Suasana Batin Menjelang Supersemar

- Advertisement -

Kelahiran Surat Perintah  11 Maret (Supersemar) 1966 bukan tanpa sebab dan dialog. G-30 S/PKI 1965 yang mencoba melakukan kudeta, gagal. Rentetan peristiwa pasca kudeta tersebut yang membuahkan Supersemar untuk mengendalikan negara dan kembali kepada jatidiri bangsa Indonesia, Pancasila dan UUD 1945.

Lahirnya Surat Perintah 11 Maret 1966 adalah bagian dari episode sejarah Indonesia. Inilah momentum Pancasila, sebagai kesepkatan bersama para pendiri negara, dikembalikan lagi ke jalannya yang benar. Saat itu, Pancasila hendak diganti dengan ideologi komunis dengan mengadakan gerakan yang lebih dikenal sebagai G-30 S/PKI 1965. 

Dialog-dialog antara Presiden Soekarno dengan Mayjen TNI Soeharto yang berkaitan tentang cara mensikapi G-30 S/PKI 1965 adalah rekam jejak dimana akhirnya berbuah mandat Supersemar yang diberikan oleh Bung Karno kepada Pak Harto. Dialog-dialog ini berujung pada perintah kepada Pak Harto, yakni mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk terjaminnya keamanan serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi. Padahal sebelumnya tidak pernah direncanakan, kecuali permintaan dari Pak Harto, “Berilah kepercayaan kepada saya untuk mengatasi keadaan itu” (Wawancara Kapusjarah ABRI Prof. Dr. Nugroho Notosusanto dengan Presiden Suharto, Jakarta, 3 Maret 1977).

- Advertisement -

Perbedaan cara pandang dalam menangani dan mensikapi G-30 S/PKI 1965, antara Bung Karno dengan Pak Harto, bisa dijadikan acuan dalam memahami sejarah lahirnya Supersemar.  Dialog-dialog tersebut dilakukan baik secara empat mata maupun dalam sidang-sidang KOTI (Komando Operasi Tertinggi) yang dipimpin oleh presiden. Dialog diawali sejak Pak Harto dipanggil menghadap Presiden di Istana Bogor pada tanggal 2 Oktober 1965. Dalam dialog-dialog tersebut nampak adanya perbedaan pendapat antara Bung Karno dengan Pak Harto, khususnya tentang menyikapi pemberontakan yang dilakukan oleh G 30 S/PKI 1965.. 

Pak Harto berpendapat, PKI yang berfaham Marxisme-Komunisme dan telah berupaya melakukan perebutan kekuasaan terhadap RI (1948 dan 1965) tidak bisa diberi kesempatan lagi dan harus dibubarkan. Menyikapi pembubaran PKI, Bung Karno menganggap bahwa penyelesaian itu akan menyebabkan mereka bergerak secara ilegal dan akan membahayakan serta sulit diatasi. Sebaliknya, dukungan rakyat yang menentang gerakan tesebut telah menjadi kekuatan yang diyakini Pak Harto dalam menghadapi kekuatan PKI. Dari intensitas pembicaraan yang telah dilakukan keduanya inilah, menurut Pak Harto, keluarnya perintah yang tertuang dalam Supersemar bukan merupakan hal yang mengejutkan dirinya. 

Oleh Bung Karno, Pak Harto di minta untuk mengambil tindakan terhadap demonstrasi yang dilakukan oleh para mahasiswa dan Pak Harto pun menjawabnya:

“Maaf, Pak. Saya pikir, masalah ini berkenaan dengan pembenahan negara kita secara keseluruhan. Yang saya maksud, penyelesaian politik mengenai Gestapu/PKI seperti yang Bapak janjikan. Kalau sekarang Bapak Presiden mengumumkan secara resmi bahwa PKI dibubarkan dan di larang, saya percaya mahasiswa itu akan menghentikan aksi-aksinya. Karena saya juga dituntut oleh mereka”.

- Advertisement -

“Penyelesaian politik Gestapu, Gestok, PKI lagi yang kau sebut. Kamu tadi mengatakan, tetap menghormati kepemimpinanku”, kata Bung Karno

“Tak pernah goyah, Pak” jawab Pak Harto

Inilah cuplikan dari dialog-dialog sebelum adanya Supersemar 1966, yang menggambarkan saat kedua tokoh ini berbeda pendirian. Pak Harto tidak menentang begitu saja dan tidak pula patuh begitu saja. Walaupun hal itu disadarinya sebagai bawahan seharusnya taat, tetapi sebagai pejuang tidak mungkin patuh begitu saja (Lihat “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, Jakarta, tahun 1982). 

