpikir splitting.

Splitting menjadi penawar atas kecemasan yang berasal dari tendensi manusia untuk unggul atas pihak lain. Baik secara terbuka maupun samar-samar, keunggulan itu diperjuangkan dengan memahlawankan satu pihak dan mendemonisasi pihak lain. Psikoanalisa memandang orang yang mapan berpola pikir splitting sebagai orang dengan perkembangan emosional yang tergembok pada masa silam, masa ketika ia terus-menerus dikondisikan untuk menyikapi keadaan hanya dengan tiga pilihan mutlak: fight, freeze, flight – menang atau kalah, berkuasa atau tertindas, berjaya atau terhina. Tentu, dibutuhkan pemeriksaan seksama sebelum menyebut Sukmawati sebagai individu dengan kondisi kepribadian seperti itu.

Di panggung, saat mendikotomi Nabi Muhammad ﷺ dan Bung Karno, Sukmawati berbicara tentang sejarah.

Tentang sejarah, Bung Karno sesungguhnya pernah membangun konstruksi kognitif tentang bagaimana episode demi episode sejarah bisa dirangkai tanpa di-split. Konstruksi itu tercermin pada kata “Jas Merah” yang merupakan singkatan dari “jangan sekali-kali melupakan sejarah”.

Babak-babak yang membentuk lini masa tidak dipisah-pisah kemudian dipertarungkan. Sebaliknya, berdasarkan “Jas Merah”, tapak-tapak sejarah digandeng sedemikian rupa menjadi sebuah tarikan garis lurus. Connecting the dots.

Dengan “Jas Merah”, sejarah terbangun dari rangkaian sekian banyak titik. Masing-masing titik memang berada di posisi yang berbeda satu sama lain. Tapi mereka terhubung membentuk garis. Garis itu niscaya patah atau pun terputus, ketika ada titik yang hilang. Betapa pun hanya satu titik. Itu menunjukkan bagaimana antarperistiwa dan antartokoh sejarah bisa disambungkan–bukan dibanding-bandingkan–secara proporsional dan harmonis.

Tak pelak, perkataan Sukmawati memantik skeptisisme mendalam akan penguasaan orang ini akan pemikiran dan gagasan ayah kandungnya sendiri.

Sungguh meragukan bahwa Sukmawati pernah apalagi sudah membaca tuntas naskah-naskah karya Bung Karno maupun tulisan-tulisan tentang Bung Karno. Jangankan mempunyai perbendaharaan wawasan yang setara, sebatas meniru metode berpikir Putra Sang Fajar pun besar kemungkinan Sukmawati tak mampu.

Sampai di sini, ada pertanyaan umum: Bagaimana taraf kecerdasan anak bisa berbeda dengan kecerdasan orang tuanya? Bukankah berkat keberadaan faktor genetik, kecerdasan ayah (dan ibu) akan menurun ke anak? Tidak keliru. Tapi tidak sepenuhnya benar. Pasalnya, kecerdasan manusia juga ditentukan oleh dua faktor lainnya, yakni asupan gizi dan stimulasi.

Anggaplah dari sisi genetik, anak memiliki basis kecerdasan kelas unggul seperti orang tuanya. Tapi tanpa topangan nutrisi dan miskin stimulasi, bakat positif itu tidak akan teraktualisasi secara positif pula. Andai itu yang terjadi, bisa berlakulah ungkapan “orang pintar berkelakuan bodoh”. Idem, perlu pengujian serius untuk menakar kecerdasan Sukmawati yang sesungguhnya.

Bukan Suara Polri

Saat menjalani uji kepatutan dan kelayakan di DPR RI, calon Kapolri (Komisaris Jenderal Idham Azis) menggaris-bawahi bahwa radikalisme tidak bisa diidentikkan dengan agama (Islam). Pernyataan tegas Kapolri itu membabat stigma serta pengasosiasian buruk yang–diakui maupun tidak–ditiup-tiupkan saban kali kata “radikalisme” diucapkan.

Namun amat disayangkan bahwa sikap jernih yang sudah ditetapkan Polri itu  justru dirusak oleh pemikiran splitting Sukmawati. Kesan itu tak terhindarkan karena masyarakat dapat menyaksikan bagaimana Sukmawati mengeksplisitkan distorsi kognitifnya itu di atas panggung kegiatan Polri, lebih spesifik lagi di podium berlogo salah satu unit kerja Polri.

Pada satu sisi, sesungguhnya menjadi pertanyaan, apa dasar pertimbangan Polri memilih narasumber sekaliber Sukmawati untuk bicara tentang topik berat nasionalisme, radikalisme, dan terorisme. Pada sisi lain, masyarakat luas perlu terus memompa keyakinan bahwa betapa pun ada logo Polri di backdrop acara, namun suara Sukmawati bukanlah suara Polri. Bahwa, dalam isu–sebutlah–radikalisme, Polri tidak bergeser sedikit pun dari posisinya sebagaimana ditekankan Kapolri.  Allahu a’lam. (CK)

Penulis adalah penggemar bacaan tentang Bung Karno

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here