Pak Jokowi, Sebaiknya Kepala BPIP Diganti Saja

Kalau agama dianggap sebagai musuh terbesar Pancasila, maka pilihannya adalah: agama atau Pancasila yang harus disingkirkan.

Pernyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof Yudian Wahyudi, itu terasa menggelegar, bak petir yang menyambar langit seantero Nusantara. Pandangannya yang menyebutkan, bahwa musuh terbesar Pancasila adalah agama mengundang protes pelbagai kalangan.

Menganggap pernyataan itu sekadar keceplosan atau selip lidah juga rasanya terlalu meremehkan tingkat intelektualitas yang bersangkutan. Selain guru besar, Yudian juga mantan rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia juga pernah menjadi santri di sebuah pondok pesantren di Pacitan, Jawa Timur. Pendidikan doktornya (S-3) diperoleh di luar negeri.

Ia pun sudah sempat mengklarifikasi pernyataannya. Bisa jadi itu dilakukan lantaran desakan banyak pihak. Menurut dia, ada kelompok minoritas yang mengaku mayoritas dan kemudian membenturkan agama dengan Pancasila. Inilah yang dianggap Yudian sebagai agama yang menjadi musuh terbesar Pancasila.

Klarifikasi yang dilakukan setelah kasusnya meledak dan mendapat kecaman di sana-sini, tentu bisa diartikan sebagai upaya untuk mengerem tingkat kemarahan masyarakat. Jika tak ada ledakan reaksi masyarakat sedemikian dahsyat, bisa jadi tak diperlukan penjelasan lebih lanjut tentang hal kontroversial itu.

Saya lebih yakin apa yang menjadi pandangan Yudian itu bukan hal yang serta-merta muncul. Dia memang punya jejak sejarah untuk bergelut dalam relasi Islam-Pancasila. Itu sebabnya Yudian memandang, penerapan nilai-nilai yang bersifat sekuler sangat cocok diterapkan dalam kehidupan bernegara di Nusantara.

Dia sempat pula melarang mahasiswanya yang menggunakan cadar. Setelah kebijakan itu mendapat serbuan kecaman banyak pihak, keputusan itu ditarik kembali. Di kampusnya pula lahir disertasi yang menyatakan, bahwa seks di luar nikah tidak melanggar syariat Islam. Walau ada pro-kontra, toh disertasi dengan kesimpulan ganjil itu diluluskan jua.

Jadi, kalau kemudian dia menyatakan dengan lantang, bahwa musuh terbesar Pancasila adalah agama, saya percaya itu lahir dari proses internalisasi problematika yang dijalaninya. Pandangan ini juga klop dengan ide dia tentang penerapan nilai-nilai Pancasila secara sekuler atau memisahkan diri dari norma agama.

Padahal dalam sejarahnya, nilai-nilai Pancasila digali dari tradisi dan kearifan lokal yang berkembang di wilayah Indonesia dan sangat dipengaruhi cara pandangan warga dalam menjalankan aturan atau norma-norma agama. Selain Soekarno-Hatta, dalam susunan awal anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesoa (PPKI) yang tugasnya antara lain menyiapkan ideologi dasar negara, banyak pula tokoh agama yang terlibat.

Sudah pasti pandangan mereka juga mewarnai aroma religiusitas nilai dan sila dalam Pancasila. Di tim PPKI itu ada KH Wahid Hasyim, Kasman Singodimedjo, Teuku Mohammad Hasan, AA Hamidhan, I Gusti Ketut Poedja, Kahar Muzakar, Johannes Latuharhary, AA Maramis, Abdul Maghfar, Ki Hadjar Dewantara, dan lain sebagainya. Hampir tidak masuk akal bila tokoh-tokoh yang religius atau agamis itu abai atas sentuhan keagamaan dalam memberi masukan untuk Pancasila.

Saat proses perumusan pun, dari lima tokoh yang tersisa -Soekarno, M Hatta, Soepomo, Mohammad Yamin, dan H Wahid Hasyim- tetap terwakili unsur yang mamahami sentuhan nilai agama dalam mewarnai Pancasila. Jadi, sudah barang tentu ada kohesi yang kuat antara agama dan Pancasila, bukan malah saling menjadi ancaman dan menegasikan.

Kalaupun kemudian dipaksakan ada relasi perseteruan antara agama dengan Pancasila, itu sangat mungkin terjadi bilamana ada pemahaman yang salah dari suatu kelompok dan bersifat memaksakan diri atas nilai-nilai agama. Pemahaman yang salah itu lalu dibenturkan dengan nilai dalam Pancasila.

Ini bisa saja terjadi dan tidak hanya dilakukan oleh kelompok kecil atau minoritas. Pemahaman serta pemaksaan kehendak yang salah bisa saja dilakukan oleh kaum mayoritas.

Apa pun, seruan yang membenturkan agama dengan Pancasila tak boleh dianggap sepele. Itu masalah yang amat serius. Kedua hal itu merupakan bagian penting dalam kehidupan bangsa dan sungguh tak mungkin untuk ditinggalkan. Kalau disebut agama sebagai musuh terbesar Pancasila, maka pilihannya adalah: agama atau Pancasila yang harus disingkirkan.

Nyaris sama persis seperti perbandingan agama-komunis. Kedua aliran ini akan sulit untuk bisa disatukan. Kalau memang kita memilih kehidupan agamis, maka wajah komunis memang harus dienyahkan. Sebaliknya, jika pilihan jatuh pada kehidupan berwarna komunis, maka nilai-nilai agama harus dibuang jauh-jauh.

Dengan demikian, menilik pada pola pikir kepala BPIB, nilai agama dan Pancasila menjadi harus saling berhadap-hadapan. Kekhawatiran seperti itu bisa saja muncul. Apalagi jika melihat rekam jejak Yudian dalam dalam relasi agama dan ideologi.

