Asa Industri Sawit di Tengah Pandemi Covid-19

Indonesiainside.id, Jakarta – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) mengungkapkan, selama pabrik kelapa sawit (PKS) tidak tutup dan tandan buah segar (TBS) petani masih diterima oleh pabrik, maka perputaran perekonomian industri perkebunan sawit masih berkelanjutan. Menurut Apkasindo masalah harga naik atau turun sekarang itu sudah biasa, dan tidak bisa mengkambing hitamkan juga kondisi pandemi Covid-19.

Sekertaris Jenderal Apkasindo Rino Afrino, mengatakan kelapa sawit tetap dibutuhkan oleh industri makanan dan industri lain. Meskipun serapannya berkurang, akan tetapi itu bagian dari dinamika sebuah industri.

“Kita mempunyai pengalaman harga TBS Rp400 per kilogram (kg) pada tahun 2015, 2018 dan 2019. Sepahit-pahitnya harga TBS itu jatuh ketika itu, di bawah biaya produksi TBS sekitar Rp800 per kg, maka kami memilih opsi tidak memupuk tanaman,” ujar Rino dalam sebuah diskusi daring, pada Jumat (1/5).

Meski pembatasan sosial skala besar (PSBB) dilakukan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, aktivitas di perkebunan kelapa sawit belum menemukan kendala berarti, masih berjalan dengan normal. Kegiatan perawatan kebun, panen hingga mengangkut buah ke PKS masih berjalan normal.

Semua kegiatan tersebut diiringi dengan protokol kesehatan unuk meminimalisir penyebaran Covid-19 tersebut. “Kita melihat temen-temen petani dari Aceh sampai Papua Barat pada umumnya aktivitas perkebunan sawit petani lancar dan baik-baik saja,” kata dia.

Selain itu, pihaknya selalu berkordinasi dengan pemerintah daerah (pemda) agar aktivitas produksi dari kebun hingga pabrik terus berjalan. Seperti pemda Kalimantan Timur, Riau dan Sumatera Selatan telah mengeluarkan surat resminya mengimbau kepada PKS untuk tidak berhenti beroperasi dan terus menerima buah dari petani.

Sementara itu, Peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Ratnawati Nurkhoiry mengungkapkan, harga TBS di tingkat petani masih lumayan tinggi, di Medan Sumatera Utara saat ini sekitar Rp1.600 per kg. Harga sawit tidak jatuh karena karena tertolong oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sekitar Rp15.400, sehingga harga TBS terkerek dan ini sangat membantu petani.

Namun seiring berjalannya waktu, dia memprediksi harga TBS bakal menurun seiring dengan prediksi Kementerian Kesehatan puncak andemi Covid-19 pada Juni mendatang. Dalam sekenario Ratnawati, pada Maret dan April 2020 ada kenaikan produksi sekitar 5 persen.

Baca Juga:  Mardani: Pola Pikir Jokowi Jungkir Balik

Kemudian diprediksi terjadi pelemahan permintaan kurang dari 10 persen, maka harga TBS akan turun menjadi Rp1.400 per kg. “Apabila demand semakin menurun sampai 20 persen, harga TBS akan melemah menjadi Rp1.200 per kg di tingkat petani,” jelas dia.

Ratnawati mengatakan, adanya pandemi Covid-19 mulai terjadi pengurangan aktivitas kegiatan di perkebunan dari pemeliharaan hinga panen. Pekebun mulai melakukan jaga jarak (social distancing), salah satunya pada saat panen memangkas jumlah orang untuk mencegah kerumunan di kebun.

PSBB juga berdampak pada mulai kurangnya ketersediaan pupuk dan pestisida akibat terhambatnya pengirimam ke kebun. “Ini terjadi karena beberapa daerah menerapkan PSBB,” ujar dia.

Dalam penelitiannya, selama pandemi Covid-19 pembelian TBS mulai terganggu karena umumnya pembayaran cash, namun sedikit bergeser sekarang dicicil atau mengalami penundaan. “Nah disini sudah mulai terindikasi bahwa ada kemungkinan cashflow pekebun terganggu,” ungkap dia.

