Bias dan Salah Kaprah: Ijtima Dunia Zona Asia di Gowa Bukan “Ijtima Ulama”

Ribuan peserta Ijtima Dunia 2020 Zona Asia berkumpul di Gowa, Sulawesi Selatan, Rabu (18/3), saat Indonesia sedang menghadapi wabah virus corona (Covid-19). Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Media memang dibutuhkan untuk akses dan penyebaran informasi bagi publik. Namun, tidak jarang media massa malah menjadi bias informasi karena salah kutip atau kekeliruan baik disengaja atau tidak.

Karena itu, akurasi dan validitas data berdasarkan fakta menjadi rukun wajib dalam membuat berita. Asumsi, vonis tanpa dasar, atau dengan sengaja memutarbalikkan fakta adalah kekeliruan yang harus diluruskan.

Salah satu kekeliruan umum yang sering ditemukan ditemukan khususnya di laman media elekteonik, adalah pemberitaan mengenai klaster Gowa, Sulawesi Selatan. Di sini, banyak media salah kaprah.

Klaster Covid-19 ini sering ditulis bersumber dari anggota pertemuan “Ijtima Ulama” di Gowa. Kegiatan ini digelar di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Rabu malam (18/3/2020).

Namun sekali lagi, penyebutan istilah “Ijtima Ulama” itu salah kaprah. Dalam teori media, ia adalah The Media Bias.

Penyebutan atau penulisan “Ijtima Ulama”, disadari atau tidak,  menjadi stigma buruk bagi umat Islam di mana posisi ulama berperan sebagai panutan umat, tokoh sentral, dan pemimpin keagamaan.

Kalau pun benar bahwa ada fakta “Ijtima Ulama” yang digelar di Gowa sesuai acara yang dimaksudkan, maka ini tentu harus menjadi koreksi bagi para ulama, karena dampaknya sudah sangat meresahkan dengan terjadinya penyebaran Covid-19. Itu kalau faktanya benar ada pertemuan ulama di Pakkatto, Gowa, Rabu malam (18/3/2020).

Namun, kenyataannya tidak demikian. Pada jam yang sama, hari yang sama, dan tempat yang sama, memang ada perkumpulan yang melibatkan ribuan masyarakat dari dalam dan luar negeri. Pertemuan itu bernama “Ijtima Dunia 2020 Zona Asia”, yang dihadiri ribuan anggota jamaah tabligh.

Ijtima‘ artinya pertemuan dalam bahasa Arab. Berasal dari kata ijtama’a yajtami’u yang artinya bertemu. Maka pertemuan adalah ijtimaa’un atau al-ijtima‘. Kata ijtima memang paling sering ditemukan dengan sandingan kata ulama. Biasanya, terkait petemuan penting para ulama untuk membahas masalah penting mengenai maslahat keumatan.

Meski begitu, tidak berarti anggota masyarakat biasa tidak bisa menggunakan istilah “ijtima“. Karena setiap pertemuan, rapat, atau meeting adalah ijtima dalam bahasa Arab. Lebih dari dua orang yang saling bertemu pun bisa disebut ijtima‘.

Nah, acara pertemuan di Gowa itu bukan pertemuan penting para ulama, melainkan pertemuan akbar (besar) di kalangan jamaah tabligh. Peremuan itu dihadiri oleh 411 peserta dari sembilan negara dan lebih 8.000 anggota dari 29 provinsi di Indonesia.

Jamaah tabligh adalah anggota masyarakat biasa yang berhimpun (berserikat) dalam sebuah organisasi dengan tujuan untuk syiar dan dakwah. Pimpinan mereka disebut Amir yaitu pemimpin dalam bahasa Arab.

Kalau pun pertemuan itu dihadiri oleh ulama di kalangan kelompok ini, maka belum tepat juga dikatakan sebagai “Ijtima Ulama” karena yang hadir mayoritas anggota atau pengurus dalam keanggotaan jamaah tabligh.

Penjelasan singkat ini dimaksudkan untuk meluruskan kekeliruan umum yang kerap dikutip di media agar tidak disalahpahmi oleh publik atau pembaca.

Pertama, penyebutan pertemuan itu sebagai “Ijtima Ulama” adalah keliru. Kedua, nama acara itu juga tidak menyebutkan atau mencantumkan kata ulama. Tetapi Ijtima Dunia Zona Asia dan yang hadir adalah anggota Jamaah Tabligh.

Ketiga, dalam pertemuan itu tidak ditemukan kehadiran satu pun ulama dari berbagai daerah, lintas ormas Islam, apalagi ulama sedunia. Ijtima itu murni pertemuan antarjamaah terkait kegiatan rutin yang dikenal dengan khuruj dalam skala besar atau tingkat dunia.

Pertemuan itu juga dibatalkan atau tidak jadi digelar atas kesigapan pemerintah dan stakeholder setempat. Meski sudah terjadi perkumpulan dengan jumlah massa yang besar, setiap anggota jamaah tabligh yang hadir langsung diisolasi, disemprot disinfektan, dan ditangani berdasarkan protokol kesehatan oleh pemerintah setempat.

“Alhamdulillah, pelaksanaan ijtima dunia di Gowa ditunda/dibatalkan. Kita juga sepakat untuk mengisolasi sementara pesertanya dan mengupayakan kepulangannya,” tulis Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan di IG-nya, Rabu malam (18/3), sebagaimana diberitakan Indonesiainside.id.

Pelurusan istilah atau penyebutan “Ijtima Ulama” harus dilakukan untuk menjaga marwah ulama yang oleh Islam disebutkan sebagai pewaris Nabi. Ini juga menjadi bagian dari tanggung jawab umat secara bersama-sama menjaga, saling mengingatkan, dan menghindari pendistorsian istilah yang merugikan.

Pada dasarnya, mengenai penyebutan klaster Covid-19 yang bersumber dari acara-acara keagamaan atau dihadiri atau digerakkan oleh pimpinan dan tokoh agama, tidak berarti mendistorsi atau memojokkan sebuah agama.

Namun perlu kehati-hatian dan pilihan diksi yang tepat untuk menjamin kelangsungan beragama yang menyejukkan, tidak saling curiga, dan tidak menimbulkan kebencian. Sensitivitas dan kepekaan sosial adalah aset bangsa untuk merawat persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Wallahu a’lam. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here