Hentakan pertama sebagai kepala BPIB yang notabene dilantik dengan sumpah menggunakan Alquran di atas kepala, ternyata sudah menjauhkan harmoni antara agama dan Pancasila. Ini sungguh suatu yang ironis.

Itu sebabnya, tidak berlebihan kalau ada yang usul pada Presiden Joko Widodo agar sebaiknya Kepala BPIP, Prof Yudian Wahyudi, diganti saja. Bukankah mencegah kemungkinan terjadinya keburukan akan jauh lebih baik daripada harus mengerahkan pemadam kebakaran lantaran api yang terus tersulut dari sikap serta pernyataannya dan menjalar ke mana-mana? (AS)

Berita terkait

Ada Aksi Lebih Besar Jika RUU HIP Tidak Dicabut

Indonesiainside.id, Jakarta - Front Pembela Islam (FPI), Persaudaraan Alumni 212 (PA 212), dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF) serta ormas lainnya hari ini...

Apel Siaga Dibuka dengan Doa, Pembacaan Pancasila, dan Lagu Indonesia Raya

Indonesiainside.id, Jakarta - Aliansi Nasional Antikomunis menggelar Apel Siaga Ganyang Komunis secara serentak di sejumlah daerah. Di jakarta, acara itu digelar di Lapangan Ahmad...

Apel Siaga Ganyang Komunis, KH Shobri Lubis: Kami Tak Rela Pancasila Diracuni

Indonesiainside.id, Jakarta - Ribuan orang turut mengikuti aksi Apel Siaga Ganyang Komunis yang digelar hari ini, Ahad(5/7). Mereka memenuhi lapangan Ahmad Yani di Kebayoran...

Polda Metro Siapkan Personel Amankan Aksi Ganyang Komunis PA 212

Indonesiainside.id, Jakarta - Polda Metro Jaya siap mengamankan aksi 212 yang digelar besok, Ahad(5/7). Polda juga tidak menerbitkan Surat Tanda Terima Pemberitahuan (STTP) terkait...

MPR dan PBNU: RUU HIP Harus Dicabut dan Diganti RUU BPIP

Indonesiainside.id, Jakarta - Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sepakat bahwa RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) harus dicabut. Sebagai...

Dukung RUU HIP Ditunda, PGI: Jangan Tafsir Ulang Pancasila

Indonesiainside.id, Jakarta –  Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Pdt Jacky Manuputty, menilai Pancasila sudah final dan menjadi sumber pemersatu dan kemajuan bangsa. Maka...

Demo Tolak RUU HIP di Tugu Kujang: Demi Ideologi Tak Peduli Pandemi

Indonesiainside.id, Bogor - Sejumlah organisasi masyarakat (ormas), salah satunya Front Pembela Islam (FPI) menggelar demonstrasi di Tugu Kujang, Bogor, Jawa Barat. Isu yang diangkat...

Baleg DPR: RUU HIP Tak Bisa Begitu Saja Dikeluarkan dari Prolegnas Prioritas

Indonesiainside.id, Jakarta – Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, Willy Aditya, menjelaskan, RUU Haluan Ideologi Pancasila tidak bisa begitu saja dikeluarkan dari Program...

Berita terkini

Lansia Berhasil Diselamatkan dari Longsor di Hubei

Indonesiainside.id, Huangmei - Seorang wanita lanjut usia di Provinsi Hubei, China tengah, berhasil diselamatkan dari tanah longsor yang dipicu hujan pada Rabu (8/7) pagi. Petugas...
ads3 mekarsari

KPK Panggil Hengky Soenjoto yang Jadi Buron

Indonesiainside.id, Jakarta - KPK memanggil Komisaris PT Multitrans Logistic Indonesia, Hengky Soenjoto, kakak dari tersangka Direktur PT PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT, Hiendra Soenjoto,...

Kiat Meracik Minuman Sehat Saat Pandemi

Indonesiainside.id, Jakarta - Mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi adalah salah satu upaya meningkatkan imunitas tubuh untuk melawan virus. Anda juga dapat meracik sendiri minuman...

WHO Membuka Kantor Baru di Istanbul

Indonesiainside.id, Ankara - Turki dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis (9/7) menandatangani perjanjian untuk membuka kantor WHO di Istanbul guna menangani kedaruratan kemanusiaan...

Berita utama

Alhamdulillah, Santri 01 Gontor Sembuh dari Covid-19

Indonesiainside.id, Jakarta - Pihak Pesantren Gontor Kampus 2 menyampaikan rasa syukur atas sembuhnya santri 01 Covid-19 yang sembuh. Hal ini diungkapkan melalui Wakil Pengasuh...

Denny Siregar Curhat Keselamatannya, Christ Wamea: Kalau Sayang Keluarga Jangan Tekuni Pekerjaan Tukang Fitnah dan Tukang Bohong

Indonesiainside.id, Jakarta - Denny Zulfikar Siregar yang sempat menantang kepada siapapun untuk membeber data dirinya belakangan mengaku resah dan tidak terima kebocoran data pribadinya...

Gontor Jadi Pembicara dalam Kajian Penanganan Covid-19 Internasional

Indonesiainside.id, Jakarta – Universitas Darussalam (Unida) Gontor, Jawa Timur akan mengikuti kajian internasional penanganan Covid-19 yang diadakan lembaga The World Muslim Communities Council dan League of...

Antisipasi Erupsi Gunung Merapi, Warga Jrakah Galakkan Siskamling

Indonesiainside.id, Boyolali - Warga di setiap rukun tetangga (RT) di 13 Dukuh Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah (Jateng) menggalakkan ronda malam...

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here