Renungan Malam, Ringan dan Sederhana: Cukuplah, tuk Hardik Titah Langit

Pegiat Sosial & Koordinator Rumah Produktif Indonesia Perwakilan Sulawesi Barat, Abdullah Sartono. Foto. Dok Pribadi

Oleh: Abdullah Sartono

Ada masanya orang akan bersepakat pada perkara yang mereka anggap aneh, asing dan absurd sebelumnya. Itu sudah menjadi maklum. Karena sejarahnya selalu berulang setiap masa, juga terjadi pada beberapa periodesasi peradaban manusia. Ini Fakta dan benar adanya!

Contoh, dulu orang ribut soal cadar, mengatur, membatasi bahkan hampir melarang pemakaiannya di instansi resmi pemerintahan. Sekarang justra negara melalui tim penanganan Covid-19, semua manusia, agama, ras, golongan, dan jenis kalamin, diminta “bercadar” alias memakai masker, juga jaga jarak. Walau terkadang orang merasa dipaksa. Ini aturan!

Ada kondisi tertentu di mana sebuah persoalan dan kondisi hingga penghuni planet bumi ini harus melakukan segala sesuatu sebagai alasan dan syarat untuk kemaslahatan, menyelamatkan diri dan alam, yang kadang dianggap gila, tidak logis atau kurang masuk secara akal sehat.

Semoga saja tidak diberikan ‘Iqob (sanksi berat) yang sepadan bagi alam dan penduduk planet besar bumi ini dari Tuhan, Allah SWT, jika nanti sebagian orang harus fobia, merasa tidak nyaman dengan cara beragama orang lain apalagi menghujat simbol – simbol agama tertentu yang diakui oleh negara. Negeri yang penduduknya sangat toleran dan menghargai banyak perbedaan selama ini. Itu diakui oleh sejarah dan peradaban bangsa lain.

Jangan sampai kepentingan segelintir orang, memaksa. Juga menjadi alasan dibuatnya aturan oleh Sang Kuasa yang membuat sakit hati orang banyak. Janganlah karena kebancianmu, membuatmu tidak berlaku adil pada golongan lain. Ini pesan langit. Cukuplah, tuk menghardik titah langit!

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here