Memutus Mata Rantai Covid-19: Haruskah Kita Lari dari Semua Orang?

Warga melintas di dekat pengumuman karantina wilayah di kawasan Tambora, Jakarta, Jumat (3/4/2020) Foto: Antara/Nova Wahyudi

Indonesiainside.id, Jakarta – Virus corona jenis baru atau Covid-19 harus diperangi, dilawan, dan diputus mata rantai penyebarannya. Sejak awal, Pemerintah sudah mengimbau masyarakat Indonesia untuk jaga jarak sosial (social distancing).

Namun, percuma kebijakan social distancing, kalau masyarakat tidak tahu siapa penderitanya. Karena itu, menjelaskan siapa korban itu perlu. Toh, penyakit ini bukan aib yang harus disembunyikan, tetapi harus diobati, penderitanya diisolasi, dan penyebarannya harus dihentikan.

Tanpa pengumuman pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19, siapa saja yang pernah bertemu dengan pasien, dengan siapa kita harus menjaga jarak? Haruskah kita lari dari semua orang padahal belum tentu mereka adalah carrier (pembawa virus corona)?

Bagaimana dengan kaum ibu yang harus belanja setiap hari atau minimal tiga hari sekali? Bagaimana dengan para pedagang atau orang yang harus bekerja dengan tatap muka, tapi ternyata dia adalah carrier? Namun dia juga tidak tahu bahwa dirinya pernah bertemu dengan pasien positif, atau orang yang pernah berhubungan dengan pasien.

Mata rantai inilah yang harus diputus. Namun, harus jelas di mana dan siapa rantainya? Memutus semua rantai yang belum tentu membawa virus, adalah kebijakan yang perlu dikoreksi karena kelangsungan hidup juga harus berlanjut.

Sebuah kesaksian yang perlu kita dengarkan bersama, dari seorang pasien positif Covid-19. Dia adalah mantan Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Sejak awal terkonfirmasi positif, sejak itu pula ia mengumumkan dirinya harus diisolasi dan memang harus dijauhi.

Dia juga meminta semua rekan, sejawat, dan siapa saja yang pernah berinteraksi dengan dirinya, agar memeriksakan diri. Siapa pun itu. Dia memang banyak berinteraksi dengan orang lain dalam tugas kemanusiaan yang ia emban sebagai dokter, dan juga komisaris PT Semen Tonasa.

Pengumuman itu disampaikan oleh anaknya, Ortho Sakti, di laman Facebook, dan dilansir Indonesiainside.id, Rabu (25/3). Di grup WhatsApp, Ortho juga aktif menyampaikan informasi tersebut, agar pihak yang pernah berinteraksi dengan ayahnya segera memeriksakan diri. Baca: Mantan Rektor Unhas Idrus Paturusi Positif Covid-19

Pihak keluarga memohon maaf dan berharap agak sebisa mungkin melakukan physical distancing, memperbaiki imun tubuh, dan memeriksakan diri secepat mungkin. Ini poin di mana masyarakat harus memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Ini juga menjadi pesan bahwa physical distancing terhadap orang yang pernah berinteraksi dengan pasien positif, harus dilaksanakan. Bagi orang yang punya riwayat kontak fisik, saat itu juga harus memeriksakan diri, sekaligus diisolasi. Dijauhi dan menjauhkan diri dari orang lain, termasuk keluarga, hingga keluar hasil uji laboratorium yang mengonfirmasi bahwa dia bebas.

Manfaat pengumuman identitas pasien Covid-19 yang dilakukan Prof  Dr dr Idrus A Paturusi, SpB, SpOT (K) Spine, tersebut membuahkan hasil. Semua orang yang pernah berinteraksi dengan dirinya, melakukan deteksi dini.

Hari ini, Idrus mengumumkan bahwa dirinya, Alhamdulillah, sudah terbebas dari virus ganas tersebut. Dalam sebuah testimoninya di Facebook dan Youtube, dia mengakui bahwa perlu pengumuman identityas pasien positif Covid-19 untuk memutus mata rantai penyebaran virus yang telah menulari 1 juta orang di dunia per hari ini.

Berikut ini potongan pesan yang disampaikan langsung oleh Prof Idrus A Paturusi kepada masyarakat, setelah dinyatakan sembuh atau bebas dari penularan virus corona baru (Covid-19). Baca: 7 Hari Dampingi Suami di Ruang Isolasi, Ini Cerita Istri Mantan Rektor Unhas

“Alhamdulillah. Sebelum saya dinyatakan menderita virus corona baru (Covid-19), mereka tahu saya ada di sebuah kebun. Mereka (Bupati Gowa, Sulsel dan tim medis) datang menyemprot kebun dan memeriksa semua orang yang dipekerjakan (para pekerja kebun) yang pernah konrak (fisik) dengan saya. Ini tindakan yang luar biasa sehingga manfaat dari saya menyatakan, bahwa saya positif itu harus diantisipasi. Saya harapkan bahwa pada sahabat, kepada saudara, kepada siapa saja, yang dinyatkan telah terpapar virus corona baru (Covid-19), mari kita berbesar hati untuk menyampaikan seperti apa yang saya lakukan (mengumumkan telah terkonfirmasi positif virus corona), karena dampaknya sangat besar dan sangat membantu untuk memutuskan mata rantai wabah virus ini.”

Selain Idrus, permintaan Wali Kota Palu, Sulawesi Tengah, Hidayat, agar identitas pasien positif terjangkit virus corona jenis baru (Covid-19) harus diumumkan ke publik perlu kita dukung. Baca: Wali Kota Palu Minta Identitas Pasien Positif Covid-19 Diumumkan ke Publik

Menurut dia, identitas pasien Covid-19 jangan ditutupi. Jika identitasnya ditutup-tutupi, maka akan sangat berbahaya terkait penyebaran Covid-19. Hal itu dia sampaikan saat memimpin rapat penanganan penyebaran Covid-19 bersama sejumlah pihak, di Palu, dikutip dari Antara, Ahad (23/3). (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here