Maka untuk mempertahankan agar cashflow petani dan perusahaan kelapa sawit tidak terus menurun, maka yang dilakukan adalah efisiensi. “Dalam jangka pendek biaya yang paling ditekan yakni pemupukan dan pemeliharaan tanaman,” ungkap Ratnawati.

Ekspor sawit masih terbuka

Pasar ekspor kelapa sawit juga terdampak saat ini karena terjadi penurunan permintaan. Namun pasar Asia menjadi tumpuan seperti Cina yang sudah mulai pulih dari serangan wabah Covid-19.

Ratnawati mengungkapkan, ekspor sawit Indonesia a sebagian besar menyasar negara-negara Asia mencapai 68 persen, sedangkan Uni Eropa itu hanya 14 persen, Afrika 13 persen dan sisanya Amerika Serikat.

Adapun pemyebaran Covid-19 menujukan paling tinggi di Uni Eropa. Sementara Asia terutama negara Cina, Korea Selatan dan Jepang sudah recovery atau pemulihan pasca puncak pandemi pada Januari hingga Februari.

“Bulan Maret mengalami penurunan drastis kasus Covid-19. Artinya Cina sudah melakukan recovery untuk permintaan minyak sawit dari Indonesia,” kata dia.

Di susul India awal bulan Mei negara tersebut berencana mencabut karantina wilayah (lockdown). Imbasnya permintaan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) kembali normal. Adanya lockdown permintaan CPO diperkirakan turun hingga 40 persen.

Baca Juga:  Ahli Virus: Bali Harusnya Masih Lockdown

“Kita juga terbantu oleh kondisi tidak harmonisnya hubungan Malaysia dan India, sehingga importir CPO India lebih memilih Indonesia ketimbang Malaysia. Ini menjadi salah satu kelebihan Indonesia memanfaatkan situasi politik Malaysia,” tambahnya.

Namun ekspor ke eropa yang cukup besar yakni Belanda, Spanyol dan Itali saat ini masih sulit. Kasus Covid-19 di Italia dan Spanyol paling parah di eropa. Meski pasanya disana 14 persen tapi dampaknya cukup lumayan bagi permintaan sawit asalIndnesia.

“Kabar baiknya Italia dan Spanyol sudah mulai membuka sedikit pintu karantina wilayah. Mereka masih membutuhkan minyak sawit tapi berkurang permintaannya. Lockdown artinya tidak berhenti total, tetap ada yang masuk untuk permintaan industri makanan dan restauran di negara-negara tersebut,” ungkap Ratnawati.

Permintaan dalam negeri turun

Adanya kebijakan PSBB untuk memutus penyebaran Covid-19 juga berdampak pada lesunya permintaan minyak sawit dalam negeri. Permintaan rumah tangga berjalan normal namun industri restoran dan hotel melemah akibat efek social distancing, maka serapan minyak sawit untuk industri pangan berkurang,” ungkap Ratnawati.

Kemudian permintaan biodiesel dalam negeri juga berkurang. Menurut dia, ini juga diakibatkan penerapan PSBB berbagai wilayah Indonesia dan larangan mudik. Ini telah mengurangi permintaan biosolar untuk transportasi umum.

Mukti Sardjono Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengungkapkan, hingga kini industri sawit masih berjalan normal. “Kita minta semua anggota Gapki untuk menerapkan protokol Covid-19,” ujar dia kepada Indonesiainside.id, Ahad, (3/5).

Menurut dia, harga maupun ekspor sawit menurun saat ini hal yang wajar dalam perdagangan komoditi. Naik turun dalam perdagangan komoditi sua biasa. “Yang perlu kita cermati sekarang adalah kapan pandemi Covid-19 akan berakhir,” ujar Mukti.

Dia berharap, pandemi ini segera berakhir baik di dalam negeri maupun luar negeri. “Sehingga bisnis kelapa sawit kembali normal,” kata dia. (MSH)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here