Dari Humanisme Renaisans ke Era Teknologi

Pengajar Ilmu Hukum di Universitas Islam Jakarta H Abustan. Foto: Dok Pribadi

Oleh: DR H Abustan, SH MH

Virus corona dapat dikategoriikan sebagai pelaku yang “jahat” menurut ukuran kemanusiaan. Tak jelas asalnya, mendadak bergerak melululantahkan dunia, merontokkan perekonomian dan mengancam keamanan sosial.

Jika mengambil analogi ada dua orang: antara ibu dan anak dalam suatu bencana, kita harus pilih salah satu untuk diselamatkan menurut penyelamatan dalam bencana. Maka yang dipilih untuk ditolong adalah anaknya. Sementara bunya dikorbankan. Pilihan itu memang sangat terbatas dan harus dipilih salah satunya.

Analogi itu sama dengan bencana Covid-19. Pilihan hanya dua: kesehatan atau ekonomi. Kalau pilih kesehatan yang diselamatkan yang jadi korban ekonominya hancur. Dampaknya, generasi muda menjadi tak produktif sementara masa depannya suram.

Akan tetapi, jika pilih ekonomi yang diselamatkan, maka kesehatan akan hancur, Covid-19 makin merajalela, yang jadi korban adalah lansia (lanjut usia) yang secara statistik memang jumlahnya kecil.

Menurut hukum penyelamatan bencana, kita harus pilih selamatkan yang muda karena populasinya lebih besar. Jadi, konklusinya pilihan yang tepat adalah menyelamatkan ekonomi dari pada kesehatan. Kira-kira itulah kalkulasinya, sehingga kebijakan yang tepat bukan lockdown (karantina total).

Sesungguhnya, wabah ini merupakan siklus kehidupan manusia dari perputaran waktu yang ada (zaman). Terbukti, wabah mengerikan itu terpatri dalam benak mereka yang bisa selamat.

Salah satunya, Francesco Petrarca (1304-1374). Ia menemukan pencerahan dari tulisan-tulisan klasik tentang situasi diri dan masyarakat yang tengah krisis. Petrarca banyak belajar dari pemikir zaman romawi kuno. Pergumulan ide-ide itu mewarnai karya-karyanya dan menjadi inspirasi yang lahir pada era renaisans .

Bahkan, Petrarca lewat karya-karyanya berhasil menghidupkan mimpi pemikir besar Cicero (106-43 SM) soal masyarakat yang warganya terlibat aktif terkait urusan-urusan bersama.

Catatan sejarah renaisans itu, melahirkan pertanyaan tentang peran pendidikan di tengah teror wabah ini: bagaimana memaknai pendidikan sebagai jalan membangun kemanusiaan, lewat berbagai riset sehingga menemukan sesuatu yang berharga bagi kehidupan manusia.

Dibandingkan dengan zaman renaisans, kini kita memiliki tehnologi komunikasi yang memungkinkan berbagai bentuk akses keterhubungan di tengah keterpisakan fisik (physikal distancing).

Maka, dari berbagai kesulitan yang ada, kita harus yakin bahwa manusia dan tantangan otoritas alam seperti virus corona akan diselesaikan dengan kendali rasionalitas ilmu pengetahuan. Di masa lalu, ketidakmengertian tentang duduk perkara pandemi, sehingga seringkali dialihkan penyebabnya ke hal-hal yang gaib (mistik).

Di era tehnologi sekarang, kemajuan ilmu pengetahuan diharapkan manusia berhasil menaklukkan pandemi. Apalagi di bulan Ramadhan yang mulia, Allah SWT menurunkan wahyu pertama Al-Qur’an, adalah iqra (bacalah). Karena itu, kita bisa memetik hikmah untuk belajar lagi tentang alam.

Alhasil, agama dan ilmu pengetahuan memang dua hal yang tak terpisahkan. Seperti kata Albert Eistein : ilmu pengetahuan tanpa agama akan lumpuh dan agama tanpa ilmu pengetahuan buta.

Selamat menjalankan ibadah puasa di penghujung Ramadhan. Mohon maaf lahir batin. #ibadahdirumah (Aza)

* Pengajar Ilmu Hukum di Universitas Islam Jakarta

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here