Menjadikan Rumah sebagai Benteng Kesehatan

rumah
ilustrasi.

Rumah adalah benteng kesehatan. Ia adalah benteng bagi keluarga dari berbagai serangan penyakit menular termasuk virus corona jenis baru yang tengah mewabah di seluruh dunia saat ini.

Untuk saat ini, tidak ada pencegahan terbaik selain tinggal di rumah dari penularan Covid-19. Terlebih bagi mereka yang rentan akibat penyakit pernapasan, paru-paru, jantung, dan semisalnya.

Penyebaran virus corona jenis baru atau Covid-19 bisa memperparah keadaan.

Namun, bagi orang dengan kondisi kesehatan yang prima, imunitas tubuhlah yang menjadi benteng dari penularan Covid-19. Hanya saja, kelompok ini rentan membawa virus dengan status sebagai orang tanpa gejala. Karena itu, sekali lagi rumahlah yang menjadi benteng untuk kesehatan keluarga, bahkan bagi untuk masyarakat seluruhnya.

Infeksi dari vorus corona menjadi ancaman besar bagi siapa pun. Tetapi ini sangat berbahaya bagi orang-orang yang kesehatannya rentan, bahkan dalam kondisi terbaik sekalipun.

Sebuah penggalan tulisan dikutip dari Stat News, bisa jadi bahan perenungan. Begini kisahnya:

Bagi Andrea Pietrowsky, itu berarti suaminya tidak akan pulang. Anak perempuan pasangan itu, Louisa yang berusia 5,5 tahun, memiliki kondisi jantung dan paru-paru.

Suami Andrea, Tom, adalah ahli gizi di rumah sakit Detroit dan pencari nafkah keluarga. Jika dia mengambil virus di tempat kerja dan tanpa sadar membawanya pulang, dia bisa membuat Louisa sakit.

Dia memutuskan berangkat kerja untuk nafkah keluarga. Namun, dengan rencana tidak akan kembali ke rumah dalam kurun waktu tertentu.

Jika dia pulang sebelum ancaman virus berlalu, Andrea berkata, “itu terlalu berisiko untuk Louisa,” yang menghabiskan tujuh bulan pertama hidupnya di rumah sakit dan terbiasa mengandalkan ventilator untuk bernapas.

Kisah di atas menjadi informasi betapa pentingnya rumah menjadi benteng kesehatan. Memilih tinggal di rumah, atau tidak pulang ke rumah dengan alasan rentan membawa virus.

Baca Juga:  18 Pemain Positif Covid-19, Pertandingan Sepak Bola Pun Batal Digelar

Betapa berat perjuangan bagi tenaga medis yang menangani pasien Covid-19. Mereka harus meninggalkan rumah dan terpisah dari keluarga.

Demi menjaga rumah tangga agar tetap aman dari penyebaran virus. Mereka rela dikarantina untuk menyelamatkan pasien yang ditangani, sekaligus menyelamatkan keluarga dari bahaya virus.

Mulialah para dokter, perawat, dan paramedis, di garda terdepan untuk menjaga jiwa manusia seluruhnya. Bukankah menjaga satu jiwa sama dengan menjaga semuanya? Di dalam Al-Qur’an disebutkan, “membunuh” satu jiwa, sama dengan membunuh semua umat manusia.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Maidah Ayat 32:

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.”

Itulah benteng sesungguhnya dalam menjaga kehidupan manusia. Terkait dengan penyebaran virus corona yang sangat masif dan ganas, maka menjaga jarak, tetap berupaya tinggal di rumah, mencuci tangan, dan mengikuti protokol kesehatan pada dasarnya adalah upaya menjaga kehidupan manusia.

Demikian juga di dalam hadits Nabi SAW. Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Baca Juga:  Tonggak Sejarah Suram Amerika, Infeksi Virus Corona Capai 5 Juta Kasus

المسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ , و المهاجِرَ مَنْ هَجَرَ مَا نهَى اللهُ عَنْهُ

“Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh Allah .” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40 )

Intinya, seorang muslim sejati adalah mereka yang memberikan keselamatan bagi orang lain. Muslim adalah seorang yang menyelamatkan, tidak mencelakakan, membahayakan, dan menyakiti orang lain dengan perbuatan maupun ucapan, terlebih bagi sesama muslim.

Dalam Islam dikenal dengan dharûriyyâtul-khams, yaitu menyangkut lima kebutuhan penting yang wahub dijaga. Apa saja?

Pertama, menjaga agama; kedua menjaga jiwa; ketiga menjaga keturunan; keempat menjaga akal; dan kelima menjaga harta. Menjaga jiwa, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, adalah kewajiban dalam agama.

Karena itu, tidak salah lagi jika kita mengikuti semua anjuran dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19, bahkan dalam ibadah sekalipun. Misalnya, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama, bahwa semua ibadah dilakukan di rumah khususnya umat yang tinggal di zona merah Covid-19.

Shalat wajib, shalat Jumat, Tarawih, dan shalat Idul Fitri, semuanya bisa dilakukan di rumah dalam kondisi darurat terkait wabah Covid-19. Iktikaf hingga takbiran Idul Fitri pun, cukup dilakukan di rumah untuk menghindari perkumpulan sejumlah orang.

Tidak diragukan lagi, bahwa selama masa pandemi Covid-19 ini, rumah adalah benteng untuk menjaga kesehatan sekaligus jiwa manusia seluruhnya. Rumah juga menjadi menjadi benteng untuk meningkatkan ibadah, terlebih di bulan ini.

Buka bersama, shalat berjamaah, tarawih, iktikaf, hingga shalat Idul Fitri pun, dilakukan di rumah bersama keluarga tercinta. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here