Tindak lanjut dengan lahirnya Supersemar ini adalah Presiden Soekarno memberi wewenang kepada Letjen TNI Soeharto sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat guna mengambil segala tindakan yang dianggap perlu dalam menjamin keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya revolusi. Surat Perintah itu kemudian dikukuhkan oleh Sidang Umum MPRS menjadi Ketetapan (Tap) MPRS No. IX tahun 1966.  Berdasarkan SP 11 Maret itu pula, Letjen Suharto mengambil beberapa tindakan, antara lain pada tanggal 12 Maret 1966 membubarkan PKI. Kepatuhan Pak Harto sebagai pengemban Supersemar terhadap Presiden Soekarno pun tidak berkurang, hal ini tercermin dari kesaksian Jenderal A.H. Nasution yang waktu itu menjabat Menko Hankam/KSAB menemui Letjen Soeharto yang masih sakit di kediamannya pada tanggal 12 Maret dan menyarankan bentuk kabinet darurat untuk mengakhiri dualisme pimpinan politik. Pak Harto merespon saran tersebut dengan mengatakan pada Pak Nasution bahwa hal tersebut adalah kewenangan Presiden. 

Selain itu, semua golongan masyarakat bersepakat kembali pada pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Inilah yang disebut sebagai Konsesus Nasional yang kemudian dilembagakan dalam Tap MPRS No. XX tahun 1966 yang tetap berlaku sampai sekarang. 

Begitulah  episode sejarah bangsa Indonesia dalam mempertahankan dan kembali kepada Pancasila dan UUD 1945. (HMJ) 

Berita terkini

Nasihat untuk Para Wartawan Muslim

Seorang wartawan bertanya kepada ustadz tentang hukum profesi yang digelutinya. Bolehkah bekerja menjadi wartawan dalam Islam? Demikian inti pertanyaannya yang ditujukan kepada Ustadz Ammi Nur...
- Advertisement -
ads2 mekarsari

Gubernur Gorontalo Larang Warga Tinggal di Rumah akibat Banjir Bandang

Indonesiainside.id, Gorontalo - Gubernur Gorontalo Rusli Habibie melarang warganya tinggal di rumah akibat banjir bandang yang melanda pada Jumat malam (3/7). “Sekarang yang kita lakukan...

12 Calon Pengantin di Nunukan Terdeteksi Positif Narkoba

Indonesiainside.id, Nunukan - Sebanyak 12 calon pengantin terdeteksi positif menggunakan narkoba setelah dilakukan tes urine oleh Badan Narkotika Nasional Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, sepanjang...

Menteri Luar Negeri Pakistan Positif Covid-19

Indonesiainside.id, Islamabad-- Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mahmood Qureshi hari Jumat (3/7) dinyatakan positif virus corona baru. Menulis di akun twitter, Shah Mahmood mengabarkan...

Berita terkait

Kawin Tangkap: Warisan Tradisi Sumba yang Bikin Perempuan Masa Kini Ketakutan

Sepekan lalu video yang menunjukkan seorang perempuan yang menangis dan berteriak saat digotong oleh sejumlah pria dan dibawa masuk ke satu rumah di Kabupaten...

Menunggu Sikap Tegas ASEAN Hadapi Manuver China di Kawasan Regional

Oleh:Mohammad Anthoni* Indonesiainside.id, Jakarta - Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menyelenggarakan konferensi tingkat tinggi ke-36 secara virtual pada 26 Juni 2020 setelah sebelumnya Vietnam sebagai...

Covid-19 di Jatim Harus Terkendali dalam Dua Pekan, Apa Kata Khofifah dan Risma?

Presiden Joko Widodo telah mengultimatum Pemprov Jawa Timur (Jatim) agar bisa mengendalikan laju penularan Covid-19 dalam dua pekan ke depan. Mantan Wali Kota Solo itu...

RUU HIP Sumber Kegaduhan

Oleh: K.H. Athian Ali M. Da'i, Lc., M.A. Kehadiran RUU HIP benar-benar telah membuat kegaduhan di Negeri ini. Jika saja DPR RI terutama fraksi yang...

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here