Waspadai Psikopat di Media Sosial

ilham kadir avatar

Oleh: Dr Ilham Kadir, MA

Psikopat adalah gangguan yang membuat seseorang menjadi tidak memiliki empati. Psikopat cenderung manipulatif, mudah berubah, dan sering kali berbuat kriminal, seperti menipu dan mencuri. Tidak sedikit pengidap psikopat juga seorang klektomania.

Setidaknya ada empat ciri umum seorang psikopat, sebagaimana ditulis Andini (2018) dalam “hellosehat.com” yaitu:

Pertama, aspek penting yang cukup menonjol dari psikopat adalah ia cukup bisa menutupi jati diri yang sebenarnya dan tampil semenarik mungkin. Menarik dalam artian terlihat baik dan sangat menyenangkan. Orang dengan gangguan ini bisa menunjukkan sisi humoris, simpatik, dan bisa membuat orang lain tertarik akan ceritanya. Meski menarik tetapi cerita yang diucapkannya belum tentu benar.

Kedua, psikopat sesungguhnya sangat tempramental. Kemarahannya sangat berlebihan tanpa peduli siapa yang sedang berhadapan dengannya dan apa yang dilakukannya. Dalam kehidupan berumah tangga, psikopat biasanya cenderung melakukan kekerasan baik fisik maupun mental.

Ketiga, pengidap psikopat cenderung memiliki emosi yang dangkal. Artinya, orang psikopat cenderung kurang bisa menunjukkan emosinya seperti rasa malu, bersalah, atau takut. Ketika seseorang berada dalam situasi tertentu yang menakutkan atau menyakitkan, orang psikopat cenderung tidak menunjukkan respon apapun dan tidak berempati terhadap orang lain

Keempat, psikopat cenderung tidak bertanggung jawab. Orang dengan gangguan kepribadian yang satu ini biasanya cenderung menyalahkan orang lain atas kesalahan yang sebenarnya dilakukan. Hal ini dikarenakan orang psikopat merasa dirinya lebih superior dibanding orang lain.

Pengidap psikopat banyak kita jumpai di dunia maya, misalnya lewat WhatsApp, Facebook, dan Twitter. Maka tidak mengapa jika saya turunkan tips menghadapi orang setengah snewen itu.

Majalah Hidayatullah (Edisi Agustus, 2018) menurunkan tulisan hasil riset bahwa ada lima cara menghadapi psikopat: Pertama, Jangan terpancing emosi. Semakin kita emosional menghadapinya, semakin ia mengendalikan kita;

Kedua, jangan tunjukkan sedikit pun kepadanya bahwa Anda merasa takut, atau terintimidasi oleh berbagai tingkah laku dan ucapannya;

Ketiga, jangan pernah percaya pada komentar dan ocehannya. Seorang psikopat selalu punya banyak cerita bohong yang menempatkan dirinya seakan-akan ia korban. Korban fitnah, bully, dan dikriminalisasi;

Keempat, kembalikan semua ucapannya kepada Si Psikopat sendiri, katakan padanya, Bagaimana keadaanmu hari ini? Apakah punya uang belanja atau tidak? Sebab sering kali seorang psikopat berhalusinasi, sekolah saja tidak pernah beres tapi bicaranya, mau berangkat kuliah di luar negeri.

Kelima, cukup berkomunikasi via online, selain untuk mendokumentasi, juga membuat jarak dengan berbagai ucapan dan tindakannya yang tidak sehat.

Jika kita tarik kembali ke belakang, psikopat adalah tipe Abu Jahal, tingkah lakunya sebagai pendusta, sombong, pemarah, bodoh tapi sok tau, pencaci maki, penyebar hoaks, pengadu domba, manupulatif, agresif, daftarnya terus bertambah!

Sekali waktu, saya pernah terlibat diskusi dan debat kecil-kecilan dengan pengidap psikopat. Begitu tersudutkan langsung emosi lalu bilang, “Saya tidak akui titel doktormu! “Siapakah yang berhak melucuti gelar doktor seseorang?” Tanyaku. Dia jawab, “kampus dan orang banyak!”

Saya paham kalau orang semacam ini dilayani, maka saya akan ikut lebih gila. Patutlah kita bertanya, “Sejak kapan orang banyak menentukan gelar seseorang?”

Jika demikian adanya, orang tidak butuh kuliah, cukup mendapat pengakuan dari orang banyak, maka jadilah ia sarjana atau doktor.

Begitulah psikopat. Saya menulis artikel ini agar kita waspada, dan tidak membuang-buang waktu menghadapi pengidap psikopat. Ingat, ada dua jenis nikmat yang seringkali menipu manusia: sehat dan waktu kosong.

Sabda Nabi, Ni’matani maghbun fihima katsiran min an-naas, ash-shihhah wal faragh. Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Ibnu Baththol mengatakan, ”Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini–yaitu waktu senggang dan nikmat sehat–hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan.

Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”

Ibnul Jauzi mengatakan, Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun ia dalam kondisi tidak sehat.

Apabila terkumpul pada manusia waktu luang dan nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan amalan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu dan terperdaya! Jangan sia-siakan waktumu hanya untuk meladeni seorang psikopat! (Aza)

* Alumni Pondok Pesantren Darul Huffazh Tujutuju, Kajuara, Bone, Sulsel

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here